Dalam realitas dakwah, tantangan tidak hanya hadir dalam bentuk penolakan terbuka, tetapi juga berupa kelelahan batin, tekanan psikologis, serta ujian keikhlasan yang kerap tidak tampak di permukaan. Seorang da‘i tidak hanya dituntut untuk menyampaikan kebenaran dengan lisan, tetapi juga menjaga keteguhan hati dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan metode dan strategi dakwah, tetapi juga terlebih dahulu menekankan pentingnya pembinaan ruhani bagi da‘i itu sendiri.
Dakwah merupakan amanah berat yang menuntut kesiapan spiritual, keteguhan jiwa, dan kesabaran. Karena itu, sebelum Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk menghadapi masyarakat secara langsung, Allah ﷻ terlebih dahulu membina dan menguatkan beliau melalui ibadah. Bimbingan ilahi ini tergambar jelas dalam Surah Al-Muzzammil ayat 1–10 yang memuat perintah qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an dengan tartil, zikir, serta penguatan tauhid dan kesabaran sebagai fondasi dakwah.
Dalam konteks dakwah masa kini, terdapat kecenderungan untuk menitikberatkan aspek teknis dan metodologis, seperti penguasaan media, retorika, dan strategi komunikasi. Meskipun aspek-aspek tersebut memiliki urgensi, penekanan yang berlebihan kerap tidak diimbangi dengan pembinaan ruhani yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit da‘i yang mengalami kelelahan mental, menurunnya ketenangan batin, bahkan krisis keikhlasan ketika berhadapan dengan kritik, tekanan publik, serta realitas dakwah yang tidak selalu ideal.
Situasi ini menunjukkan bahwa pembinaan ruhani bukan sekedar aspek pelengkap, melainkan kebutuhan mendasar dalam dakwah. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pembinaan ruhani da‘i sebelum terjun ke ruang publik menjadi sangat relevan untuk dikaji. Surah Al-Muzzammil ayat 1–10 memberikan kerangka konseptual yang mendasar tentang bagaimana Allah ﷻ mempersiapkan Rasulullah ﷺ secara ruhani sebelum mengemban amanah dakwah yang berat. Kajian terhadap ayat-ayat ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam sekaligus menawarkan implikasi praktis bagi para da‘i masa kini dalam menjaga keteguhan jiwa, keikhlasan, dan keberlanjutan perjuangan dakwah.
Tafsir Ayat 1–10 Surah Al-Muzzammil
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ١ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ٢ نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ٣ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ٤ إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ٥ إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا ٦ إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا ٧ وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا ٨ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا ٩ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا ١٠
(QS. Al-Muzzammil [73]: 1–10).
Pada awal surah ini, Allah ﷻ berfirman: “Yāayyuhal–muzzammil.” Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa‘di رحمه الله menjelaskan bahwa al-Muzzammil berarti orang yang menyelimuti tubuhnya dengan pakaian, semakna dengan al-Muddatstsir. Panggilan ini merujuk pada keadaan Rasulullah ﷺ pada awal kenabian ketika beliau pertama kali menerima wahyu melalui Malaikat Jibril.
Peristiwa tersebut begitu berat sehingga Rasulullah ﷺ gemetar dan kembali seraya berkata, “Selimutilah aku.” Ketika Jibril memerintahkan beliau untuk membaca, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa beliau tidak dapat membaca. Lalu Jibril memeluk beliau dengan erat dan menyampaikan wahyu kepadanya. Setelah itu, Allah ﷻ meneguhkan hati Rasulullah ﷺ dan melanjutkan penurunan wahyu hingga beliau mencapai keteguhan dan kesiapan yang sempurna dalam memikul risalah. Oleh karena itu, Allah ﷻ memanggil beliau dengan sifat al-Muzzammil, sesuai dengan keadaan beliau pada permulaan kenabian.
Pada ayat 2 dan 3, Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bangun di malam hari dan melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) dengan kadar waktu setengah malam, kurang sedikit darinya—misalnya sepertiga malam—atau lebih sedikit darinya, yakni sekitar dua pertiga malam. Para ulama menjelaskan bahwa perintah qiyamul lail bersifat wajib setelah turunnya ayat ini. Sungguh, orang-orang beriman pada masa itu melaksanakan shalat bersama Rasulullah ﷺ hingga kaki mereka bengkak dan tubuh mereka letih berdiri.
