Sang Diplomat Ulung dan Bayangan Rasul

Reading Time: 5 minutes

Keislaman dan Kemiripannya dengan Rasulullah

Pada masa awal kenabian, penyiksaan dan penganiayaan terus-menerus menimpa kaum muslimin di Mekah. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh air mata, pengorbanan dan kesabaran yang tidak terhitung. Namun, alih-alih surut, jumlah pemeluk Islam justru terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal itu membuat dada kaum Quraisy semakin dipenuhi kedengkian dan amarah, yang kemudian mereka tumpahkan dalam bentuk cobaan bertubi-tubi.

Tatkala ujian yang dihadapi kaum muslimin kian berat, Rasulullah ﷺ memerintahkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah, wilayah yang kini dikenal sebagai Etiopia. Pada saat itu, seorang lelaki maju ke hadapan Rasulullah ﷺ  dengan penuh keteguhan ia menawarkan diri untuk ikut serta dalam hijrah pertama kaum muslimin bersama istrinya. Tutur katanya terdengar lembut dan santun. Ia tampak memesona dengan keelokan parasnya dan wibawa alami yang dimilikinya.

Lelaki itu bernama Ja’far bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah ﷺ  sekaligus salah seorang sahabat yang masuk Islam pada masa-masa awal kenabian. Ja’far dikenal sebagai sosok yang sangat mirip dengan Rasulullah, baik dari segi sikap maupun perawakan. Wajahnya tampan dengan kulit cerah bercahaya, lisannya begitu terjaga dan jiwanya bersih. Kerendahan hati serta keberaniannya turut menghiasi kemuliaan sosoknya yang penuh ketakwaan.

Rasulullah ﷺ  menjulukinya Abū al-Masākīn (bapak kaum miskin) sebuah gelar yang lahir dari kezuhudannya dan kepeduliannya terhadap orang orang miskin. Tanpa rasa gengsi, ia kerap duduk bersama mereka, menanyakan kabar dan memperhatikan keadaan mereka.

Setelah hijrah ke Habasyah, Ja’far dikaruniai tiga orang anak, yaitu Muhammad, Abdullah dan Auf. Kepindahannya di tempat baru tak lantas membuatnya jatuh dalam keterasingan atau memilih jalan yang bermudah-mudahan. Di Habasyah, Ja’far tampil sebagai juru bicara kaum muslimin yang fasih dan cerdas. Dengan ketenangan serta ketajaman akal yang Allah ﷻ anugerahkan kepadanya, Ja’far berhasil menorehkan peristiwa diplomasi memukau dalam sejarah Islam, yang kelak akan menyelamatkan kaum muslimin dari gangguan Quraisy Mekah.

Namun, kisah heroiknya tidak berhenti di sana. Selama masa hidupnya, Ja’far memberikan seluruh asa dan jiwanya untuk agama yang amat ia cintai. Ja‘far melangkah hingga akhir napasnya dengan keimanan yang menancap kuat di dada, menyerahkan nyawanya bersama syahadat yang terucap mantap tanpa keraguan. Kini, namanya harum sebagai seorang pahlawan yang membela Islam dengan lisan dan pedangnya.

 

Diplomasi di Habasyah: Kecerdasan Ja’far bin Abi Thalib

Habasyah dikenal sebagai negeri yang aman dan damai. Di sana berdiri sebuah kerajaan yang diperintah dengan keadilan. Di singgasana tahtanya duduk seorang pemimpin yang dikenal karena kecerdasan akalnya serta keluhuran hatinya. Ia adalah Ashamah bin Abjar, raja yang lebih masyhur dengan gelar Najasyi, seorang penganut agama Nasrani yang lurus dan jauh dari penyimpangan akidah.

