Sahabat yang dikenal karena kecerdasannya. Apakah pernah terbayang di benak kita, dihadapkan dengan musuh yang begitu lihai berbicara dan cerdik dalam strategi? Seorang public figure yang pendapatnya dihormati serta didengar setiap orang, taktikus medan perang yang membuat siapapun terkesima saat ia berbicara. Pemikirannya begitu brilian, pemahamannya luas, dan kemampuan problem solving-nya pun sangat mengesankan.
Ia adalah seorang lelaki dengan mata hitam legam dan berjenggot lebat. Perawakannya tidak terlalu tinggi, namun berhasil membuat banyak hati gentar akan wibawanya. Dengan otak cerdas dan lidah yang fasih, jelas ia merupakan musuh yang harus diperhitungkan. Mungkin begitulah apa yang kaum muslimin rasakan kala melihat sosok ‘Amr bin Al-‘Ash bin Wa’il sebelum masuk Islam.
Lalu bayangkan sejenak, bagaimana jika sosok seperti itu kini berdiri di pihak kita? Pernahkah terlintas di benak kita betapa berharganya memiliki seorang saudara dengan valuesebaik ‘Amr bin Al-‘Ash?
Setelah masuk Islam, ‘Amr mendedikasikan segala kelebihannya untuk agama barunya, baik kepiawaiannya dalam berbicara maupun keahliannya dalam strategi perang dan siasat. ‘Amr pernah ditugaskan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi panglima dalam perang Dzat As-Salaasil, kemudian dalam masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khattab, Ia ditugaskan menjadi gubernur Palestina dan Yordania. Tak hanya itu, melalui tangannya -atas izin Allah- bumi Mesir jatuh dalam pangkuan Islam, ‘Amr memberikan pengabdiannya kepada Allah secara total dan mengagumkan, ia sukses melepaskan tanah Mesir dari cengkeraman imperium Persia dan Romawi yang kejam, serta mengibarkan panji-panji Islam di angkasanya dengan damai. Namun itu semua hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kisah-kisah gemilang sosok ‘Amr bin ‘Al-Ash, sang politisi ulung Bani Sahm.
Taktik ‘Amr dalam menghadapi rencana pembunuhan
Dikisahkan pada suatu riwayat, kala perang di Mesir meletus pada masa ke khalifahan ‘Umar bin Al-Khattab, ‘Amr diundang untuk berunding oleh komandan pasukan Romawi di bentengnya, ‘Amr pun datang tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, ia datang dengan gagah, sebagai representasi yang nyaris sempurna dari seorang komandan muslim yang cerdik dan taktis.
Pada awalnya, ‘Amr tak menyadari adanya rencana busuk dari pihak Romawi yang berniat untuk membunuhnya. Setelah ‘Amr masuk mereka meletakkan sebuah batu besar di atas gerbang, dan akan menjatuhkannya tepat saat komandan muslim tersebut selesai berunding. “Tertimpa batu dan tewas di sarang lawan”—kematian yang memalukan bagi panglima sebesar dirinya, mungkin itulah yang mereka harapkan kala itu.
Perundingan berjalan lancar, ‘Amr pun melangkahkan kakinya menuju gerbang benteng, berniat keluar. Sesaat sebelum melewati gerbang, pandangan ‘Amr menangkap adanya gerak-gerik mencurigakan di atas benteng, intuisinya yang terlatih langsung memahami bahwa ada sebuah bahaya yang tengah mengintainya. Ia pun segera memutar otak dan mengambil rencana cerdas.
‘Amr berbalik ke dalam benteng, langkahnya tetap tenang tanpa menunjukkan keraguan ataupun rasa takut, ia bergegas menemui pimpinan pasukan Romawi itu untuk yang kedua kalinya.
“Terbesit di benakku sebuah pikiran, yang rasanya perlu aku sampaikan padamu sekarang, di pos komandoku menunggu para sahabat yang pendapatnya sering didengar oleh amirul mukminin, bahkan dalam pengiriman tentara, mereka selalu diikut sertakan untuk mengawasi tindakan-tindakan para pasukan, bagaimana bila kita adakan perundingan kedua dan aku akan membawa mereka kemari?” ucap ‘Amr. Komandan pasukan Romawi pun buru-buru menyetujuinya, mungkin terkekeh dalam hati, berpikir bahwa takdir baik sedang berada di pihaknya, ia pikir bisa membunuh para sahabat tersebut dengan sekaligus. Komandan naif tersebut segera menjabat tangan ‘Amr dengan sukacita, dan mengisyaratkan untuk tidak menjatuhkan batu tersebut saat itu juga. Tanpa mengetahui bahwa rencana busuknya berhasil tercium oleh ‘Amr.
