Sang kesatria Ansharyang namanya harum
Di antara kaum Anshar Madinah, berjalan seorang laki laki yang jiwanya bersih. Ia merupakan salah satu sahabat yang gemar mengunjungi Rasulullah sejak kedatangan beliau ke tanah Madinah. Ia menghabiskan hari-harinya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, dadanya dipenuhi kerinduan yang bergejolak akan surga dan pertemuan dengan Rabb-nya.
Namanya cukup dikenal di Madinah, sikap lapang dada berpadu dengan ketegasan yang tak dapat ditawar sudah menjadi ciri khas yang melekat pada sosoknya yang tersebar dari mulut ke mulut.
Dialah Khubaib bin Adiy bin Malik Al-Anshariy, seorang sahabat Rasulullah yang mengukir kepahlawanan melalui ketenangan dan keteguhan. Khubaib menorehkan kisah emasnya melalui perjuangan yang jauh dari kata mudah. Ketika sebuah ketetapan Allah membawanya pergi ke balik jeruji Mekah, Khubaib mendekap imannya kuat-kuat, mengikatnya bersama degup jantungnya seakan itu merupakan bagian dari napas yang terus membuatnya hidup.
Namanya kini harum bersama kehebatannya yang tertulis indah dalam sejarah Islam. Sosoknya yang telah dipeluk tanah akan terus dikenang dalam benak kaum muslimin, bersama kisah heroiknya yang tak akan padam di telan zaman.
Ketika darah pemuka Quraisy tumpah di tangannya
Hari itu, panji kaum muslimin berkibar gagah di medan Badr, membakar semangat para mujahidin yang penuh gelora menyongsong syahid dan surga Allah. Hati mereka yang telah terpaut oleh janji-Nya, membuat mereka tak gentar untuk menerjang barisan musuh yang kokoh dan rapat, membuatnya kian kewalahan dan porak poranda.
Diantara gemuruh pasukan dan denting pedang yang bersahut-sahutan, Khubaib berlari, mengayunkan bilah di tangannya dengan lihai dan perkasa. Ia menebas siapa pun yang menghadang langkahnya hingga satu persatu musuh gugur di tangannya.
Namun pada hari itu, salah satu pemuka Quraisy meregang nyawa di ujung pedang Khubaib. Ialah Al-Harits bin Amir bin Naufal. Sejak saat itu, dendam mulai tumbuh di hati keluarga Al-Harits. Nama Khubaib sang pembunuh kerabat mereka, terpatri kuat dalam ingatan dan benak mereka, disimpan bersama luka dan amarah yang tak kunjung reda. Mulai saat itu, keluarga Al-Harits mengikat janji dalam hati, bersumpah bahwa suatu hari, darah itu akan terbalaskan.
Salib yang menjadi saksi keteguhan Iman
Pada suatu hari, Rasulullah berkehendak mengetahui arah pergerakan Quraisy, guna menyiapkan langkah menghadapi peperangan yang akan datang. Beliau pun mengutus sepuluh orang sahabat, termasuk Khubaib, dan menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin mereka.
Rombongan itu bergerak hingga mencapai daerah antara Usfan dan Mekah. Namun, tanpa mereka sadari, pergerakan itu terendus oleh penduduk kabilah Hudzail dari Bani Hayyan. Di saat yang sama, mereka segera mengerahkan seratus pemanah untuk menyusul rombongan tersebut.
Kelompok pemanah itu menemukan sebutir kurma yang terjatuh di atas pasir. Dengan firasat yang tajam, mereka segera menyadari bahwa kurma itu berasal dari Yatsrib, yang kini dikenal sebagai Madinah. Dari petunjuk kecil itulah, mereka mulai menelusuri jejak, hingga akhirnya berhasil membuntuti rombongan kaum muslimin dari belakang.
Ashim, sang pemimpin, segera menyadari bahwa mereka tengah diikuti. Tanpa menunggu lama, ia mengarahkan pasukannya untuk naik ke atas sebuah bukit, mencari posisi yang lebih aman. Namun, langkah itu tak menghindarkan mereka dari kebusukan kaum musyrikin. Bukit tersebut segera dikepung dari berbagai arah.
Rombongan kaum muslimin pun dipaksa turun, dengan janji bahwa tidak akan ada penganiayaan terhadap mereka. Namun Ashim menolak dengan tegas. Baginya, perlindungan orang-orang musyrik tak lebih dari fatamorgana yang menipu.
Penolakan itu dibayar mahal. Tanpa peringatan, anak-anak panah melesat dari segala penjuru, menghujani mereka tanpa henti laksana serpihan maut yang beterbangan. Dalam kepungan itu, tujuh orang dari mereka gugur sebagai syahid, termasuk Ashim, sang pemimpin rombongan.
