Assalaamu‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, Sobat Fahimna!
Dalam belajar bahasa Arab, kita sering menjumpai kata إنَّ dan saudara-saudaranya di berbagai bentuk kalimat.
Sebenarnya apa yang dimaksud ya? Dan apakah ada kaidahnya? Yuk kita pelajari sama-sama!
Semoga dengan mempelajari ini, kita bisa semakin teliti dalam membaca, memahami, dan menyusun kalimat bahasa Arab dengan baik.
إنَّ وأخواتها: Pengertian, Kaidah, dan Contohnya
Dalam ilmu nahwu, terdapat huruf-huruf yang disebut الحروف الناسخة (huruf yang mengubah hukum mubtada dan khabar). Salah satunya adalah إنَّ dan saudara-saudaranya.
Huruf-huruf ini berjumlah enam, yaitu:
إِنَّ ، أَنَّ ، لَيْتَ ، لَعَلَّ، لَكِنَّ، كَأَنَّ.
Fungsi utamanya adalah menashabkan mubtada (menjadikannya isim) dan merafa’kan khabar. Karena itu, amalnya disebut kebalikan dari كان, yang justru merafa’kan mubtada dan menashabkan khabar.
Contoh:
اللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ Menjadi = إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Makna Masing-masing Huruf
Setiap huruf memiliki makna khas yang biasanya dominan dalam penggunaannya.
• إِنَّ و أَنَّ : berfungsi sebagai penegasan (taukid).
Yaitu menguatkan hubungan khabar dengan mubtada dan menghilangkan keraguan.
Contoh: إِنَّ الطَالِبَ قَائِمٌ
“Sesungguhnya murid itu berdiri.”
• لَيْتَ : berfungsi sebagai harapan (tamanni)
Yaitu menunjukkan angan-angan terhadap sesuatu yang sulit atau mustahil terjadi.
Contoh: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ
“Andai masa muda kembali.”
• لَعَلَّ : berfungsi sebagai harapan atau kekhawatiran.
– Contoh harapan: لَعَلَّ المَرِيْضَ يَشْفَى
“Semoga orang sakit itu sembuh.”
– Contoh kekhawatiran: لَعَلَّ العَدُوَّ قَادِمٌ
“Mungkin musuh akan datang.”
•لكنَّ : berfungsi sebagai istidrak.
yaitu mengoreksi atau mengecualikan pemahaman sebelumnya.
Contoh : الإِخْوَةُ كَثِيْرُوْنَ، لَكِنَّ الأَوْفِيَاءَ قَلِيْلُوْنَ
“Saudara banyak, tetapi yang setia sedikit.”
• كأنَّ : berfungsi sebagai penyerupaan (tasybih)
Contoh : كَأَنَّ المُعَلِّمَ أَبٌ
“Seakan-akan guru adalah ayah.”
Khabar إنَّ dan Aturan Susunannya
Khabar dari huruf-huruf ini ada dua jenis:
- Khabar berupa mufrad (kata tunggal) atau jumlah (kalimat).
Jenis ini tidak boleh didahulukan sebelum isim.
– Contoh mufrad : إنَّ الحَيَاةَ جِهَادٌ
“Sesungguhnya hidup adalah perjuangan.”
– Contoh Jumlah : ٌإِنَّ الإِسْلَامَ آدابُهُ عَالِيَة
“Sesungguhnya Islam itu adab-adabnya tinggi”
- Khabar berupa syibhul jumlah (jar-majrur atau zharf)
Jenis ini memiliki tiga kemungkinan hukum:
- Wajib didahulukan, misalnya jika isim mengandung kata ganti yang kembali kepada khabar.
Contoh : إنَّ في الفصلِ طلابَهُ
“Sesungguhnya di kelas ada murid-muridnya.”
Contoh dalam Al-Qur’an: إِنَّ لَدَيْنَا أَنكَالًا
“Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu.”
- Wajib diakhirkan, jika ada penghalang seperti lam الابتداء.
Contoh : إِنَّ السَعَادَةَ لَفِيْ العَمَلِ الصَالِحِ
“Sesungguhnya kebahagiaan benar-benar berada dalam amal saleh.”
- Boleh didahulukan atau diakhirkan, selama tidak ada sebab yang mengharuskan salah satunya.
Contoh : إِنَّ العِزَّ فِيْ طَاعَةِ اللهِ
“Sesungguhnya kemuliaan ada dalam ketaatan kepada Allah.”
Rujukan :
1. Abdullah al-Fauzan, Dalīl al-Sālik Syarḥ Alfiyyah Ibnu Mālik (Riyadh: Dar al-Muslim, 2005), hlm. 241–245, bab “Amal Inna wa Akhawātuhā” dan “Taqdīm al-Khabar fī Hāżā al-Bāb”.
2.Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan, Mukhtar al-Tahir Husain, dan Muhammad ‘Abdul Khaliq Muhammad Fadl, Al-‘Arabiyyah Baina Yadaik, Jilid 3 (Riyadh: Arabic For All), hlm. 17.
Penulis: Siti Amirah Syakirah
Pembimbing: Ustaz Qozwaini