‘Amr tersenyum, menyambut uluran tangan lawannya dengan mantap, sekilas terlihat seperti kesepakatan yang indah antara dua komandan besar, namun tampaknya mereka terlalu meremehkan ‘Amr. ‘Amr pun beranjak pulang ke perkemahan pasukan muslim tanpa luka sedikit pun, namun detik itu, hatinya penuh rasa kecewa akan pengkhianatan pasukan Romawi yang ternyata memiliki niat tersembunyi kala mengundangnya ke sana. Tanpa berpikir dua kali ‘Amr segera menyusun strategi.
Keesokan paginya, ‘Amr bersiap, ia duduk di atas kudanya dengan gagah, menyongsong fajar dengan takbir yang ia gaungkan ke telinga setiap prajuritnya. Hari itu, ia memimpin pasukannya untuk menggempur benteng Romawi, menagih kompensasi atas pengkhianatan mereka terhadap kemurahan hati yang telah ia berikan. ‘Amr pun memacu kudanya dengan cepat, siap menyambut kemenangan yang telah ia munajatkan kepada Rabb-nya. Dan dengan izin Allah, melalui pengorbanan mereka, bumi Mesir merdeka dari tangan-tangan zalim bangsa Romawi dan Persia, kalimat tauhid dan takbir bergema di seluruh penjuru, dan keamanan serta kesejahteraan dikembalikan ke tangan penduduknya.
Pelajaran kepemimpinan dari seorang pemikir strategis
‘Amr bin Al-‘Ash merupakan sahabat yang masuk Islam pada masa akhir kenabian, tepatnya sebelum terjadinya Fathu Makkah. Selama bertahun-tahun lamanya ia berdiri di pihak kaum musyrikin, dengan vokal dan lantang ia menyerukan kebencian terhadap Rasulullah dan agama yang dibawanya. ‘Amr menggunakan segala kebolehannya untuk memberi keburukan serta gangguan terhadap kaum muslimin saat itu. Namun tatkala cahaya hidayah menyapanya, hatinya melembut dan bergegas menuju panggilan dakwah, ia menyerahkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya, hingga namanya pun harum bersama nama para sahabat senior yang lebih dahulu masuk Islam.
Maka dari perjalanannya, kita bisa melihat secara nyata, karakter mulia seorang pemimpin pada diri ‘Amr bin Al-‘Ash. ‘Amr memberi contoh bahwa masa lalu tidak mendefinisikan masa depan seseorang, ia fokus pada apa yang bisa ia lakukan sekarang tanpa mencari-cari alasan untuk menutupi masa lalunya.
Banyak pemimpin yang kita temui saat ini, jatuh dalam insecurity yang berlarut-larut, sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga pada akhirnya justru membuahkan hal-hal yang negatif. Amr bin al-‘Ash mengajarkan kepada kita bahwa kepercayaan diri yang sehat lahir dari kualitas diri yang baik, kemauan untuk berubah dan hati yang bersih. Pada perjalanannya pun, kita bisa melihat bahwa ‘Amr bin Al-‘Ash fokus pada kontribusinya terhadap agama Allah tanpa sibuk membangun pesona dan citra di kalangan kaum muslimin, ia memberikan pengorbanan yang nyata untuk Islam tanpa pamrih dan mengharapkan pujian. Maka saat tanggung jawab kepemimpinan memanggilnya, ia mampu menyambutnya dengan mantap dan hati yang lapang.
Hal ini menunjukkan ketangguhan dan self-acceptance yang luar biasa pada sosok ‘Amr bin Al-‘Ash, di mana kedua hal ini merupakan salah satu pilar yang vital dalam kualitas kepemimpinan seseorang.
Setelah masuk Islam, ‘Amr bin Al-’Ash tak lantas mengubur bakat yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi, ia membiarkan segala kepiawaiannya tunduk kepada syariat Allah Ta’ala. Berhias cahaya takwa dan tawadhu’, kecerdasannya dituntun oleh iman untuk membawa banyak kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, membuat kini sosoknya dikenal sebagai pahlawan yang mengagumkan dan bijaksana, serta dijadikan panutan dan teladan bagi generasi setelahnya.
Penulis: Silmia Rahmatul Ula
Pembimbing:
Referensi
Al-Mustadrak ‘ala Ash-Sahihayn, Abu ‘Abdillah al-Hakim, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.
Biografi 60 Sahabat Nabi terjemahan Rijalun Haular Rasul, Khalid Muhammad Khalid, Ummul Qura, Jakarta, 2013.
Min Ma‘arīk Al-Islam Al-Fāṣilah, Muhammad bin Ahmad Bashmil, t.p., t.t.
Al-Asas fi As-Sunnah wa Fiqhiha: As-Sirah As-Nabawiyyah, Sa‘id Hawwa, Dar al-Salam, Kairo, 1995.