Pasukan pemanah itu kemudian menangkap Khubaib bersama seorang sahabat lainnya, Zaid bin Ad-Datsinah, dan mengikat tangan mereka. Sementara seorang yang tersisa dari rombongan menyaksikan semuanya. Ia memahami bahwa ini bukanlah akhir dari ancaman, melainkan awal dari pengkhianatan. Tanpa ragu, ia memilih jalan yang sama dengan tujuh orang lainnya yaitu menjemput kemuliaan syahid dengan keberanian yang mantap. Ia pun gugur, menyusul saudara-saudaranya yang telah lebih dahulu berpulang kepada Rabb-nya.
Khubaib dan Zaid berusaha melepaskan ikatan mereka, namun tidak berhasil. Keduanya kemudian dibawa ke Mekah. Nama Khubaib segera tersebar, membangkitkan kembali luka lama keluarga Al-Harits bin Amir yang terbunuh di Perang Badar. Dendam itu pun berujung pada keputusan untuk membeli Khubaib dan menjadikannya sasaran pelampiasan amarah mereka. Sementara itu, Zaid bin Ad-Datsinah lebih dahulu menanggung siksaan yang pedih dari Quraisy Mekah, kebencian mereka terhadap Islam membuat Zaid terus menerima penganiayaan dari hari ke hari, hingga akhirnya, ia pun gugur sebagai seorang syahid yang mulia.
Dalam keterasingan, hati Khubaib tetap tenang, imannya yang kokoh seakan melebur seluruh rasa takutnya terhadap penderitaan di dunia, menggantinya dengan rasa tentram yang menyejukkan dadanya.
Orang-orang musyrik terus berjuang untuk menggoyahkan iman Khubaib, mereka berusaha menghancurkan keteguhannya dengan kabar wafatnya Zaid serta seluruh siksaan yang telah mereka timpakan padanya. Mereka menjanjikan kebebasan jika Khubaib mau mengingkari Rasulullah dan meninggalkan agamanya. Tawaran itu Khubaib tolak mentah mentah, baginya iman serta agamanya jauh lebih berharga dari seluruh hidupnya.
Ketika tiba saatnya, Khubaib digiring ke Tan’im, tempat di mana kematiannya telah direncanakan. Di sana, mereka menyalibnya di atas batang kayu, mengikat tubuhnya dengan kuat, menjadikannya sasaran dari kebencian yang telah lama mereka simpan.
Sebelum itu, ia meminta izin untuk menunaikan shalat dua rakaat. Ia berdiri dengan tenang, menunaikannya dengan khusyuk, seakan tidak ada apa pun di hadapannya selain Rabb yang ia sembah. Setelah selesai, ia menegaskan bahwa ia tidak memperpanjang shalatnya agar tidak disangka gentar menghadapi kematian.
Dalam keadaan tersalib, tubuhnya menjadi sasaran anak panah dan sayatan pedang, luka demi luka mereka ukir di tubuh Khubaib dengan puas. Ketika ditanya apakah ia rela jika Rasulullah menggantikan posisinya dan ia dibiarkan bebas, ia menjawab dengan tegas bahwa ia tidak rela hidup dalam kenyamanan sementara Rasulullah tersakiti walau hanya oleh duri.
Jawabannya yang lugas membuat banyak orang Quraisy Mekah tertegun menyaksikan keteguhannya. Di bawah terik matahari, dalam keadaan tersalib dan tubuh yang bersimbah darah, yang tertanam kuat dalam hatinya hanyalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kala tubuh Khubaib tak lagi kuat menerima siksaan tersebut, ia pun menghembuskan napas terakhirnya, dengan wajah yang tenang dan keimanan yang tak goyah barang sesaat saja, Khubaib menutup hidupnya dengan kemuliaan syahid. Tubuhnya terikat, namun imannya berdiri bebas, tidak tunduk, tidak pula runtuh.
Di sekitar jasadnya, burung-burung pemakan bangkai sempat berputar di udara, menanti sebagaimana naluri mereka. Ketika ia telah wafat dan mereka mulai turun untuk mendekat, tiba-tiba mereka kembali berputar, lalu menjauh tanpa menyentuh jasad Khubaib sedikit pun, seakan akan mengetahui kemuliaan jiwa yang dulu bersemayam di dalamnya.
Di Madinah, Rasulullah merasakan kabar duka itu, beliau pun mengutus sahabat untuk mengambil jasad Khubaib.
Khubaib dimakamkan di tempat yang tidak diketahui, seakan kisahnya memang tidak ditinggalkan pada tempat, melainkan pada keteguhan yang terus hidup dalam ingatan.Top of Form
Khubaib telah membuktikan loyalitasnya terhadap agama Allah hingga titik akhir hidupnya. Ia menunjukkan bahwa apa yang diyakini dalam hati akan tetap diperjuangkan, sekalipun harus ditebus dengan nyawa dan sisa napasnyaز
Referensi:
Khalid, K. M. (2013, Oktober). Biografi 60 Sahabat Nabi (Terjemahan dari Rijalun HaularRasul). Jakarta: Ummul Qura.
Penulis: Silmia Rahmatul Ula
Dosen Pembimbing: Ustazah Zidni Nafi’ah, S.Ag.

