Di Balik Kemenangan Perang Badar

Reading Time: 4 minutes

Perang Badar merupakan simbol awal dari kemenangan kaum Muslimin. Namun, di balik  kemenangan tersebut justru membuat Madinah memasuki masa yang penuh ketegangan. Madinah tidak pernah benar-benar dalam keadaan aman pada masa setelah Perang Badar sampai Perang Uhud. Berbagai macam ancaman terus datang, mulai dari aktivitas militer untuk menjaga wilayah, rencana konspirasi yang mengancam nyawa NabiMuhammad ﷺ hingga konflik terbuka yang berujung pada Perang Bani Qainuqa’. Peristiwa-peristiwa ini jarang mendapatkan perhatian besar, padahal di sinilah kita bisa melihat bagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabat menyusun strategi dengan cermat dan terus bertahan dalam menghadapi ancaman yang tak pernah berhenti. Ancaman tak selalu datang dalam bentuk pasukan besar melainkan juga melalui provokasi sosial dan rencana tersembunyi yang menjadi potensi ancaman stabilitas Madinah.

Perang Bani Sulaim Al-Kudr

Perang ini merupakan perang pertama setelah perang Badar. Berawal dari Bani Sulaim yang termasuk kabilah Ghathafan menghimpun kekuatan mereka untuk menyerang Madinah, mereka mengerahkan 200 orang yang menunggangi unta. Setelah mengetahui hal itu, Nabi ﷺ dan beberapa sahabat langsung mendatangi mereka dan menetap di dekat perkampungan mereka. Melihat kedatangan Nabi ﷺ dan para sahabat, mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan unta-untanya yang kemudian dikuasai oleh pasukan Muslimin. Akhirnya Nabi ﷺ kembali ke Madinah setelah menetap 3 hari di sana.

Konspirasi Untuk Membunuh Nabi ﷺ

Peristiwa ini bermula dari perbincangan Umair bin Wahb Al-Jumahi dengan temannya Shafwan bin Umayyah. Mereka berdua adalah para pemuka kafir Quraisy. Dari perbincangan tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh Nabi ﷺ di Madinah. Keesokan harinya Umair langsung pergi menuju Madinah dengan membawapedang yang sudah disiapkan untuk membunuh Nabi ﷺ. Kehadiran Umair di Madinah diketahui oleh Umar bin Al-Khattab, seketika Umar menemui Nabi ﷺ dan memberitahukan hal tersebut. 

Rasulullah ﷺ mempersilahkan Umair untuk masuk ke dalam rumah beliau dan duduk berdekatan sambil diawasi oleh sahabat yang lain. Langsung saja Rasulullah ﷺmengetahui maksud kedatangan Umair dan menceritakan kepada Umair secara detail apa yang diperbincangkan olehUmair bersama Shafwan. Umair pun takjub dan mengakui kenabian Beliau ﷺ. Setelah itu Umair bersyahadat dan kembali ke Mekkah dan mengajak orang-orang untukmasuk Islam, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang masuk Islam melalui dakwahnya tersebut.

Perang Bani Qainuqa’ 

Kemenangan kaum Muslimin di perang Badar membuat orang-orang Yahudi semakin meradang dan berani menampakkan kebencian mereka, hal inilah menjadi sebab awal dari peperangan ini. Mereka melanggar perjanjian mereka terhadap Rasulullah ﷺ dengan menyebarkan isu-isu dusta, mempersulit penghidupan orang-orang mukmin yang mempunyai hubungan dengan mereka. Ka’ab bin Al- Asyraf adalah tokoh Yahudi (Capital, nama tokoh atau golongan) yang paling jahat dan menonjol menampakkan kebenciannya terhadap kaum Muslimin. 

Suatu hari ketika Rasulullah ﷺ mengumpulkan mereka di pasar Bani Qainuqa’ dan mengajak mereka untuk memeluk Islam, dengan lantang mereka menolak  seruan itu dan menjawab dengan jawaban yang menggambarkan keinginan untuk berperang. 

Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka berani secara terang-terangan mengganggu seorang wanita muslimah yang sedang berbelanja di pasar mereka, kemudian datang seorang laki-laki Muslim untuk menolong wanita tersebut. Akan tetapi, laki-laki itu terbunuh karena dikeroyok oleh orang-orang Yahudi. Kejadian itu membuat habis kesabaran Rasulullah ﷺ dan langsung mengerahkan pasukannya menuju Bani Qainuqa’. Bani Qainuqa’ dikepung oleh pasukan Muslimin selama 15 hari, hal ini membuat mereka semakin takut hingga akhirnya menyerahkan diri kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺmemerintahkan untuk membunuh semua kaum laki-laki Bani Qainuqa’, tetapi tidak jadi karena permohonan dari Abdullah bin Ubay. Rasulullah ﷺ membiarkan mereka hidup tetapi dengan syarat mereka harus pergi jauh dari Madinah. Tidak lama dari pengusiran itu, kebanyakan dari mereka mati.