Kemudian, Allah mengganti ketentuan tersebut dengan firman-Nya di akhir surah: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri kurang dari dua pertiga malam, setengahnya, atau sepertiganya, dan demikian pula segolongan orang yang bersamamu …” sampai firman-Nya: “Dia mengetahui bahwa kamu tidak akan mampu melakukannya, maka Dia memberi keringanan kepadamu. Bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an …” Ibn ‘Abbās berkata bahwa terdapat jarak waktu satu tahun antara awal kewajiban ini dan naskh (penggantian hukum) tersebut (Al-Fath ar-Rāzī, jilid 8, hlm. 223; Al-Masīr, jilid 8, hlm. 289; Al-Qurṭubī, jilid 20)
Pada ayat keempat, Allah ﷻ menekankan perintah membaca Al-Qur’an dengan tartīl. Menurut Ibn Katsīr, tartīl berarti membaca Al-Qur’an secara perlahan, memperhatikan kejelasan makhraj dan kaidah tajwid, serta menghayati dan mentadabburi makna.
Pada ayat kelima, Allah ﷻ menyatakan bahwa Dia akan menurunkan kepada Rasulullah ﷺ qawlan tsaqīla, yaitu Al-Qur’an. Dikatakan berat karena memuat kewajiban, batasan, hukum, etika, dan sebagainya.
Pada ayat keenam, Allah ﷻ berfirman bahwa bangun pada waktu malam lebih tepat untuk menghadirkan kekhusyukan, dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan. Artinya, ibadah pada waktu malam memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap jiwa; qiyamul lail lebih berkesan dalam hati dan lisan serta lebih meresap ketika membaca Al-Qur’an.
Selanjutnya, ayat ketujuh menjelaskan bahwa pada waktu siang Rasulullah ﷺ disibukkan dengan berbagai urusan kehidupan, yaitu memenuhi kebutuhan.
Pada ayat kedelapan dan kesembilan, Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk senantiasa menyebut dan mengingat-Nya, memurnikan penghambaan hanya kepada-Nya, serta menjadikan-Nya sebagai satu-satunya tempat bersandar.
Adapun pada ayat kesepuluh, Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bersabar atas perkataan orang-orang yang mendustakannya dari kalangan kaumnya yang bodoh, serta menjauhi mereka dengan cara yang baik sesuai dengan kemaslahatan, tanpa menimbulkan gangguan.
Bekal Ruhani Da‘i: Qiyamul Lail, Tilawah, Tauhid, dan Tawakkal
Surah Al-Muzzammil ayat 1–10 merekam fase awal pembinaan Rasulullah ﷺ sekaligus menghadirkan prinsip mendasar dalam pembentukan kepribadian seorang da‘i. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa sebelum dakwah dihadapkan pada ruang publik dengan segala kompleksitasnya, Allah ﷻ terlebih dahulu menyiapkan Rasul-Nya melalui pembinaan ruhani yang mendalam. Prinsip ini tidak hanya relevan pada fase awal kenabian, tetapi juga kontekstual bagi da‘i di setiap zaman. Dalam realitas kontemporer, tantangan dakwah tidak lagi terbatas pada penolakan verbal atau tekanan fisik, melainkan meluas ke ranah ideologis, arus informasi yang masif, polarisasi sosial, serta tuntutan profesionalisme yang tinggi. Kondisi tersebut menuntut kesiapan ruhani dan mental agar dakwah tidak terjerumus ke dalam kelelahan emosional, kehilangan orientasi, atau krisis keikhlasan.
Perintah qiyamul lail (shalat malam) dalam Surah Al-Muzzammil menegaskan bahwa kekuatan dakwah tidak bermula dari ruang publik, melainkan dari ruang sunyi antara hamba dan Tuhannya. Ibadah malam menjadi sarana utama pembentukan keteguhan batin, kejernihan hati, dan kestabilan emosi. Seorang da‘i yang membiasakan qiyamul lail akan memiliki kedalaman ruhani yang menopang sikapnya dalam menghadapi dinamika dakwah yang kompleks. Dari ruang sunyi inilah lahir ketenangan jiwa yang memungkinkan da’i bersikap proporsional, tidak reaktif, dan tetap istiqamah di tengah tekanan eksternal.