Kedatangan kaum muslimin ke Habasyah disambut dengan baik oleh Najasyi dan penduduknya, hal ini kemudian menjadi angin segar bagi kaum muslimin yang telah berada dalam tekanan berat di waktu yang lama. Namun tidak bagi kaum Quraisy Mekah, kabar akan diterimanya kaum muslimin di tanah Habasyah, tampak memperburuk rasa dengki di hati mereka. Rasa takut akan berkembangnya Islam dan amarah mereka terhadap Rasulullah mendorong mereka untuk merenggut kembali kedamaian yang baru saja di rasakan oleh kaum muslimin.

Kaum Quraisy segera mengutus dua orang juru bicara terbaik mereka, yaitu Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk memohon kepada Najasyi agar berkenan untuk mengembalikan kaum muslimin ke tanah Mekah dan menarik kembali perlindungan yang telah ia berikan. Mereka mengirimkan banyak hadiah berharga untuk Najasyi dan para pendetanya bersama dengan Amr dan Abdullah. Namun, nama baik dan kecerdasan Najasyi telah terlebih dahulu sampai di telinga kaum Quraisy. Hal ini menimbulkan sedikit kekhawatiran pada diri mereka akan kegagalan tipu muslihat yang telah mereka buat, kaum Quraisy pun merencanakan strategi licik dengan memerintahkan Amr dan Abdullah untuk membujuk para pendeta terlebih dahulu sebelum menghadap kepada Najasyi,

Hari yang direncanakan pun tiba, kedua utusan Quraisy tersebut pergi menemui Najasyi dan menyampaikan niat kedatangan mereka. “Wahai Baginda Raja, orang-orang ini telah meninggalkan agama kaumnya tanpa memeluk agama paduka. Mereka datang membawa ajaran baru yang asing bagi kami maupun bagi paduka. Karena itu, para pemuka dan keluarga mereka mengutus kami agar paduka berkenan mengembalikan mereka kepada kaumnya.” Ucap Amr, intonasi dan tutur katanya tersusun dengan percaya diri, mengalir lancar dari seorang lelaki yang dikenal cerdas berbicara dan piawai memainkan kata-kata.

Najasyi yang cermat pun kini mengalihkan pandangannya kepada kaum muslimin yang telah ia panggil “Agama apakah itu yang menyebabkan kalian meninggalkan bangsa kalian akan tetapi tidak memandang perlu pula kepada agama kami?”

Ja’far berdiri dari tempat duduknya. Ia mengangkat pandangan ramah yang penuh hormat kepada Najasyi, pemimpin yang telah berbuat baik kepada kaum muslimin.“Wahai Paduka yang mulia, dahulu kami hidup dalam kebodohan: menyembah berhala, berbuat keji, memutus silaturahmi, dan menzalimi yang lemah. Hingga Allah ﷻ mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yang kami kenal kejujuran dan kemuliaannya. Ia menyeru kami untuk mengesakan Allah ﷻ, berkata benar, menunaikan amanah, berbuat baik, serta menjauhi perbuatan keji dan segala yang diharamkan. Karena iman itulah kaum kami memusuhi dan menyiksa kami, memaksa kami kembali kepada kekafiran dan perbuatan aniaya yang telah kami tinggalkan. Maka kami berhijrah ke negeri Paduka, berharap mendapatkan perlindungan dan keadilan.”

Kalimat-kalimat Ja’far mengalir lembut dan santun, laksana embun yang jatuh perlahan dari dedaunan selepas hujan. Hal ini membangkitkan keharuan  di hati Najasyi dan para pendeta di ruangan itu. Najasyi kemudian meminta Ja’far untuk membacakan sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah, Ja’far pun membacakan Surah Maryam dengan lantunan tilawah yang indah dan penuh kekhusyukan. Mendengar itu, Najasyi dan para pendetanya tersentuh. Najasyi kemudian menolak permintaan kedua utusan Quraisy itu dengan tegas dan tetap memberi perlindungan terhadap kaum muslimin. Amr dan Abdullah pun keluar dari ruangan tersebut dengan rasa malu dan hina. Namun, Amr yang cerdas pun tak ingin tinggal diam, ia merencanakan tipu muslihat baru agar Najasyi rela melepaskan kaum muslimin.

