{"id":555,"date":"2026-06-04T20:57:00","date_gmt":"2026-06-04T13:57:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=555"},"modified":"2026-06-13T20:59:12","modified_gmt":"2026-06-13T13:59:12","slug":"bunga-iman-yang-mekar-di-padang-eksekusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=555","title":{"rendered":"Bunga Iman yang&nbsp;Mekar&nbsp;di Padang&nbsp;Eksekusi"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Sang kesatria Ansharyang namanya harum<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Di antara kaum Anshar Madinah, berjalan seorang laki laki yang jiwanya bersih. Ia merupakan salah satu sahabat yang gemar mengunjungi Rasulullah sejak kedatangan beliau ke tanah Madinah. Ia menghabiskan hari-harinya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, dadanya dipenuhi kerinduan yang bergejolak akan surga dan pertemuan dengan <em>Rabb<\/em>-nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Namanya cukup dikenal di Madinah, sikap lapang dada berpadu dengan ketegasan yang tak dapat ditawar sudah menjadi ciri khas yang melekat pada sosoknya yang tersebar dari mulut ke mulut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dialah Khubaib bin Adiy bin Malik Al-Anshariy, seorang sahabat Rasulullah yang mengukir kepahlawanan melalui ketenangan dan keteguhan. Khubaib menorehkan kisah emasnya melalui perjuangan yang jauh dari kata mudah. Ketika sebuah ketetapan Allah membawanya pergi ke balik jeruji Mekah, Khubaib mendekap imannya kuat-kuat, mengikatnya bersama degup jantungnya seakan itu merupakan bagian dari napas yang terus membuatnya hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Namanya kini harum bersama kehebatannya yang tertulis indah dalam sejarah Islam. Sosoknya yang telah dipeluk tanah akan terus dikenang dalam benak kaum muslimin, bersama kisah heroiknya yang tak akan padam di telan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Ketika darah pemuka Quraisy tumpah di tangannya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Hari itu, panji kaum muslimin berkibar gagah di medan Badr, membakar semangat para mujahidin yang penuh gelora menyongsong syahid dan surga Allah. Hati mereka yang telah terpaut oleh janji-Nya, membuat mereka tak gentar untuk menerjang barisan musuh yang kokoh dan rapat, membuatnya kian kewalahan dan porak poranda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Diantara gemuruh pasukan dan denting pedang yang bersahut-sahutan, Khubaib berlari, mengayunkan bilah di tangannya dengan lihai dan perkasa. Ia menebas siapa pun yang menghadang langkahnya hingga satu persatu musuh gugur di tangannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Namun pada hari itu, salah satu pemuka Quraisy meregang nyawa di ujung pedang Khubaib. Ialah Al-Harits bin Amir bin Naufal. Sejak saat itu, dendam mulai tumbuh di hati keluarga Al-Harits. Nama Khubaib sang pembunuh kerabat mereka, terpatri kuat dalam ingatan dan benak mereka, disimpan bersama luka dan amarah yang tak kunjung reda. Mulai saat itu, keluarga Al-Harits mengikat janji dalam hati, bersumpah bahwa suatu hari, darah itu akan terbalaskan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Salib yang menjadi saksi keteguhan Iman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Pada suatu hari, Rasulullah berkehendak mengetahui arah pergerakan Quraisy, guna menyiapkan langkah menghadapi peperangan yang akan datang. Beliau pun mengutus sepuluh orang sahabat, termasuk Khubaib, dan menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Rombongan itu bergerak hingga mencapai daerah antara Usfan dan Mekah. Namun, tanpa mereka sadari, pergerakan itu terendus oleh penduduk kabilah Hudzail dari Bani Hayyan. Di saat yang sama, mereka segera mengerahkan seratus pemanah untuk menyusul rombongan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Kelompok pemanah itu menemukan sebutir kurma yang terjatuh di atas pasir. Dengan firasat yang tajam, mereka segera menyadari bahwa kurma itu berasal dari Yatsrib, yang kini dikenal sebagai Madinah. Dari petunjuk kecil itulah, mereka mulai menelusuri jejak, hingga akhirnya berhasil membuntuti rombongan kaum muslimin dari belakang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Ashim, sang pemimpin, segera menyadari bahwa mereka tengah diikuti. Tanpa menunggu lama, ia mengarahkan pasukannya untuk naik ke atas sebuah bukit, mencari posisi yang lebih aman. Namun, langkah itu tak menghindarkan mereka dari kebusukan kaum musyrikin. Bukit tersebut segera dikepung dari berbagai arah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Rombongan kaum muslimin pun dipaksa turun, dengan janji bahwa tidak akan ada penganiayaan terhadap mereka. Namun Ashim menolak dengan tegas. Baginya, perlindungan orang-orang musyrik tak lebih dari fatamorgana yang menipu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Penolakan itu dibayar mahal. Tanpa peringatan, anak-anak panah melesat dari segala penjuru, menghujani mereka tanpa henti laksana serpihan maut yang beterbangan. Dalam kepungan itu, tujuh orang dari mereka gugur sebagai syahid, termasuk Ashim, sang pemimpin rombongan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Pasukan pemanah itu kemudian menangkap Khubaib bersama seorang sahabat lainnya, Zaid bin Ad-Datsinah, dan mengikat tangan mereka. Sementara seorang yang tersisa dari rombongan