Makna Beriman Kepada Takdir
Apa itu takdir? Bukankah sudah tidak asing lagi kata ‘takdir’ di telinga kita? Orang-orang pada umumnya mengaitkannya dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah. Mencakup tentang kehidupan kita, yang baik maupun buruk, maut, dan rezeki. Akan tetapi, yang menjadi garis besar di sini, mengapa kita wajib beriman dengannya? Mari kita bahas secara singkat!
Takdir adalah segala sesuatu yang Allah tetapkan dahulu kala yang akan terjadi pada makhluk-Nya, yang telah ditulis di Lauhul Mahfudz sejak ratusan ribu tahun lalu, baik berupa ketaatan, rezeki, dan ajal seseorang. Dan mengapa kita wajib beriman kepadanya? Ternyata, selain beriman kepada takdir termasuk dari rukun iman ke-enam, juga tidak sah keislaman seseorang sampai ia meyakini rukun iman. Maka dengan itu, kita wajib beriman dengan takdir yang baik maupun buruk.
Sebagaimana dalam hadis Rasulullah ﷺ saat berjumpa Jibril ‘alaihissalaam disebutkan,
تُؤْمِنَ بِالِله وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَ ˛رِهِ
“Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8)
Antara Kematian dan Menikah
Pernahkah kamu membayangkan tentang kedua hari itu? Hari kematian dan hari pernikahanmu. Pasti pernah, kan? Karena keduanya adalah hari-hari yag ditunggu oleh banyak orang. Tapi, pernahkah kamu pernah bertanya kepada dirimu, “Siapa yang akan pertama kali menjumpaimu?” Manusia sering menyiapkan dua peristiwa besar dalam hidupnya; menikah, dan kematian. Yang satu dirayakan dengan penuh harap dan kebahagiaan, sementara yang lain sering dihindari dari pembicaraan. Seolah ia tidak akan datang. Padahal, keduanya sama-sama tak pasti waktunya, atau terkadang salah satunya mungkin bisa datang secara tiba-tiba, yaitu: kematian.
Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an,
﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ﴾
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78)
Bisa disimpulkan, bahwa jodoh, maut, dan rezeki termasuk takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla. Dan tidak mungkin akan tertukar. Dari situ, kita bisa mengambil hikmah bahwa ajal (kematian) dan jodoh termasuk perkara Ghaibiyah (hanya Allah yang mengetahuinya). Dan kita sebisa mungkin untuk bisa lebih mempersiapkannya dengan baik tanpa memikirkan waktu kapan datangnya. Sebab dengan kita mempersiapkan diri dengan beramal shalih, bertaqwa kepada Allah akan menjadi bekal untuk menghadapi kedua takdir tersebut, yaitu ajal (kematian) dan jodoh (menikah). Dan satu yang paling penting, kematian pasti akan kedatangannya, dan semua manusia sudah ditetapkan waktunya. Maka dengan itu, persiapkan akhirat kita dengan sebaik-baiknya. Agar bisa Kembali kepada-Nya dengan keimanan dan amal shalih.
Benarkah Do’a Bisa Mengubah Takdir?
Apa yang pertama kali ada di benakmu saat kamu membaca judul diatas? Apakah rasanya seperti ada sebuah harapan akan takdir yang belum terjadi? Yuk kita bahas juga!
Judul di atas merupakan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh sebagian pihak mengenai takdir yang akan menjumpainya. Takdir adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla terhadap makhluk-Nya. Adapun do’a, adalah permohonan seorang hamba kepada Rabbnya. Terkait dengan takdir maupun permintaan baik untuk dikabulkan, dijauhkan, maupun diganti dengan yang lebih baik.
Do’a merupakan sebab dikabulkannya permintaan seorang hamba. Dan juga cara mewujudkan takdir yang akan terjadi. Akan tetapi, jika takdir tersebut telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla, seperti ajal, dan jodoh. Kita masih bisa berusaha dengan berdo’a agar menjadi takdir yang baik untu kita, karena tidak dipungkiri lagi, do’a adalah salah satu ikhtiar agar bisa mewujudkan takdir yang baik.
Sebagaimana yang telah Allah firmankan,
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِ’ي فَإِنِ’ي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُون﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)
Penulis : Assyifa Putri Saori
Pembimbing : Ustadzah Sittah Shifkhiyyah
Maraji’ :
1. Syarah Kitab Al Aqidah Al Washithiyyah (terjemah) ditulis oleh Ahmad Hendrix
2. Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #01 https://rumaysho.com/18971-syarhus-sunnah- memahami-takdir-01.html
3. Mengapa Harus Berdoa Meski Takdir Sudah Tertulis? https://rumaysho.com/38949- mengapa-harus-berdoa-meski-takdir-sudah-tertulis.html
4. Allah Begitu Dekat pada Orang yang Berdo’a https://rumaysho.com/1734-allah-begitu- ekat-pada-orang-yang-berdoa.html
Footnote :
[1] Syarah Kitab Al Aqidah Al Washith