Perang Sawiq 

Abu Sufyan bersama pasukannya yang berjumlah 200 orang nekat memasuki Madinah untuk membunuh Nabi ﷺ, mereka masuk dengan mengendap-endap pada malam hari. Abu Sufyan meminta izin masuk kepada pemimpin Bani Nadhir yang berada di dalam Madinah, kedatangannya pun dirahasiakan. Setelah itu pada akhir malam, Abu Sufyan kembali menemui rekan-rekannya dan mengutus beberapa orang dari pasukannya untuk pergi ke Madinah dan berhenti di Al-Uraidh. Di sana mereka membabati pohon-pohon kurma milik kaum Muslimin dan membunuh dua orang penjaga kebun tersebut. Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ langsung mengejar Abu Sufyan dan pasukannya. Abu Sufyan mempercepat langkahnya dengan meninggalkan tepung makanan yang mereka bawa sebagai bekal. Sampai pada akhirnya mereka lolos dari kejaran Rasulullah ﷺ. kaum Muslimin membawa pulang sawiq (tepung gandum) yang ditinggalkan oleh Abu Sufyan dan kembali ke Madinah.

 

Ka’ab bin Al-Asyraf Tewas

Ka’ab menyimpan dendam yang sangat besar terhadap Islam, dia secara memprovokasi orang-orang untuk membunuh dan memerangi kaum Muslimin. Hal ini dia lakukan dengan menyanjung-nyanjung Quraisy dan mengolok-olok Rasulullah ﷺ beserta kaum Muslimin. Hingga pada akhirnya beberapa sahabat merasa geram dan menyusun strategi untuk membunuh Ka’ab. Sahabat-sahabat itu adalah Muhammad bin Maslamah, Ubbad bin  Bisyr dan Abu Na’ilah. Siasat Muhammad bin Maslamah adalah dengan menjebak Ka’ab dan mengatakan seolah-olah dia mendukung Ka’ab. Begitu juga dengan Abu Na’ilah yang mendatangi Ka’ab dengan melantunkan syair-syair yang menarik simpati Ka’ab. Mereka memiliki rencana untuk mengajak keluar Ka’ab di malam hari dan pergi menjauh dari pemukiman Ka’ab. Setelah mereka berhasil mengajak keluar Ka’ab, salah satu dari mereka bersiasat untuk memuji wangi kepala Ka’ab dengan mencium kepala Ka’ab. Saat Abu Na’ilah berhasil mencium kepala Ka’ab maka saat itu juga sahabat yang lain mengepung Ka’ab dan menusuk bagian perut bawahnya. Kemudian mereka kembali ke Madinah dan menyerahkan kepala Ka’ab kepada Rasulullah ﷺ.

Satuan Perang Zaid bin Haritsa

Kejadian ini bermula dari Sulaith bin Nu’man yang masuk Islam dan masih berada di Mekkah, ia bersama rekan-rekannya meminum khamar hingga salah satu dari orang Quraisy itu membocorkan rencana kepergian kafilah dagang mereka yang dipimpin oleh Shafwan bin Umayyah. Setelah itu Sulaith pergi ke Rasulullah ﷺ dan memberitahukan hal tersebut. Mengetahui hal itu, Rasulullah ﷺ langsung memerintahkan pasukannya untuk menghadang kafilah itu hingga pada akhirnya mereka menyerah dan kembali ke Mekkah.

Peristiwa-peristiwa ini mengajarkan kita agar jangan pernah puas dengan keberhasilan yang telah didapat. Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak pernah berhenti dan mengenal lelah dalam memperjuangkan Islam. 

Referensi: 

1. Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, cet. , Jakarta.

2. As-Sirah an-Nabawiyah ash-Shahihah: Muhawalah li Tathbiqi Qawa‘id al-Muhadditsin fi Naqdi Riwayati as-Sirah an-Nabawiyah, Dr. Akram Diyā’ al-‘Umari, cet. Maktabatu al-‘Ulum wa al-Hikam, al-Madinatu al-Munawwarah.

3. As-Sirah an-Nabawiyah, Syaikh Abd al-Malik bin Hisyam, cet. Syarikatu Maktabah wa Mathba‘ah Musthafa al-Babi al-Halabi wa Auladuhu bi Mishr

Penulis: Selpi Anjas Sari

Pembimbing: Ustaz Deni Irawan, Lc., M.A.