Inna Wa Akhowatuha

Reading Time: 2 minutes

Assalaamu‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, Sobat Fahimna!

Dalam belajar bahasa Arab, kita sering menjumpai kata إنَّ dan saudara-saudaranya di berbagai bentuk kalimat. 

Sebenarnya apa yang dimaksud ya? Dan apakah ada kaidahnya? Yuk kita pelajari sama-sama!

Semoga dengan mempelajari ini, kita bisa semakin teliti dalam membaca, memahami, dan menyusun kalimat bahasa Arab dengan baik.

 

إنَّ وأخواتها: Pengertian, Kaidah, dan Contohnya

Dalam ilmu nahwu, terdapat huruf-huruf yang disebut  الحروف الناسخة (huruf yang mengubah hukum mubtada dan khabar). Salah satunya adalah إنَّ dan saudara-saudaranya.

Huruf-huruf ini berjumlah enam, yaitu:

إِنَّ ، أَنَّ ، لَيْتَ ، لَعَلَّ، لَكِنَّ، كَأَنَّ.

Fungsi utamanya adalah menashabkan mubtada (menjadikannya isim) dan merafa’kan khabar. Karena itu, amalnya disebut kebalikan dari كان, yang justru merafa’kan mubtada dan menashabkan khabar.

Contoh:

 اللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ  Menjadi = إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Makna Masing-masing Huruf

Setiap huruf memiliki makna khas yang biasanya dominan dalam penggunaannya.

• إِنَّ و أَنَّ : berfungsi sebagai penegasan (taukid).

Yaitu menguatkan hubungan khabar dengan mubtada dan menghilangkan keraguan.

Contoh: إِنَّ الطَالِبَ قَائِمٌ

“Sesungguhnya murid itu berdiri.”

• لَيْتَ : berfungsi sebagai harapan (tamanni)

Yaitu menunjukkan angan-angan terhadap sesuatu yang sulit atau mustahil terjadi.

Contoh: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ

“Andai masa muda kembali.”

• لَعَلَّ : berfungsi sebagai harapan atau kekhawatiran.

– Contoh harapan: لَعَلَّ المَرِيْضَ يَشْفَى

“Semoga orang sakit itu sembuh.”

– Contoh kekhawatiran: لَعَلَّ العَدُوَّ قَادِمٌ

“Mungkin musuh akan datang.”

•لكنَّ : berfungsi sebagai istidrak.

yaitu mengoreksi atau mengecualikan pemahaman sebelumnya.

Contoh : الإِخْوَةُ كَثِيْرُوْنَ، لَكِنَّ الأَوْفِيَاءَ قَلِيْلُوْنَ

“Saudara banyak, tetapi yang setia sedikit.”

• كأنَّ : berfungsi sebagai penyerupaan (tasybih)

Contoh : كَأَنَّ المُعَلِّمَ أَبٌ

“Seakan-akan guru adalah ayah.”

 

Khabar إنَّ dan Aturan Susunannya

Khabar dari huruf-huruf ini ada dua jenis:

  1. Khabar berupa mufrad (kata tunggal) atau jumlah (kalimat).

Jenis ini tidak boleh didahulukan sebelum isim.

– Contoh mufrad : إنَّ الحَيَاةَ جِهَادٌ

“Sesungguhnya hidup adalah perjuangan.”

– Contoh Jumlah : ٌإِنَّ الإِسْلَامَ آدابُهُ عَالِيَة

“Sesungguhnya Islam itu adab-adabnya tinggi”

  • Khabar berupa syibhul jumlah (jar-majrur atau zharf)

Jenis ini memiliki tiga kemungkinan hukum:

  • Wajib didahulukan, misalnya jika isim mengandung kata ganti yang kembali kepada khabar.

Contoh : إنَّ في الفصلِ طلابَهُ

“Sesungguhnya di kelas ada murid-muridnya.”

Contoh dalam Al-Qur’an: إِنَّ لَدَيْنَا أَنكَالًا

“Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu.”

  • Wajib diakhirkan, jika ada penghalang seperti lam الابتداء.

Contoh : إِنَّ السَعَادَةَ لَفِيْ العَمَلِ الصَالِحِ

“Sesungguhnya kebahagiaan benar-benar berada dalam amal saleh.”

  • Boleh didahulukan atau diakhirkan, selama tidak ada sebab yang mengharuskan salah satunya.

Contoh : إِنَّ العِزَّ فِيْ طَاعَةِ اللهِ

“Sesungguhnya kemuliaan ada dalam ketaatan kepada Allah.”

Rujukan :

1. Abdullah al-Fauzan, Dalīl al-Sālik Syarḥ Alfiyyah Ibnu Mālik (Riyadh: Dar al-Muslim, 2005), hlm. 241–245, bab “Amal Inna wa Akhawātuhā” dan “Taqdīm al-Khabar fī Hāżā al-Bāb”.

2.Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan, Mukhtar al-Tahir Husain, dan Muhammad ‘Abdul Khaliq Muhammad Fadl, Al-‘Arabiyyah Baina Yadaik, Jilid 3 (Riyadh: Arabic For All), hlm. 17.

 

Penulis: Siti Amirah Syakirah

Pembimbing: Ustaz Qozwaini