Istiqamah sebagai Sebab Turunnya Rezeki yang Baik: Telaah Ayat 16 Surah Al-Jinn

Reading Time: 5 minutes

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengaitkan rezeki dengan kerja keras, kecerdasan, atau kesempatan yang datang pada waktu yang tepat. Namun, Al-Qur’an memberikan penjelasan bahwa rezeki tidak hanya diperoleh melalui usaha lahiriah semata, tetapi juga berkaitan erat dengan iman, takwa, dan keteguhan dalam menaati perintah Allah ﷻ, dengan tetap menempuh sebab-sebab yang syar‘i. Salah satu ayat yang menegaskan hal tersebut adalah QS. Al-Jinn: 16. Ayat ini menjelaskan bahwa sikap istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya dapat menjadi sebab datangnya rezeki yang lapang, baik dari sisi kuantitas maupun keberkahannya.

Di tengah kehidupan modern yang kerap menimbulkan kegelisahan terkait pemenuhan kebutuhan hidup, QS. Al-Jinn: 16 menjadi salah satu ayat yang penting untuk dipahami. Ayat ini tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga menghadirkan panduan spiritual tentang hakikat rezeki serta kunci untuk meraihnya. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas lebih dalam makna QS. Al-Jinn: 16 melalui pendekatan yang mudah dipahami oleh pembaca umum. Dengan menggali pesan tafsir ayat tersebut, diharapkan pembahasan ini dapat memberikan pencerahan, ketenangan, serta motivasi spiritual dalam menyikapi persoalan rezeki di tengah dinamika kehidupan modern, billāhi taufīq wa hidāyah.

Tafsir Ayat 16 Surah Al-Jinn

Allah ﷻ berfirman:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا

“Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan memberi mereka air yang melimpah.” (QS. Al-Jinn [72]: 16)

Ayat ini menegaskan janji Allah ﷻ kepada siapa saja, baik dari kalangan manusia maupun jin, yang senantiasa berpegang teguh dan istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam. Istiqamah di sini tidak hanya dimaknai sebagai keteguhan dalam akidah, tetapi juga konsistensi dalam ketaatan serta kesungguhan menjauhi larangan-Nya. Sebagai balasannya, Allah ﷻ menjanjikan kelapangan rezeki serta kemudahan dalam urusan kehidupan dunia.

Dalam ayat tersebut, Allah ﷻ mengungkapkan kelapangan rezeki dengan ungkapan “air yang melimpah”. Penggunaan simbol air memiliki makna yang sangat mendalam karena air merupakan sumber kehidupan. Banyaknya air melambangkan kehidupan yang sejahtera, kebahagiaan yang luas, serta keberkahan yang terus mengalir. Dengan kata lain, rezeki yang diberikan Allah ﷻbukan sekadar melimpah secara materi, tetapi juga membawa ketenangan dan keberlangsungan hidup yang baik.

Makna ini sejalan dengan firman Allah ﷻ dalam Surah Al-A‘raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A‘raf: 96) [Tafsir Kemenag]

“Air yang Melimpah” sebagai Simbol Rezeki dan Keberkahan

Para mufasir klasik, seperti Ibnu Katsir dan ‘Abd ar-Rahman bin Nashir as-Sa‘di, menjelaskan bahwa ungkapan “air yang melimpah” dalam QS. Al-Jinn: 16 tidak hanya dimaknai sebagai air dalam pengertian fisik. Lebih dari itu, ungkapan tersebut merupakan simbol kelimpahan rezeki, kemakmuran hidup, serta keberkahan yang dianugerahkan Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah.

Air sebagai sumber utama kehidupan, digunakan dalam ayat ini untuk menggambarkan bagaimana karunia Allah ﷻ mengalir tanpa henti bagi mereka yang teguh berada di jalan-Nya. Sebagaimana air menjadi sebab hidup dan tumbuhnya makhluk, demikian pula rezeki dari Allah ﷻ mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Rezeki tersebut tidak terbatas pada materi semata, tetapi juga meliputi ketenangan hati, kemudahan urusan, serta keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Istiqamah

Istiqamah bermakna teguh, lurus, dan konsisten dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ. Para ulama menegaskan bahwa istiqamah tidak hanya terwujud dalam amal perbuatan semata, tetapi juga mencakup keteguhan keyakinan, kejujuran dalam ucapan, serta konsistensi dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Dengan demikian, istiqamah merupakan kesatuan antara apa yang diyakini, diucapkan, dan diamalkan oleh seorang hamba.

Salah satu ulama yang memberikan penjelasan mendalam tentang makna istiqamah adalah Imam an-Nawawi. Beliau menjelaskan:

«اَلِاسْتِقَامَةُ هِيَ الثَّبَاتُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى ظَاهِرًا وَبَاطِنًا»

“Istiqamah adalah keteguhan dalam ketaatan kepada Allah Ta‘ala, baik secara lahir maupun batin.” [Syarh Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn]

Definisi ini menegaskan bahwa istiqamah tidak cukup diwujudkan melalui perbuatan lahiriah saja, tetapi juga harus dibarengi dengan keikhlasan dan keteguhan hati. Amal yang tampak baik secara lahiriah akan bernilai sempurna apabila selaras dengan kondisi batin yang taat dan tunduk kepada Allah ﷻ.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali. Beliau menyatakan:

«اَلِاسْتِقَامَةُ هِيَ عِبَادَةُ اللهِ عَلَى مَا شَرَعَ مِنْ غَيْرِ تَرَدُّدٍ وَلَا تَلَوُّنٍ»

“Istiqamah adalah beribadah kepada Allah sesuai dengan syariat-Nya, tanpa keraguan dan tanpa berubah-ubah.” [Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Ḥikam]

Dari penjelasan para ulama tersebut dapat dipahami bahwa istiqamah merupakan sikap konsisten dalam beribadah dan menaati syariat Allah, tanpa terpengaruh oleh kondisi, situasi, atau godaan yang dapat melemahkan komitmen keimanan. Sikap inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan yang diridai Allah ﷻ serta membuka jalan menuju keberkahan dan kelapangan rezeki.

