Upaya Menghindari Fixed Mindset pada Gen-Z

Reading Time: 3 minutes


Fixed mindset secara umum yaitu keyakinan bahwa kemampuan, bakat, dan kepintaran manusia bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Orang yang memiliki fixed mindset cenderung sulit untuk berkembang, karena mereka berpikir, “terlahir pintar atau tidak pintar”.

Akibatnya mereka kurang dalam usaha, mereka meyakini bahwa usaha yang dilakukan tidakakan memberikan dampak apa pun. Contoh ketika seseorang mengatakan, “Aku tidak pintar, maka percuma saja aku belajar”

Pengertian Menurut Psikologi
Dalam psikologi, konsep fixed mindset dikemukakan oleh Carol S. Dweck, seorang psikolog dari Stanford University. Menurutnya, fixed mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan intelektual dan kepribadian seseorang bersifat bawaan dan tidak bisa banyak berubah.

Ciri-ciri psikologis orang dengan fixed mindset:

  1. Takut gagal karena menganggap kegagalan mencerminkan ketidakmampuan diri.
  2. Enggan menerima kritik atau umpan balik.
  3. Mudah menyerah saat menghadapi tantangan.
  4. Lebih fokus pada hasil daripada proses belajar.

Dalam konteks sosial, fixed mindset mencerminkan bagaimana seseorang dalam memandang status sosial di masyarakat. Mereka memiliki kecenderungan dalam:

  1. Membandingkan diri secara statis dengan pencapaian orang lain yang dianggap sudah melampauinya.
  2. Menolak perubahan sosial atau peran baru yang pasti terjadi di lingkungan masyarakat. Karena mereka merasa tidak ada yang bisa diubah.
  3. Kurang terbuka dalam pembelajaran sosial karena mereka berpikir bahwa kemampuan dalam bersosialisasi merupakan kemampuan bawaan yang dimiliki manusia sejak mereka lahir.

Pola pikir ini memiliki beberapa faktor yang mendasari, di antaranya:

1. Pola Asuh yang salah.

Orang tua yang sering menuntut anaknya menjadi apa yang mereka inginkan, tanpa mendengarkan dan memberikan ruang bagi anak untuk menekuni minatnya. Sehingga, ketika seorang anak gagal memenuhi harapan orang tua, mereka kerap dicemooh dengan cara yang tidak seharusnya. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri anak dan membentuk pola pikir yang kaku, karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu sesuai harapan orang tuanya.

2. Lingkungan sekolah yang kurang baik.

Kebanyakan sekolah hanya berfokus pada pencapaian nilai yang baik tanpa mendampingi siswa dalam proses belajarnya. Sehingga pihak sekolah hanya melihat hasil tanpa melihat sportivitas dan usaha para siswa. Hal ini membuat sebagian siswa berpikir bahwa hanya orang yang terlahir pintar saja yang bisa mendapat nilai bagus. Dan siswa yang merasa kurang pintar, mereka hanya berpikir bagaimana caranya mendapat nilai yang bagus tanpa harus belajar. Mereka tidak percaya pada proses, karena yang mereka tahu mereka tidak dilahirkan dalam keadaan pintar, dan berpikir bahwa belajar hanya membuang-buang waktu mereka.

3 . Kurangnya kesadaran diri dan refleksi.

Orang yang kurang dalam merefleksikan diri cenderung tidak sadar akan potensi yang dia miliki. Padahal kenyataannya, dia memiliki potensi yang bisa dikembangkan jauh lebih baik, namun karena dia kurang dalam merefleksikan dirinya sendiri dan tidak memiliki waktu untuk memahami diri, dia berpikir bahwa kemampuannya tidak akan bisa berkembang, karena dia tidak berusaha dalam melatihnya.

Setelah sekilas melihat definisi dan faktor yang menyebabkan fixed mindset, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas tentang solusi untuk menghadapinya. Berikut solusi yang bisa dilakukan dalam menghadapi fixed mindset:

1. Percaya bahwa kemampuan seseorang bisa berkembang melalui berbagai cara. Dalam perspektif Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وان ليس للانسان الا ما سعى

“dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm 53: Ayat 39)

Jadi, jangan menilai kemampuan tetap dan tidak bisa berkembang, karena setiap usaha yang dilakukan akan bernilai di sisi Allah walaupun belum sempurna.

2. Memandang kegagalan sebagai bahan bakar untuk melaju lebih jauh ke depan.

Dalam psikologi, orang dengan fixed mindset menganggap kegagalan bukti bahwa dirinya bodoh, sedangkan growth mindset menganggap kegagalan sebagai pelajaran. Seperti hadits berikut:

قال رسول الله ﷺ :

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِن الضعيف، وفي كُلِّ خَيْرٌ . احرص على ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَل ….

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”

(HR. Muslim, no. 2664)

3. Fokus pada usaha dan perbaikan diri.

Sesekali mendengarkan kata-kata orang lain tidak mengapa, tapi jangan sampai kata-kata orang lain masuk dalam diri tanpa melalui filtrasi. Fokus pada apa yang diusahakan dan membangun habit yang positif, membuat hidup seseorang akan lebih terarah. Dan hal ini juga akan membantu terbentuknya pola pikir yang positif dan fleksibel.

4. Memilih lingkungan yang positif dan selektif dalam berteman. Teman memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita, bahkan muamalah yang terjadi hingga pada pertanggungjawaban akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّاخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67)

5. Terbuka terhadap nasihat dan kritik.

Setiap manusia tak luput dari yang namanya kesalahan. Maka dari itu, setiap manusia memerlukan evaluasi dari sudut pandang orang lain. Orang yang terbuka terhadap nasihat dan kritik, cenderung berkembang lebih baik dari orang yang anti nasihat dan kritik. Karena secara pikiran, mereka lebih terbuka dan menerima sudut pandang orang lain dengan bijak. Seperti halnya dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ تَمِيمِ الدَّارِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»

قُلْنَا: لِمَنْ؟

قال:

اللَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ»

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Agama itu nasihat.”

Kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum.”

(HR. Muslim, no. 55)

Penulis: Ainaya Zulfa Nurjanah

Pembimbing: Ustazah Zidni Nafi’ah, S.Ag.

Referensi

1. Al Qur’anul Karim

2. Kitab Sahih Muslim-Cetakan At-Turkiyyah (Muslim)

3. Kitab Mujjalat al-Buhuts al-Islamiyyah (Majmu’ah min al-Mu’allifin)

4. Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan https://literaksi.ayasophia.orgPDFFixed

Mindset versus Growth Mindset