Seorang penuntut ilmu memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmu, sesorang dapat memahami kemulian dan kebesaran-Nya. Allah ta’ala berfirman:
… يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيرٌ
Artinya:”… niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al-Mujadalah:11)
Dengan berbagai keutamaan tersebut, seorang penuntut ilmu tidak hanya terbatas pada belajar, tapi juga memperhatikan adab sebagai penuntut ilmu, mulai dari kepada guru hingga dirinya sendiri.
Dalam beberapa tahun belakang, kita lihat seorang penuntut ilmu semakin kehilangan jati dirinya, dan jauh dari akhlak terpuji. diantaranya peristiwa pada 9 November 2025, dilansir dari KOMPASTV JATIM, bawasannya seorang guru di Trenggalek dianiaya oleh kakak siswi usai memberikan teguran di sekolah. Fenomena ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pengaruh televisi, internet, hingga medsos yang tigak digunakan secara bijak, serta minimnya pendidikan adab dari lingkungan keluarga.
Oleh karena itu, pentingnya belajar adab sebelum ilmu bagi seorang penuntut ilmu tidak dapat dipungkiri. Diantara adab seorang penuntut ilmu kepada dirinya sendiri adalah sebagai berikut:
1. Membersihkan hati dari segala penyakit hati
Seorang penuntut ilmu hendaknya membersihkan hati dari segala penyakit hati seperti hasad, dengki, khianat, dan akidah yang rusak. Tujuannya agar hati mudah menerima ilmu dan mampu menjaganya, karena ilmu adalah ibadah hati dan hati juga tempat bersemayamnya.
Sebagaimana ibadah yang tidak diterima ketika tidak melakukan thaharah, demikian juga ilmu, tidak akan bermanfaat kecuali setelah hati dibersihkan dari kotoran maksiat dan penyakit hati.
Apabila hati bersih dan baik, maka ilmu akan menjadi berkah dan tumbuh di dalamnya, hal ini terlihat dari bagaimana ilmu akan diamalkan. Sebagaimana tanah yang subur apabila ditanami akan tumbuh tanaman yang baik dan segar.
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
الْقَلْبُ مَلِكٌ وَالْأَعْضَاءُ جُنُودُهُ فَإِذَا طَابَ الْمَلِكُ طَابَتْ جُنُودُهُ وَإِذَا خَبُثَ الْمَلِكُ خَبُثَتْ جُنُودُهُ
Artinya: “Hati ibarat raja dan anggota tubuh adalah bala tentaranya. Jika baik rajanya, maka baik pula bala tentaranya, dan jika buruk rajanya, maka buruk pula bala tentaranya.” (Majmu’ Fatawa)
2. Menjaga niat dalam menuntut ilmu.
Niat merupakan perkara utama dalam bribadah, hendaknya niat seorang penuntut ilmu ditunjukan untuk mendekat diri kepada Allah, mengangkat kebodohan dalam diri, dan mengamalkan ilmu tersebut.
Menuntut ilmu adalah ibadah dan barang siapa yang meluruskan niatnya hanya karena Allah, maka Allah akan anugrahkan keberkahan ilmu. Namun siapa mengharapkan dunia, maka dia akan merugi.
3. Memanfaat waktu ketika muda untuk menuntut ilmu.
Hasan al-Basri Berkata: “Belajar di waktu kecil bagaikan melukis di atas batu” (Al-Faqih wa al-Mutafaqqih, jilid 2 halaman 91).
Setiap waktu yang berlalu dari umur seseorang tidak akan pernah kembali. Oleh sebab itu seorang penuntut ilmu harus memutus segala kesibukan duniawi yang tidak bermanfaat dan menguatkan tekadnya dalam menuntut ilmu. Sebagaimana para salaf terdahulu yang rela bersafar jauh dari kota meraka untuk menuntut ilmu, seperti Imam Bukhari dan juga Imam Muslim, yang melakukan perjalnan panjang untuk ber-talaqqi kepapda guru-guru mereka rahimahullah.
4. Qana’ah dalam menuntut ilmu.
Qana’ah merupakan sifat yang sangat penting bagi seorang penuntut ilmu, merasa cukup dengan apa yang dimilliki dan bersabar atas keterbatasan selama menuntut ilmu dan tanpa membandingkan hal yang dimilikinya dengan orang lain.
5. Pandai membagi waktunya.
Seorang penuntut ilmu harus bisa membagi waktunya, dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkinn. Penting bagi penuntut ilmu agar pandai-pandai membagi waktu siang dan malamnya. Sebagaimana syariat mengajarkan setiap ibadah memiliki waktu yang utama, demikian pula menuntut imu, terdapat pembagian waktu yang dianjurkan, seperti:
Waktu sahur untuk menghafal.
Awal pagi untuk meneliti dan membaca.
Tengah hari untuk menulis.
Malam hari untuk muroja’ah dan mudzakarah.
Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa menbersihkatan hati dan memperbarui niatnya setiap saat, karena ilmu adalah ibadah. Ia memanfaatkan masa mudanya sebelum tua, dan bersabar atas apa yang dimiliki, serta mengatur waktu siang dan malamnya dengan baik.
Referensi :
1. Ibn Jamā‘ah, Badr al-Dīn Muḥammad ibn Ibrāhīm. Sharḥ Tadhkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim fī Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta‘allim. Edited by Ṣāliḥ ibn ‘Abd Allāh ibn Ḥamd al-‘Uṣaymī. Cairo: Dār al-Hijrah, 1st ed.
2. Setyawan Hanif, “Adab Penuntut Imu Terhadap Diri Sendiri”, diakses pada 15 Desember 2025, dari https://alukhuwah.com/2017/03/09/dengan-adab-engkau-akan-dapat-memahami-ilmu/
Penulis : Azizah Fii Ahliha
Pembimbing : Fikrina Aliya Budianna, S.H.

