Kapan Dibaca Tafkhim (tebal)?
Huruf ra dibaca tafkhim dalam kondisi berikut:
1) Huruf ra yang berharakat fatah (رَ).
2) Huruf ra sukun (رْ) yang didahului huruf berharakat fatah (ـَ).
3) Huruf ra sukun(رْ) yang diwaqafkan, dan sebelumnya bukan huruf ya (ي), berstatus sukun(ْ), serta huruf sebelum itu berharakat fatah ().
4) Huruf ra yang berhakat damah (رُ).
5) Huruf ra sukun (رْ) yang didahului huruf berharakat damah (ـُ).
6) Huruf ra sukun (رْ) yang diwaqafkan, dan sebelumnya huruf berstatus sukun (ـْ), serta huruf sebelum itu berharakat damah (ـُ).
7) Huruf ra sukun (رْ) yang didahului hamzah wasal (آ).
8) Huruf ra sukun (رْ), dan sebelumnya didahului huruf berharakat kasrah (ـِ), yang didahului huruf isti’la’ [1] yang tidak berharakat kasrah (ـِ)
Contohnya di dalam Al-Qur’an:
1) وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا, رَمَضَانَ , الرَّحْمَنُ
2) أَلَمْ نَجْعَلِ الأرْضَ مِهَادًا , وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
3) وَالْعَصْرِ , وَالْفَجْر ,لأوَّلِ الْحَشْرِ
4) نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ ,كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا , بُرُوجًا
5) عَلَّمَ الْقُرْآنَ ,فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
6) خُسرْ ,حُورْ,وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ
7) إِنِ ارْتَبْتُمْ ,أَمِ ارْتَابُوا ,ارْكَعُوا
8) فِي قِرْطَاسٍ ,فِرْقَةٍ , إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
Kapan Dibaca Tarqiq (tipis)?
Huruf ra dibaca tarqiq dalam kondisi berikut:
1) Huruf ra yang berharakat kasrah
1) Huruf ra sukun (رْ) yang didahului huruf huruf berharakat kasrah asli (ـِ), dan setelahnya bukan huruf isti’la’.
2) Huruf ra sukun (رْ) yang diwaqafkan, dan sebelumnya bukan huruf isti’la’ dan berstatus sukun (ـْ), serta huruf sebelum itu berharakat kasrah (ـِ).
3) Huruf ra sukun (رْ) yang diwaqafkan dan sebelumnya huruf ya layyinah [2] atau ya maddiyyah [3]
Contohnya di dalam Al-Qur’an:
1) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا ,رِزْقٌ كَرِيمٌ ,رِيحٌ
2) فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ , وَفِرْعَوْنَ ذِي الأوْتَادِ
3) حَرْثٌ حِجْرٌ , لِذِي حِجْرٍ,السِّحْرْ
4) وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ,ذًلِكُمْ خَيْرْ ,ضَيْرٌ
Kapan dapat Dibaca Tafkhim dan Tarqiq?
Ternyata ra tidak selalu dibaca tafkhim, dan tidak selalu tarqiq. Dalam beberapa kondisi, ia bisa dibaca tafkhim atau tarqiq tergantung posisi, harakat asal, dan kondisi waqaf dan wasal.
Berikut kondisi yang menyebabkan ia dapat dibaca baik dengan tafkhim ataupun tarqiq:
1. Huruf ra sukun (رْ) yang sebelumnya huruf huruf berharakat kasrah (ـِ), dan setelahnya huruf isti’la’ berharakat kasrah (ـِ).
2. Huruf ra sukun (رْ) yang sebelumnya huruf isti’la’ berstatus sukun (ـْ), serta huruf sebelum itu berharakat kasrah (ـِ).
Contohnya di dalam Al-Qur’an:
1. فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
2. مِصْر, عَيْنِ القِطْر
Alasan di balik variasi bacaan Huruf ra
Dalam beberapa lafaz Al-Qur’an, hukum bacaan huruf ra dapat berbeda tergantung pada keadaan wasal atau waqaf, serta jalur periwayatan qira’ah yang digunakan. Dalam kata الِقْطر pada Surah Saba’ dibaca tarqiq ketika wasal, karena harakat asalnya adalah kasrah. Namun ketika waqaf, huruf tersebut dibaca tafkhim. Sementara itu, kata مِصْر dalam Surah Yusuf dibaca tafkhim ketika wahal, karena harakat asalnya adalah fatah. Adapun kata يَسْر dalam Surah Al-Fajr dibaca tarqiq. Untuk kata فِرْقٍ , dari jalur Syatibiyyah terdapat dua kemungkinan bacaan, tafkhim dan tarqiq [4].
Penulis: Ibnah daqieq Al mutabbal
Pembimbing:
Referensi
Metode Asy-Syafi’i : Ilmu Tajwid Praktis, Abu Ya’la Kurnaedi dan Nizar Sa’ad Jabal, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta, 2010.
[1] Huruf isti’la’ ada 7, yang teringkas dalam kalimat : غْطٍ قَظْ (خ, ص ,ض ,غ ,ط , ق ,ظ)
[2] Ya layyinah yaitu ya sukun yang sebelumnya huruf berharakat fatah, contoh: غَيْرٍ
[3] Ya maddiyah yaitu ya sukun yang sebelumnya huruf berharakat kasrah, contoh: بَصِيْرٌ
[4] Penjelasan Syaikh Abdul Karim Al-Jazairi.