Keesokan harinya, kedua utusan Quraisy tersebut kembali datang menghadap Najasyi seraya berkata “Wahai paduka, kaum muslimin mengatakan bahwa Isa adalah manusia biasa”. Para pendeta pun mulai geger, Najasyi kemudian bertanya kepada Ja’far “Bagaimana pandangan kalian terhadap Isa?” Dengan tenang, Ja’far menjawab “Kami akan mengatakan tentang Isa sesuai dengan keterangan yang dibawa oleh Nabi kami Muhammad, bahwa Isa adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta Kalimat-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya.”

Najasyi membenarkan ucapan Ja’far, lalu dengan ketegasan yang tak terbantahkan, ia menolak permohonan kaum Quraisy dan memerintahkan agar seluruh hadiah yang dibawa Amr dan Abdullah dikembalikan. Kaum muslimin pun kembali meraih kedamaian melalui lisan Ja’far, melalui ketenangan, kejujuran, dan kepiawaiannya dalam berdiplomasi.

 

Akhir Gemilang Sang Diplomat di Medan Mu’tah

Seusai kemenangan kaum muslimin di Khaibar, Ja’far bersama rombongan hijrah dari Habasyah tiba di Madinah. Rasulullah menyambut mereka dengan penuh kebahagiaan, hingga bersabda bahwa beliau tak mengetahui mana yang lebih menggembirakan baginya, kemenangan Khaibar atau kedatangan Ja’far. Di Madinah, hati Ja’far bergelora oleh kisah-kisah jihad yang sampai di telinganya, tentang mereka yang gugur sebagai syuhada dan mereka yang pulang sebagai pahlawan bagi agama Allah. Setiap kisah itu seolah menyalakan kerinduan dalam relung hatinya akan jihad di jalan-Nya. Meski telah lama berada jauh dari medan perang, hasrat itu tumbuh kian kuat di dadanya.

Ketika seruan jihad menuju Mu’tah dikumandangkan dan panji-panji mulai dikibarkan, Ja’far mendatangi Rasulullah ﷺ dengan tekad yang mantap. Ia mengajukan diri untuk turut berangkat, meski sepenuhnya menyadari beratnya peperangan yang akan dihadapi, baik jarak yang panjang, medan yang asing, maupun pasukan Romawi yang terkenal akan ketangguhannya. Namun hal itu tak menggoyahkan langkahnya. Rasulullah pun merestui kepergiannya dan menetapkannya sebagai pemegang panji kaum muslimin bila Zaid bin Haritsah gugur.

Hari pertempuran tiba. Ja’far maju ke medan Mu’tah dengan gagah, menerjang barisan musuh di tengah denting pedang dan gema takbir. Saat Ja’far melihat Zaid gugur, ia segera mengambil panji kaum muslimin dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Pasukan Romawi pun mengepungnya. Tangan kanannya ditebas, lalu tangan kirinya, namun Ja’far tak menyerah, ia pun mendekap panji terebut erat-erat ke dadanya hingga gugur. Panji kemudian diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah.

Ja’far syahid dengan sembilan puluh luka tusuk dan sayat di tubuhnya, jejak pengorbanan suci dan keberanian sejati seorang hamba yang sangat mencintai Rabb-nya. Atas pengorbanannya, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Ja’far dianugerahi sepasang sayap di surga. Namanya pun abadi sebagai teladan hingga detik ini. Ja’far menjadi contoh nyata yang mengajarkan kita bahwa iman yang kokoh dan cinta yang tulus mampu mengubah rasa sakit menjadi keindahan, dan membuat pengorbanan yang awalnya terasa menyakitkan, justru mengundang kerinduan kepada Allah ﷻ.

Referensi:

Khalid, K. M. (2013, Oktober). Biografi 60 Sahabat Nabi (Terjemahan dari Rijalun Haular Rasul). Jakarta: Ummul Qura.

Penulis: Silmia Rahmatul Ula

Dosen Pembimbing: Ustazah Zidni Nafi’ah, S.Ag.