menyaksikan semuanya. Ia memahami bahwa ini bukanlah akhir dari ancaman, melainkan awal dari pengkhianatan. Tanpa ragu, ia memilih jalan yang sama dengan tujuh orang lainnya yaitu menjemput kemuliaan syahid dengan keberanian yang mantap. Ia pun gugur, menyusul saudara-saudaranya yang telah lebih dahulu berpulang kepada <em>Rabb<\/em>-nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Khubaib dan Zaid berusaha melepaskan ikatan mereka, namun tidak berhasil. Keduanya kemudian dibawa ke Mekah. Nama Khubaib segera tersebar, membangkitkan kembali luka lama keluarga Al-Harits bin Amir yang terbunuh di Perang Badar. Dendam itu pun berujung pada keputusan untuk membeli Khubaib dan menjadikannya sasaran pelampiasan amarah mereka. Sementara itu, Zaid bin Ad-Datsinah lebih dahulu menanggung siksaan yang pedih dari Quraisy Mekah, kebencian mereka terhadap Islam membuat Zaid terus menerima penganiayaan dari hari ke hari, hingga akhirnya, ia pun gugur sebagai seorang syahid yang mulia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dalam keterasingan, hati Khubaib tetap tenang, imannya yang kokoh seakan melebur seluruh rasa takutnya terhadap penderitaan di dunia, menggantinya dengan rasa tentram yang menyejukkan dadanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Orang-orang musyrik terus berjuang untuk menggoyahkan iman Khubaib, mereka berusaha menghancurkan keteguhannya dengan kabar wafatnya Zaid serta seluruh siksaan yang telah mereka timpakan padanya. Mereka menjanjikan kebebasan jika Khubaib mau mengingkari Rasulullah dan meninggalkan agamanya. Tawaran itu Khubaib tolak mentah mentah, baginya iman serta agamanya jauh lebih berharga dari seluruh hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Ketika tiba saatnya, Khubaib digiring ke Tan\u2019im, tempat di mana kematiannya telah direncanakan. Di sana, mereka menyalibnya di atas batang kayu, mengikat tubuhnya dengan kuat, menjadikannya sasaran dari kebencian yang telah lama mereka simpan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Sebelum itu, ia meminta izin untuk menunaikan shalat dua rakaat. Ia berdiri dengan tenang, menunaikannya dengan khusyuk, seakan tidak ada apa pun di hadapannya selain <em>Rabb<\/em> yang ia sembah. Setelah selesai, ia menegaskan bahwa ia tidak memperpanjang shalatnya agar tidak disangka gentar menghadapi kematian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dalam keadaan tersalib, tubuhnya menjadi sasaran anak panah dan sayatan pedang, luka demi luka mereka ukir di tubuh Khubaib dengan puas. Ketika ditanya apakah ia rela jika Rasulullah menggantikan posisinya dan ia dibiarkan bebas, ia menjawab dengan tegas bahwa ia tidak rela hidup dalam kenyamanan sementara Rasulullah tersakiti walau hanya oleh duri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Jawabannya yang lugas membuat banyak orang Quraisy Mekah tertegun menyaksikan keteguhannya. Di bawah terik matahari, dalam keadaan tersalib dan tubuh yang bersimbah darah, yang tertanam kuat dalam hatinya hanyalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Kala tubuh Khubaib tak lagi kuat menerima siksaan tersebut, ia pun menghembuskan napas terakhirnya, dengan wajah yang tenang dan keimanan yang tak goyah barang sesaat saja, Khubaib menutup hidupnya dengan kemuliaan syahid. Tubuhnya terikat, namun imannya berdiri bebas, tidak tunduk, tidak pula runtuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Di sekitar jasadnya, burung-burung pemakan bangkai sempat berputar di udara, menanti sebagaimana naluri mereka. Ketika ia telah wafat dan mereka mulai turun untuk mendekat, tiba-tiba mereka kembali berputar, lalu menjauh tanpa menyentuh jasad Khubaib sedikit pun, seakan akan mengetahui kemuliaan jiwa yang dulu bersemayam di dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Di Madinah, Rasulullah merasakan kabar duka itu, beliau pun mengutus sahabat untuk mengambil jasad Khubaib.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Khubaib dimakamkan di tempat yang tidak diketahui, seakan kisahnya memang tidak ditinggalkan pada tempat, melainkan pada keteguhan yang terus hidup dalam ingatan.Top of Form<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Khubaib telah membuktikan loyalitasnya terhadap agama Allah hingga titik akhir hidupnya. Ia menunjukkan bahwa apa yang diyakini dalam hati akan tetap diperjuangkan, sekalipun harus ditebus dengan nyawa dan sisa napasnya\u0632<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\">Referensi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\">Khalid, K. M. (2013, Oktober).&nbsp;Biografi&nbsp;60&nbsp;Sahabat&nbsp;Nabi&nbsp;(Terjemahan&nbsp;dari&nbsp;Rijalun&nbsp;HaularRasul). Jakarta:&nbsp;Ummul&nbsp;Qura.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\">Penulis:&nbsp;Silmia&nbsp;Rahmatul&nbsp;Ula<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\">Dosen&nbsp;Pembimbing:&nbsp;Ustazah&nbsp;Zidni&nbsp;Nafi\u2019ah,&nbsp;S.Ag.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5 wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Sang kesatria Ansharyang namanya harum Di antara kaum Anshar Madinah, berjalan seorang laki laki yang jiwanya bersih. Ia merupakan salah satu sahabat yang gemar mengunjungi Rasulullah sejak kedatangan beliau ke tanah Madinah. Ia menghabiskan hari-harinya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, dadanya dipenuhi kerinduan yang bergejolak akan surga dan pertemuan dengan Rabb-nya. Namanya cukup [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":554,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-555","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/img_1651.