Perjalanan dari kemewahan menuju kemuliaan iman
Senja itu, kala langit Mekah mulai meredup teriknya, seorang pemuda rupawan memantapkan langkahnya menuju majelis Nabi ﷺ di Dar Al-Arqam, sikapnya anggun, pakaiannya indah, dan parasnya begitu menawan.
Ia menapaki bukit Safa seorang diri, menyapa penghujung hari dengan hati yang penuh akan rasa harap dan penasaran. Di umurnya yang masih belia, jiwanya telah penuh dengan hikmah yang dipupuk subur oleh kecerdasan akalnya, membuat hatinya terpanggil kala mendengar kabar Risalah Nabi Muhammad ﷺ yang mulai tersebar di kalangan penduduk Mekah.
Pemuda itu adalah Mush’ab bin ‘Umair, putra bangsawan dari Bani ‘Abd ad-Dar. Ia merupakan lelaki muda yang namanya berhembus harum di lorong-lorong Mekah, menjadi bisik manis di kalangan para gadis, serta dikenal mulia di tengah kaum Quraisy. Mush’ab lahir dari keluarga yang terpandang dan tumbuh bersama kemewahan dan kasih sayang. Ia selalu mengenakan pakaian yang indah dan wewangian yang mahal. Mush’ab bin ‘Umair juga dianugerahi karisma yang mempesona dan perawakan yang elok, menjadikannya begitu memikat dan menumbuhkan rasa cinta di hati banyak orang. Pujian pun telah menjadi hal yang akrab baginya. Namun, sejak senja itu, di majelis Nabi ﷺ di Dar al-Arqam, arah hidupnya mulai berubah sepenuhnya, Mush’ab memutuskan untuk resmi memeluk Islam. Saat hatinya telah luluh oleh cahaya iman yang menyapanya, ia pun menukar kenyamanan dunia dengan keselamatan akhirat yang abadi dan rida Rabb-nya.
Pada awalnya, Mush’ab memilih untuk menutup rapat-rapat kabar keimanannya. Ia menyembunyikan hal tersebut dari Khannas binti Malik, seorang perempuan berwibawa, berkepribadian memikat, dan sangat disegani di kalangan kaum Quraisy, yang tak lain dan tak bukan merupakan ibunya sendiri. Bagi Mush’ab, ibunya bukan sekadar orang tua yang sangat ia hormati, melainkan sosok yang tak akan sanggup ia hadapi sebagai lawan.
Namun pada suatu hari, kabar keislamannya sampai ke telinga sang ibu melalui Utsman bin Thalhah. Khannas begitu murka saat mendengar berita tersebut, hatinya terasa ngilu dan dipenuhi rasa kecewa terhadap putranya yang amat ia sayangi, amarah Khannas nyaris tumpah menjadi sebuah tamparan keras di pipi putranya, namun naluri keibuannya segera menghentikan ayunan tangannya; ia tak sanggup. Sebagai gantinya, Mush’ab dikurung dan diasingkan dari dunia luar. Ia diisolasi di sebuah ruangan sunyi yang penuh penjagaan, jauh dari kenyamanan dan fasilitas yang selama ini ia nikmati.
Sejak iman bersemayam sempurna di dadanya, cobaan demi cobaan pun mulai menyertainya. Rangkaian ujian tersebut perlahan membentuk sebuah pandangan dalam diri Mush’ab bin ‘Umair tentang kehidupan. Ia tak lagi meletakkan harapan pada gemerlap dunia, melainkan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Islam dan rasa cintanya kepada Allah ﷻ semata.
Dari seorang pemuda yang terbiasa hidup dalam kemewahan, Mush’ab berubah menjadi sosok yang akrab dengan kekurangan. Pakaian yang dikenakannya kasar, lusuh, dan bertambal. Tak tersisa lagi sutra yang membalut tubuhnya, begitu pula wewangian yang dahulu melekat padanya. Namun, di tengah cobaan yang menerpa dan hilangnya kenikmatan dunia, Mush’ab justru menemukan arti keteguhan dan manisnya iman, ia tetap berdiri kokoh di atas keyakinannya dan tak tergoyahkan oleh apa pun.
Utusan pertama Rasulullah ﷺ yang menanam cahaya di tanah Anshar
Pada suatu hari, Nabi Muhammad ﷺ memilih Mush’ab bin ‘Umair untuk memikul sebuah amanah yang amat mulia. Ketika harapan hijrah mulai terbit dari arah Yatsrib, Nabi ﷺ mengutus Mush’ab ke kota tersebut untuk membuka jalan, menanamkan iman di hati penduduknya, dan menyiapkan negeri itu sebagai tempat berpindahnya kaum Muslimin nantinya.
Mush’ab menyambut amanah itu dengan kesungguhan dan penuh tanggung jawab. Kearifan pikirannya, keluhuran akhlaknya, tutur kata yang santun, serta kejujurannya dalam bersikap menjadi bukti bahwa Nabi ﷺ tidak keliru dalam memilih utusannya. Pada masa-masa awal dakwah, jumlah orang yang menyambut Islam masih sangat terbatas; tidak lebih dari dua belas orang yang berbaiat di Aqabah. Namun dalam beberapa bulan kemudian, penduduk mulai berdatangan dan memeluk agama Allah ﷻ secara berbondong-bondong.
