Cara Mengubah Fixed Mindset menjadi Growth Mindset

Reading Time: 3 minutes

Mindset atau pola pikir merupakan proses berpikir serta cara pandang seseorang dalam menyikapi realitas kehidupan. Pola pikir ini dapat dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari, lingkungan, dan pergaulan. Dalam kajian psikologi, para ahli membagi pola pikir ke dalam dua kerangka utama, yaitu fixed mindset dan growth mindset. Kedua kerangka tersebut memiliki arti yang bertolak belakang.

Fixed mindset dapat dipahami sebagai cara pandang yang bersifat kaku. Kemampuan seseorang dianggap hanya bersifat bawaan dan tidak dapat berkembang melalui latihan maupun dedikasi yang konsisten. Oleh karena itu, individu dengan fixed mindset cenderung pesimis dan mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Sebaliknya, growth mindset mencerminkan cara pandang yang berkembang. Dalam kerangka ini, kemampuan diyakini dapat diasah dan ditingkatkan melalui proses belajar yang berkelanjutan. Individu dengan growth mindset umumnya memiliki sikap yang optimis serta dorongan kuat untuk terus menambah pengetahuan.

Fenomena fixed mindset banyak terjadi di zaman sekarang, terutama pada generasi muda. Padahal, pada fase ini mereka seharusnya memiliki cara pandang yang terbuka serta keberanian untuk mencoba berbagai macam pengalaman sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan. Namun, pengaruh lingkungan sekitar dan pola pikir yang keliru sering kali menyebabkan peluang penting tersebut terlewatkan. Oleh sebab itu, pendidikan memegang peran krusial dalam membentuk pola pikir yang berkembang. Kurikulum yang dirancang secara tepat serta tenaga pengajar yang kooperatif menjadi fondasi bagi sistem pendidikan yang kuat. Pola pikir yang terbentuk secara positif tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga berkontribusi bagi kemaslahatan umat secara luas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

… ۗ إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ …

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)

Dalam tafsir ayat ini dijelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang nyaman sampai mereka sendiri mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. Perubahan tersebut dapat berupa peralihan dari keimanan menuju kekufuran, dari ketaatan menuju kemaksiatan, atau dari sikap mensyukuri nikmat Allah menuju pengingkaran terhadap nikmat-Nya. Maka Allah akan mencabut kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada mereka.

Sebaliknya, apabila para hamba mengubah kondisi mereka dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan mengubah kondisi yang sebelumnya menyelimuti mereka, dari kesengsaraan menuju kebaikan, kebahagiaan, ghibthah—yaitu keinginan untuk memperoleh kebaikan sebagaimana yang dimiliki orang lain tanpa berharap kebaikan tersebut hilang darinya—serta limpahan rahmat. Hal ini menegaskan bahwa perubahan menuju kebaikan menuntut adanya usaha dan tekad yang kuat, namun tetap harus berjalan pada koridor yang benar. Di sisi lain, ayat ini juga menunjukkan bahwa kemampuan manusia memiliki keterbatasan. Setiap perubahan yang terjadi tidak terlepas dari ketentuan takdir Allah. Oleh karena itu, doa yang dipanjatkan kepada-Nya menjadi salah satu faktor penting yang mengiringi seorang hamba dalam proses perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

Berdasarkan dalil yang telah dipaparkan di atas, individu dengan fixed mindset pada dasarnya memiliki peluang untuk berubah menjadi growth mindset apabila disertai kesadaran dan kemauan yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri. Perubahan yang bermakna tidak lahir dari proses yang instan. Oleh karena itu, untuk dapat berkembang, seseorang perlu menempatkan dirinya dalam lingkungan yang mendukung proses perubahan menuju kebaikan. Kesadaran untuk berubah merupakan modal utama dalam mencapai tujuan melalui jalan yang positif dan diridai Allah.

Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangan growth mindset antara lain sebagai berikut:

1. Mengakui dan berdamai dengan ketidaksempurnaan

2. Mengubah sudut pandang terhadap masalah

3. Menghargai setiap proses usaha

4. Menghadapi tantangan, bukan menghindarinya

5. Menerima masukan

Growth mindset merupakan pola pikir yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim. Pola pikir ini mendorong seseorang untuk terus berkembang, bersikap produktif, serta mampu menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat. Sikap produktif merupakan nilai yang seharusnya melekat dalam diri seorang Muslim, karena Islam mendorong umatnya untuk senantiasa berusaha dan memperbaiki diri.

Jika menilik sejarah, banyak ulama dan tokoh berpengaruh di masa lalu yang mencerminkan growth mindset. Salah satu contohnya adalah Muhammad al-Fatih. Meskipun mengalami berbagai kegagalan dalam upayanya menaklukkan Konstantinopel, beliau tidak berhenti berusaha dan mengambil pelajaran dari setiap kegagalan tersebut. Sejak usia muda, Muhammad al-Fatih telah menghadapi berbagai tantangan hingga akhirnya Konstantinopel berhasil ditaklukkan di bawah kepemimpinannya.

Gambaran tersebut diharapkan dapat menjadi teladan bagi manusia pada masa kini maupun masa mendatang agar tidak mudah menyerah dan senantiasa memiliki pola pikir yang berkembang dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Referensi

1. Al-Qur’anul Karim

2. Tafsir As-Sa‘di, QS. Ar-Ra‘d ayat 11

3. Telkom University. Kembangkan Diri dengan Growth Mindset: Pengertian, Manfaat, dan Penerapannya, diakses 13 Desember 2025 dari https://telkomuniversity.ac.id/kembangkan-diri-dengan-growth-mindset-pengertian-manfaat-dan-penerapannya/

Penulis: Ainaya Zulfa Nurjanah

Dosen Pembimbing: Ustazah Zidni Nafi’ah, S.Ag.