Selain qiyamul lail, penekanan pada tilawah Al-Qur’an secara tartil menunjukkan bahwa pembinaan ruhani juga mencakup pembentukan cara pandang dan orientasi hidup. Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai rutinitas ibadah, tetapi dihadirkan sebagai sumber nilai, kerangka berpikir, dan pedoman bersikap. Dakwah yang kuat tidak dapat dibangun di atas aktivisme yang miskin kedalaman ruhani dan keilmuan. Keterhubungan yang intens dengan Al-Qur’an menjadikan da‘i memiliki pijakan nilai yang kokoh sehingga dakwah tidak mudah terombang-ambing oleh pragmatisme, popularitas, atau tekanan opini publik.
Surah Al-Muzzammil juga menegaskan tauhid dan tawakkal sebagai fondasi utama dalam menghadapi realitas dakwah yang penuh tantangan. Da‘i kerap dihadapkan pada kritik, perbedaan pendapat, bahkan penolakan keras. Dalam situasi tersebut, perintah untuk memperbanyak dzikir, menyerahkan urusan sepenuhnya kepada Allah ﷻ, serta bersabar atas ucapan manusia menjadi panduan etis yang menjaga kemurnian niat dan keluhuran akhlak. Prinsip hajran jamīlā mengajarkan sikap menjaga jarak secara elegan dan bermartabat tanpa permusuhan serta tanpa kehilangan ketegasan nilai.
Dengan demikian, Surah Al-Muzzammil ayat 1–10 menghadirkan kerangka pembinaan ruhani da‘i yang utuh dan berimbang, memadukan kekuatan ruhani, kedalaman intelektual, dan kematangan akhlak. Pembinaan ini menjadi fondasi penting agar dakwah tidak sekadar tampil sebagai aktivitas sosial atau gerakan lahiriah, tetapi berakar sebagai jalan penghambaan kepada Allah ﷻ. Inilah bekal utama yang menjadikan da‘i tetap kokoh, ikhlas, dan istiqamah dalam menghadapi perubahan zaman dan dinamika dakwah yang terus berkembang.
Keseluruhan rangkaian ayat ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas lisan dan sosial, melainkan amanah besar yang menuntut kesiapan ruhani dan keteguhan jiwa. Sebelum Rasulullah ﷺ dihadapkan pada realitas dakwah yang berat, Allah ﷻ terlebih dahulu membina beliau melalui qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an dengan tartil, dzikir, serta penguatan tauhid dan kesabaran. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan dakwah sejati berakar dari kedalaman hubungan seorang da‘i dengan Rabb-nya, yang dibangun melalui ibadah dan penghambaan yang konsisten.
Bagi da‘i masa kini, ayat-ayat ini menjadi pengingat bahwa pembinaan ruhani bukan aspek pelengkap, melainkan fondasi utama agar dakwah tetap berjalan dengan keikhlasan, ketenangan, dan keberlanjutan di tengah tekanan zaman. Semoga Allah ﷻ memberikan kekuatan dan keteguhan kepada para da‘i untuk senantiasa menjaga keikhlasan, ketenangan, dan akhlak mulia dalam setiap langkah dakwah yang ditempuh. Āmīn.
Referensi :
- Al‑Mukhtashar fī Tafsīr al‑Qur’ān al‑Karīm, disusun oleh jama’ah ulama tafsir. Markaz Tafsir li Dirāsāt al‑Qur’āniyyah, Riyadh (1439).
- Tafsir as‑Sa‘dī, Tafsīr Surah Al‑Muzzammil (Ayat 1–5).
- Ibn Kathir, Tafsīr al‑Qur’ān al‑‘Aẓīm: Tafsir Surah Al‑Muzzammil Ayat 1–9. Diakses pada 28 Januari 2026, dari https://tafsirweb.com/11498-surat-al-muzzammil-ayat-2.html?utm_source=chatgpt.com
Penulis : Sri Wulandari
Pembimbing : Ustaz Sabilul Muhtadin, Lc., M.H.