Di Madinah, Mush’ab pernah menghadapi peristiwa yang mengancam nyawanya. Saat itu Mush’ab tengah duduk di sebuah majelis bersama para penduduk Madinah, lisannya sibuk mengalirkan hikmah dan seruan iman ke dalam kalbu para pendengarnya, namun tiba-tiba datanglah Usaid bin Hudayr dengan amarah yang meluap. Usaid mendorongnya sambil menggenggam sebilah belati tajam, lalu menodongkannya seraya menghardik Mush’ab karena dianggap telah memalingkan kaumnya dari agama nenek moyang mereka, menuju keimanan kepada Tuhan yang bahkan tak tampak wujud-Nya dan tak terlihat tempat-Nya.
Namun, Mush’ab tampak tenang bagaikan samudra yang tak bergelora. Wajahnya justru memancarkan kehangatan laksana fajar yang menyingsing. Dengan lembut, ia meminta Usaid untuk duduk dan mendengarkan. Jika setelah itu Usaid tetap membencinya, Mush’ab berjanji akan menghentikan perkataannya. Usaid yang dikenal cerdas, memahami bahwa ia sedang diajak berdialog dan bukan ditantang. Ia pun duduk dan menyimak. Maka dengan izin Allah ﷻ, cahaya iman pun menyentuh hatinya, dan Usaid pun memeluk Islam melalui perantara Mush’ab bin ‘Umair. Suara takbir dan tahlil pun sontak menggaung bersahut-sahutan kala itu.
Peristiwa itu menjadi bukti nyata keberanian, keteguhan, dan kepiawaian Mush’ab bin ‘Umair dalam berbicara serta berdialog. Ia bukan hanya cerdas dalam berlogika, tetapi juga matang secara emosional. Ia tidak menaklukkan hati manusia dengan kekerasan dan pemaksaan, melainkan dengan hikmah, kesabaran dan kelembutan.
Ketika bumi Uhud menyambut jasadnya
Pada peristiwa Uhud, kala perang berkecamuk hebat dan barisan kaum Muslimin mulai porak-poranda, Mush’ab bin ‘Umair berdiri di garis terdepan menggenggam panji Rasulullah ﷺ. Ia merangsek maju dengan keberanian yang menggetarkan. Pedangnya terhunus, tubuhnya bergerak lincah, dan ketangguhannya menjelma nyata bagai singa yang mengamuk di tengah medan laga. Tebasan demi tebasan ia ayunkan dengan gagah, dorongan keimanan dan semangat jihad pada dadanya seolah menambah kekuatan fisiknya kala itu.
Di tengah sengitnya pertempuran, sebilah pedang menebas tangan kanan Mush’ab. Ia pun segera memindahkan panji itu ke tangan kirinya untuk mencegah simbol kekuatan kaum muslimin tersebut terjatuh, namun tangan kirinya pun ditebas. Dengan tubuh yang telah bersimbah darah, Mush’ab tetap menolak untuk menyerah. Ia berdiri seraya mendekap panji dengan pangkal lengannya yang telah putus, hingga akhirnya sebuah tombak menembus tubuhnya yang telah lemah, dan Mush’ab pun gugur di medan Uhud. Mush’ab gugur sebagai syahid setelah mengerahkan seluruh hidup dan asanya demi melindungi Nabi Muhammad ﷺ dan agama Allah ﷻ yang sangat ia cintai.
Kesedihan pun menyelimuti medan perang. Ketika para sahabat hendak mengkafani jasad Mush’ab, mereka tak menemukan kain yang cukup. Mush’ab bin ‘Umair, pemuda Mekah yang dahulu hidup dalam sutra dan wewangian, kini hanya memiliki sehelai kain. Jika kain itu ditarik untuk menutup kepalanya, tampaklah kedua kakinya; dan jika ditarik untuk menutup kakinya, tersingkaplah kepalanya. Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar kepalanya ditutup dengan kain itu, sementara kakinya ditutupi dengan idkhir, yakni rumput harum yang biasa digunakan untuk penguburan.
Tak sedikit mata yang basah menyaksikan pemandangan tersebut. Jenazah Mush’ab bin ‘Umair yang tertelungkup di tanah Uhud—jasad mantan pemuda termewah di Mekah yang telah berpulang tanpa harta dan tanpa balutan perhiasan dunia, namun penuh dengan ketenangan dan kemuliaan di sisi Allah ﷻ.
Kisah Mush’ab bin ‘Umair mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada apa yang rela kita lepaskan demi kebenaran. Kisah ini juga mengajarkan kita bahwa iman yang kuat dapat memberi arah yang jelas dalam kehidupan, serta menanamkan keteguhan pada jiwa pemiliknya dalam menghadapi segala cobaan. Mush’ab telah lama gugur, namun namanya akan selalu tertoreh harum dalam sejarah Islam, sebagai contoh nyata kekuatan hati seorang pemuda yang begitu tulus mencintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
Referensi:
Biografi 60 Sahabat Nabi terjemahan Rijalun Haular Rasul, Khalid Muhammad Khalid, Ummul Qura, Jakarta, 2013.
Ash-shahabiy Al-Jaliil Mush’ab bin ‘Umair Awwalu Safiirn fil Islam wa Haamilu Liwaail Muslimin fii Ma’rakah Uhud. Aljazeera.net, diakses 15 Desember 2025 dari https://www.aljazeera.net/encyclopedia/2023/6/9/
Penulis: Silmia Rahmatul Ula
Pembimbing: Ustazah Zidni Nafi’ah, S.Ag.