Istiqamah Berasal dari Hati

Para ulama menjelaskan bahwa asal dari istiqamah adalah istiqamahnya hati di atas tauhid. Ketika hati lurus dalam mengenal Allah, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, dan hanya berharap kepada-Nya, maka seluruh anggota badan akan mengikuti. Amal lahiriah sejatinya hanyalah cerminan dari kondisi batin seseorang.

Hati yang bergantung kepada Allah akan ringan dalam ketaatan, tenang dalam menghadapi ujian, dan kuat dalam meninggalkan maksiat. Sebaliknya, jika hati condong kepada selain Allah ﷻ baik kepada manusia, pujian, harta, atau jabatan—maka istiqamah pun menjadi rapuh.

Tauhid: Inti dari Istiqamah

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang makna istiqamah, beliau menjawab dengan singkat namun sangat mendalam:

«أن لا تشرك بالله شيئًا»

“Yaitu tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”

Jawaban ini menegaskan bahwa inti istiqamah adalah kemurnian tauhid. Istiqamah berarti menjaga ibadah agar tetap ikhlas, menjauhkan hati dari syirik besar maupun kecil, serta tidak menjadikan hawa nafsu sebagai penentu arah hidup.

Rezeki yang Baik sebagai Buah Istiqamah

Dalam pandangan Islam, rezeki yang diharapkan oleh seorang mukmin bukanlah sekadar rezeki yang berlimpah secara jumlah, melainkan rezeki yang baik (ṭayyib) dan mengandung keberkahan. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang memberi manfaat nyata, menumbuhkan ketenangan jiwa, dan semakin menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah ﷻ. Oleh sebab itu, kualitas rezeki lebih utama daripada kuantitasnya, karena keberkahanlah yang menjadikan rezeki tersebut bernilai dan bermakna dalam kehidupan.

Pesan ini sejalan dengan kandungan QS. Al-Jinn: 16 yang menjanjikan “air yang melimpah” bagi orang-orang yang tetap istiqamah di jalan Allah ﷻ. Kelimpahan yang dimaksud tidak selalu berbentuk kekayaan materi yang berlebihan, tetapi berupa rezeki yang halal, mencukupi, dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebaikan. Rezeki semacam ini memberi ruang bagi seorang hamba untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk, menunaikan tanggung jawab terhadap keluarga, berbakti kepada kedua orang tua, serta melaksanakan kewajiban sosial dengan lapang dada. Dengan demikian, QS. Al-Jinn: 16 mengajarkan bahwa istiqamah dalam iman, tauhid, dan amal merupakan kunci utama terbukanya pintu rezeki yang baik. Rezeki yang diperoleh melalui jalan yang diridai Allah dan digunakan untuk tujuan yang diridai-Nya akan membawa ketenteraman, kecukupan, dan keberkahan yang berkesinambungan dalam kehidupan seorang mukmin.

QS. Al-Jinn: 16 menegaskan bahwa rezeki yang baik tidak hanya bergantung pada usaha lahiriah, tetapi pada iman, takwa, dan istiqamah seorang hamba kepada Allah, dengan tetap menempuh sebab-sebab yang syar‘i. dalam beribadah menjadi kunci terbukanya rezeki yang baik, berkah, serta membawa ketenteraman dan ketenangan hidup.

Ayat ini mengajarkan kaum Muslimin untuk menata kembali cara pandang terhadap rezeki dan menjadikan istiqamah sebagai prinsip hidup. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita rezeki yang berlimpah, penuh keberkahan, dan membawa kebaikan di dunia serta akhirat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Referensi:

Al-Qur’an al-Karim. (n.d.). Surah Al-Jin (72): 16.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Tafsir Surah Al-Jin ayat 16. QuranWeb. https://quranweb.id/72/16/ (Diakses 10 Desember 2025).

Rumaysho. (n.d.). Istiqamah dan limpahan rezeki. https://rumaysho.com/8617-istiqamah-dan-limpahan-rezeki.html

Muslimah.or.id. (n.d.). Rezeki yang dituntut adalah rezeki yang thayib (baik), yaitu rezeki yang berkah. https://muslimah.or.id/18752-konsep-rezeki-yang-diatur-dalam-syariat-bag-3.html (Diakses 10 Desember 2025).

TerasMuslim. (n.d.). Pondasi utama istiqomah adalah akidah yang lurus. https://www.terasmuslim.com/artikel/68211/apa-itu-pondasi-istiqomah-ini-maknanya/

Penulis: Sri Wulandari

Pembimbing: Ustaz Sabilul Muhtadin, Lc., M.H.