Perang Uhud

Reading Time: 3 minutes

Kekalahan kaum musyrikin Mekkah di Perang Badar meninggalkan luka dan kemarahan. Banyak pemimpin Quraisy terbunuh, sehingga mereka bertekad membalas kekalahan itu. Harta dagang yang sempat diselamatkan Abu Sufyan dikumpulkan kembali untuk membiayai persiapan perang. Quraisy juga mengajak berbagai kabilah untuk bergabung, memanfaatkan para penyair untuk membangkitkan semangat, serta membawa sebagian perempuan mereka dalam rombongan.

Setahun kemudian, persiapan dianggap cukup. Sekitar 3.000 pasukan Quraisy bergerak menuju Madinah. Al-Abbas bin Abdul Muthalib yang masih tinggal di Mekkah mengirimkan kabar kepada Rasulullah ﷺ tentang pergerakan pasukan tersebut. Madinah pun bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Pasukan Quraisy tiba dan berkemah di sekitar Bukit Uhud pada Jumat, 6 Syawal 3 H.

Rasulullah ﷺ mengadakan musyawarah dengan para sahabat. Beliau menyampaikan mimpi yang beliau alami dan mengusulkan agar kaum Muslimin bertahan di dalam Madinah. Namun, sebagian sahabat—terutama yang tidak ikut Perang Badar—mengusulkan agar pasukan keluar menghadapi musuh di medan terbuka. Setelah mempertimbangkan pendapat yang ada, Rasulullah ﷺ memutuskan mengikuti pendapat mayoritas.

Pasukan Muslimin berangkat dengan sekitar 1.000 orang. Panji kaum Muhajirin dipegang Mush‘ab bin Umair, panji Aus oleh Usaid bin Hudhair, dan panji Khazraj oleh Al-Hubab bin Al-Mundzir. Madinah ditinggalkan di bawah kepemimpinan Ibnu Ummi Maktum. Di tengah perjalanan, Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya membelot sehingga pasukan Muslimin tersisa sekitar 700 orang.

Setibanya di kaki Bukit Uhud, Rasulullah ﷺ menyusun barisan pasukan dan menempatkan para pemanah di atas bukit untuk menjaga bagian belakang pasukan. Beliau menekankan agar mereka tetap di posisi apa pun yang terjadi, baik dalam keadaan menang maupun kalah. Pasukan kaum Muslimin di sayap kanan dikomandani oleh Al-Mundzir bin Amr, di sayap kiri dikomandani oleh Az-Zubair bin Az-Awwam. Di barisan terdepan ada sejumlah tokoh-tokoh yang sangat kuat. Kemampuan mereka sebanding dengan ribuan orang. Rasulullah ﷺ dan pasukannya mendapatkan tempat yang sangat strategis.

Pertempuran dimulai dengan duel satu lawan satu, lalu berlanjut menjadi pertempuran terbuka. Pada fase awal, pasukan Muslimin mampu menekan barisan Quraisy. Beberapa pembawa panji Quraisy berhasil dilumpuhkan, sehingga barisan mereka sempat goyah dan mundur. Melihat keadaan ini, sebagian pasukan Quraisy mulai kocar-kacir.

Saat kondisi tampak menguntungkan, sebagian pemanah di atas bukit mengira pertempuran telah selesai. Mereka melihat kaum Muslimin mengumpulkan harta rampasan, lalu turun dari posisi yang telah diperintahkan Rasulullah ﷺ untuk ditinggalkan dalam keadaan apa pun. Meskipun sebagian kecil pemanah tetap bertahan, posisi bukit yang tadinya mengamankan punggung pasukan menjadi terbuka.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Khalid bin Al-Walid (saat itu masih di pihak Quraisy). Ia memimpin pasukan berkuda memutari bukit dan menyerang dari arah belakang. Serangan mendadak ini mengacaukan barisan kaum Muslimin. Situasi berubah cepat: pasukan terpecah, sebagian terdesak, dan muncul kepanikan di tengah pertempuran.

Di tengah kekacauan, Rasulullah ﷺ terluka. Gigi geraham beliau pecah, wajah beliau berdarah, dan beliau sempat terjatuh ke dalam sebuah lubang. Tersebar kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah gugur. Kabar ini membuat sebagian pasukan terpukul dan melemah semangatnya. Namun, para sahabat yang tetap bersama beliau membentuk perlindungan di sekeliling Rasulullah ﷺ. Di antara mereka adalah Abu Thalhah yang melindungi beliau dengan perisainya, serta Mush‘ab bin Umair yang gugur saat mempertahankan panji kaum Muslimin.

Hamzah bin Abdul Muthalib juga gugur dalam pertempuran ini. Setelah perang usai, jenazah para syuhada mengalami perlakuan tidak pantas oleh sebagian pihak Quraisy. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi kaum Muslimin.

Meski Quraisy berhasil membalikkan keadaan, mereka tidak melanjutkan serangan ke Madinah. Setelah merasa cukup dengan apa yang mereka capai di Uhud, pasukan Quraisy memilih kembali ke Mekkah. Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan kaum Muslimin untuk mengumpulkan diri. Beliau memeriksa keadaan para sahabat, menguburkan para syuhada Uhud di tempat mereka gugur, dan tidak memindahkan jenazah mereka ke Madinah.

Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat yang ikut berperang—meski terluka—untuk keluar menunjukkan kesiapsiagaan (peristiwa Hamra’ Al-Asad). Langkah ini bertujuan menegaskan bahwa kaum Muslimin tidak runtuh meski mengalami ujian berat. Quraisy yang mendengar pergerakan ini akhirnya mengurungkan niat untuk kembali menyerang Madinah.

Perang Uhud menjadi pelajaran penting bagi kaum Muslimin. Al-Qur’an menegaskan bahwa kekalahan yang terjadi bukan karena kelemahan ajaran Islam, tetapi akibat sebagian kaum Muslimin melanggar perintah Rasulullah ﷺ dan tergoda oleh harta rampasan.  Dari Uhud, kaum Muslimin belajar tentang pentingnya taat kepada pemimpin, disiplin dalam strategi, serta kesabaran ketika menghadapi ujian. Meski secara militer mereka mengalami kerugian, secara pembinaan umat, Uhud menjadi titik penting dalam pembentukan kedewasaan dan keteguhan kaum Muslimin.

 

Referensi:

1. Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, cet. , Jakarta.

2. As-Sirah an-Nabawiyah, Syaikh Abd al-Malik bin Hisyam, cet. Syarikatu Maktabah wa Mathba‘ah Musthafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuhu bi Mishr.

3. As-Sirah Al-Halabiyyah, ‘Ali ibn Ibrahim Nur Al-Din al-Halabi, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah (بيتوتب العلميّة), Beirut