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":475,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=475","url_meta":{"origin":555,"position":0},"title":"Di Balik Kemenangan Perang&nbsp;Badar","author":"fahimna","date":"23 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perang\u00a0Badar\u00a0merupakan simbol awal dari kemenangan kaum Muslimin. Namun,\u00a0di balik \u00a0kemenangan tersebut justru membuat Madinah memasuki masa yang penuh\u00a0ketegangan. Madinah tidak pernah benar-benar dalam keadaan aman pada masa setelah Perang Badar sampai Perang Uhud. Berbagai macam\u00a0ancaman\u00a0terus datang, mulai dari aktivitas militer untuk menjaga wilayah, rencana konspirasi yang mengancam nyawa\u00a0NabiMuhammad\u00a0\ufdfa\u00a0hingga konflik terbuka\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":58,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=58","url_meta":{"origin":555,"position":1},"title":"BAIAT AQABAH KEDUA","author":"fahimna","date":"30 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-13 kenabian, suasana malam di Mina begitu hening. Di tengah sunyinya lembah Aqabah, sekelompok lelaki dan dua perempuan dari Madinah dengan hati yang berdebar berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Jumlah mereka tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah kaum Anshar yang telah memeluk Islam melalui\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":508,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=508","url_meta":{"origin":555,"position":2},"title":"Perang Uhud","author":"fahimna","date":"10 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Kekalahan kaum musyrikin Mekkah di Perang Badar meninggalkan luka dan kemarahan. Banyak pemimpin Quraisy terbunuh, sehingga mereka bertekad membalas kekalahan itu. Harta dagang yang sempat diselamatkan Abu Sufyan dikumpulkan kembali untuk membiayai persiapan perang. Quraisy juga mengajak berbagai kabilah untuk bergabung, memanfaatkan para penyair untuk membangkitkan semangat, serta membawa sebagian\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Siroh&quot;","block_context":{"text":"Siroh","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=9"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":514,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=514","url_meta":{"origin":555,"position":3},"title":"Sang Diplomat Ulung dan Bayangan Rasul","author":"fahimna","date":"20 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Keislaman dan Kemiripannya dengan Rasulullah \ufdfa Pada masa awal kenabian, penyiksaan dan penganiayaan terus-menerus menimpa kaum muslimin di Mekah. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh air mata, pengorbanan dan kesabaran yang tidak terhitung. Namun, alih-alih surut, jumlah pemeluk Islam justru terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal itu membuat\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1644.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1644.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1644.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1644.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1644.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":236,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=236","url_meta":{"origin":555,"position":4},"title":"Perang Badar Kubra","author":"fahimna","date":"27 November 2025","format":false,"excerpt":"Perang Badar merupakan salah satu peristiwa yang sangat berpengaruh dalam mengubah peta kekuatan bagi kaum Muslimin karena perang ini merupakan kemenangan pertama bagi umat Islam. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah. Latar Belakang Peperangan Kaum Muslimin telah Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala izinkan untuk melawan kezaliman yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":459,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=459","url_meta":{"origin":555,"position":5},"title":"Mush\u2019ab bin&nbsp;\u2018Umair: Sang Rupawan yang Menukar Sutra dengan Debu","author":"fahimna","date":"13 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perjalanan dari kemewahan menuju kemuliaan iman Senja itu, kala langit Mekah\u00a0mulai meredup teriknya, seorang pemuda rupawan memantapkan langkahnya menuju majelis Nabi\u00a0\ufdfa\u00a0di\u00a0Dar Al-Arqam, sikapnya anggun, pakaiannya indah, dan parasnya begitu menawan. Ia menapaki bukit Safa seorang diri, menyapa penghujung hari dengan hati yang penuh akan rasa harap dan penasaran. Di umurnya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/555","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=555"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/555\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":556,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/555\/revisions\/556"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=555"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=555"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=555"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}