Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu dalam membina dan memperbaiki dirinya. Adab-adab tersebut merupakan landasan awal agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dan diamalkan dengan baik. Pada bagian ini, akan dilanjutkan pembahasan adab-adab lain yang berkaitan erat dengan penjagaan diri, baik dari sisi lahir maupun batin, agar penuntut ilmu mampu menjaga kesucian hatinya serta keberkahan ilmunya.
- Makan Secukupnya dari yang Halal
Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga makan dan minumnya, baik dari segi kehalalan maupun kadarnya. Makanan yang halal dan thayyib memiliki pengaruh besar terhadap kejernihan hati dan kemudahan dalam memahami ilmu. Oleh karena itu, penuntut ilmu dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam makan, melainkan sekadar mencukupi kebutuhan tubuhnya.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surat Al-A‘raf ayat 31:
كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ
Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan.”
Adapun makna secukupnya dalam hal ini adalah tidak melampaui batas kebutuhan, serta tidak menjadikan makan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk menguatkan tubuh dalam ketaatan dan menuntut ilmu. Imam Ibn Jamā‘ah menjelaskan bahwa berlebihan dalam makan dapat mengeraskan hati, melemahkan semangat ibadah, dan mengurangi ketajaman akal. Karena ilmu adalah cahaya, maka tidak pantas cahaya tersebut diletakkan pada hati yang dipenuhi kelalaian dan syahwat.
- Menjaga Diri dengan Menerapkan Sikap Wara’ dalam Segala Urusan
Wara’ adalah menjahui perkara yang syubhat karna takut terjatuh dalam perkara yang haram. Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga dirinya dengan menerapkan sikap wara’ dalam seluruh urusan hidupnya, baik yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, ucapan, maupun pergaulan sehari-hari. Termasuk dalam sikap wara’ adalah menjaga agar makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal yang digunakan berasal dari perkara yang halal dan bersih dari unsur yang haram maupun syubhat.penuntut ilmu yang menjaga kehalalan dalam seluruh kebutuhannya akan lebih mudah meluruskan niat, menjaga kesucian hati, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.
- Memperhatikan dan Menjaga Kesehatan Tubuh
Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan dan menjaga kesehatan tubuhnya, karena tubuh merupakan sarana utama dalam menuntut ilmu dan beribadah. Hal ini dilakukan dengan mengatur pola makan yang baik, mengonsumsi makanan yang sehat dan tidak berlebihan, serta mengatur waktu tidur dan istirahat yang cukup agar tubuh tetap kuat dan otak dapat berfungsi dengan optimal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“إن لجسدك عليك حق”
Artinya: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. al-Bukhārī).
Oleh karena itu, tidak mengapa bagi seorang penuntut ilmu untuk mengistirahatkan pikiran, hati, akal, dan tubuhnya ketika lelah, selama hal tersebut dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan, serta kembali dengan semangat dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
- Meninggalkan Pergaulan yang Melalaikan dan Memilih Teman yang Shalih
Seorang penuntut ilmu hendaknya menjauhi pergaulan yang melalaikan dari mengingat Allah dan menuntut ilmu, karena pergaulan semacam ini dapat mengeraskan hati dan menyia-nyiakan waktu. Terlebih lagi pergaulan dengan lawan jenis yang tidak terjaga batasannya, karena hal tersebut dapat membuka pintu fitnah dan melemahkan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, penuntut ilmu dianjurkan untuk selektif dalam bergaul dan memilih teman.
Apabila memilih teman, hendaklah memilih teman yang shalih, bertakwa, dan berakhlak baik, yaitu teman yang apabila kita lalai ia mengingatkan, apabila kita salah ia menasihati, dan apabila kita lemah ia menguatkan. Sebaliknya, kesalahan dalam memilih teman tidak akan mendatangkan apa-apa selain keburukan, karena teman yang buruk dapat menyeret kepada kelalaian dan maksiat.
Demikianlah sebagian adab yang hendaknya dijaga oleh seorang penuntut ilmu terhadap dirinya. Adab-adab ini bukan sekadar pelengkap dalam perjalanan menuntut ilmu, tetapi merupakan pondasi yang akan menentukan keberkahan dan kemanfaatan ilmu tersebut. Betapa banyak orang yang memiliki keluasan pengetahuan, namun sedikit keberkahan karena lalai dalam menjaga adabnya.
Menuntut ilmu bukan hanya tentang mengisi akal dengan pemahaman, tetapi juga tentang membersihkan hati, meluruskan niat, serta mendidik diri agar semakin dekat kepada Allah Ta‘ālā. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga dirinya dari kelalaian dan maksiat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dimudahkan dalam menuntut ilmu, dihiasi dengan adab yang baik, serta diberi keberkahan dalam setiap huruf yang dipelajari dan diamalkan. Aamiin.
Referensi :
- Ibn Jamā‘ah, Badr al-Dīn Muḥammad ibn Ibrāhīm. Sharḥ Tadhkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim fī Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta‘allim. Edited by Ṣāliḥ ibn ‘Abd Allāh ibn Ḥamd al-‘Uṣaymī. Cairo: Dār al-Hijrah, 1st ed.
Penulis : A zizah Fii Ahliha
Pembimbing : Fikrina Aliya Budianna, S.H.

