Mengenal Hadis Mudallas: Bagian Pertama

Reading Time: 3 minutes

Dalam studi ilmu hadis, istilah tadlis sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami tadlis disebut hadis mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan sanad. Akibatnya, riwayat yang sebenarnya mengandung cacat tersembunyi bisa saja dianggap kuat. Karena itu, pembahasan tentang hadis mudallas menjadi penting. Dengan memahami bentuk-bentuk tadlis, pembaca dapat lebih teliti dalam menilai keabsahan sebuah riwayat.

Landasan pembahasan hadis mudallas pun bertumpu pada ajaran Al-Qur’an agar seorang Muslim berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi agama.

Allah ﷻ berfirman:  

﴿ إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا ﴾

“Jika seseorang membawa berita kepadamu, maka periksalah kebenarannya” (QS. Al-Ḥujurāt 49:6). 

Dengan dasar inilah, pembahasan mengenai pengertian hadis mudallas dan bentuk-bentuk tadlis menjadi relevan untuk dikaji lebih jauh.

Pengertian Hadis Mudallas

Hadis mudallas adalah hadis yang dari luar terlihat bersih dan meyakinkan, tetapi sebenarnya ada bagian sanad yang disamarkan oleh perawinya. Cacat dalam sanad itu sengaja ditutupi agar riwayat tampak lebih kuat daripada kondisi aslinya. Karena penyamaran ini, sebuah hadis bisa kelihatan sahih padahal memiliki masalah tersembunyi dalam jalur periwayatannya.

Pembagian Hadis Mudallas

1. Tadlis Isnad

Tadlis isnad adalah ketika seorang perawi meriwayatkan hadis dari seorang guru yang memang pernah ia dengar beberapa hadis darinya, tetapi khusus hadis yang ia riwayatkan ini sebenarnya tidak ia dengar langsung dari guru tersebut. Ia mendapatkannya dari guru lain, namun guru itu justru “dihilangkan” dari sanad. Setelah itu, ia menyampaikan hadis tersebut dengan lafaz yang masih mungkin bermakna mendengar langsung, tetapi juga bisa tidak, seperti menggunakan kata قَالَ (qāla) <ia berkata> atau عَنْ (‘an) <dari>.

Dengan cara ini, pendengar akan mengira bahwa ia menerima hadis itu langsung dari gurunya, padahal tidak. Namun, ia tetap tidak berani memakai lafaz tegas seperti “سَمِعْتُ” (sami’tu) <aku mendengar> atau “حَدَّثَنِيْ” (haddatsani) <ia menceritakan kepadaku>, karena kalau ia melakukannya, itu sudah termasuk kedustaan. Perawi yang melakukan tadlis isnad bisa saja menghilangkan satu perawi, atau bahkan lebih.

Contoh:

ما أخرجه الحاكم بسنده إلى علي بن خشرم قال: “قال لنا ابن عيينة: عن الزهري، فقيل له: سمعته من الزهري؟ فقال: لا، ولا ممن سمعه من الزهري. حدثني عبد الرزاق عن معمر عن الزهري.”

Riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim, dengan sanadnya sampai kepada ‘Ali bin Khushram. Ia berkata:

“Ibnu ‘Uyaynah berkata kepada kami: ‘(Hadis ini) dari al-Zuhri.’ Lalu ada yang bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau mendengarnya langsung dari al-Zuhri?’ Ia menjawab, ‘Tidak, dan tidak pula dari orang yang mendengarnya langsung dari al-Zuhri. Yang menceritakannya kepadaku adalah ‘Abd al-Razzaq, dari Ma‘mar, dari al-Zuhri.’”

Dalam contoh ini, Ibnu ‘Uyaynah telah menghilangkan dua perawi antara dirinya dan al-Zuhri.

2. Tadlis Taswiyah

Tadlis taswiyah adalah tindakan seorang perawi meriwayatkan hadis dari gurunya yang terpercaya, lalu dengan sengaja menghapus satu perawi yang lemah di tengah rangkaian sanad. Karena perawi pertama dan terakhir sama-sama dianggap terpercaya serta pernah bertemu, maka ketika nama perawi lemah itu dihilangkan, sanadnya terlihat seolah seluruhnya terdiri dari orang-orang yang terpercaya.

Contoh:

Ibn Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayahnya menceritakan sebuah hadis yang diriwayatkan Ishaq bin Rahuyah dari Baqiyyah. Baqiyyah mengatakan bahwa ia mendengar dari Abu Wahb al-Asadi, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar:

لا تحمدوا إسلام المرء حتى تعرفوا عقدة رأيه

“Jangan kalian memuji keislaman seseorang sampai kalian mengenal pendirian dan pola pikirnya.”

Ayah Ibn Abi Hatim menjelaskan bahwa hadis ini sebenarnya punya masalah yang tidak banyak orang memahami. Sanad aslinya adalah:

Ubaidullah bin Amr (tsiqah) → Ishaq bin Abi Furwah (lemah) → Nafi‘ (tsiqah) → Ibnu Umar.

Namun Baqiyyah menyamarkan nama perawi yang lemah (Ishaq bin Abi Furwah). Ia mengganti penyebutan Ubaidullah bin Amr dengan kunyah-nya “Abu Wahb” dan menisbatkannya kepada Bani Asad agar tidak dikenali. Dengan begitu, rangkaian sanad tampak seakan-akan seluruh perawinya kuat.

3. Tadlis Syuyukh

Tadlis syuyukh adalah ketika seorang perawi meriwayatkan hadis dari gurunya tanpa menghapus siapa pun dari sanad, tetapi menyamarkan identitas gurunya. Bisa dengan mengubah nama, kunyah (julukan), nasab, atau ciri-cirinya, sehingga orang lain sulit mengenali siapa guru yang dimaksud.

Contoh:

Abu Bakar bin Mujahid—salah satu imam dalam ilmu qira’ah—pernah berkata:

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi ‘Abdillah”

Padahal yang ia maksud sebenarnya adalah Abu Bakar bin Abi Dawud as-Sijistani, tetapi ia menyebutnya dengan nama yang tidak biasa sehingga orang lain tidak langsung mengenalinya.

Dari pembahasan ini, kita memahami bahwa tadlis adalah bentuk penyamaran dalam sanad yang dapat memengaruhi kualitas sebuah hadis. Bentuk-bentuknya—seperti tadlis isnad, taswiyah, dan syuyukh—menunjukkan bagaimana sebuah riwayat bisa tampak kuat padahal memiliki cacat tersembunyi. Dengan mengenali jenis-jenis tadlis, kita dapat lebih teliti dalam menerima dan menyampaikan riwayat keagamaan. Semoga Allah ﷻ memberi kita ilmu yang bermanfaat dan menjadikan kita hamba yang hati-hati dalam menjaga kebenaran ajaran-Nya.

Referensi 

1. Nuzhah an-Nazar fi Tawdhih Nukhbat al-Fikar, Ibn Hajar al-‘Asqalani, Mathba‘ah ash-Shabah, Damaskus.

2. Taysir Musthalah al-Hadis, Mahmūd ath-Thahhān, Maktabah al-Ma‘arif lin-Nasyr wa at-Tawzi‘, Riyadh.

Penulis: Zashkia Rasya Kamila

Pembimbing: Ustazah Ainun Nur Hasanah, S.Ag.