{"id":530,"date":"2022-08-04T13:21:00","date_gmt":"2022-08-04T06:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=530"},"modified":"2026-06-06T13:21:31","modified_gmt":"2026-06-06T06:21:31","slug":"biografi-imam-an-nasaai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=530","title":{"rendered":"BIOGRAFI IMAM AN-NASAA\u2019I"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibnu Umar pernah berkata dalam salah satu atsar, bahwa barangsiapa yang ingin mengikuti jejak seseorang (mengidolakan), hendaknya ia mengikuti jejak mereka yang sudah wafat. Karena orang-orang yang masih hidup tidaklah terlepas dari fitnah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita mengamini pernyataan beliau sembari menengok kembali ke para pendahulu kita yang menorehkan noktah cemerlang dalam lembaran hikayat pertarikhan. Kita membaca cerita mereka dan akhirnya mempertanyakan \u201cSiapa kita dibanding mereka?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mempelajari biografi ulama dan menelusuri kisah hidup mereka yang luar biasa adalah salah satu langkah pertama dalam proses \u201cnapak tilas\u201d, perjalanan menempuh jejak yang sama sebagaimana yang mereka tempuh, demi meraih kemuliaan yang agung dan keistimewaan yang besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diantara orang-orang dengan goresan keemasan dalam sejarah adalah tokoh yang akan kita bahas, Imam An-Nasaa\u2019i.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">NASAB DAN KELAHIRAN<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beliau adalah Imam Abu Abdirrahman Ahmad bin Syua\u2019ib bin Ali bin Sinan bin Bahr An-Nasaa\u2019i. Beliau lahir pada tahun 215 H di Nasaa, sebuah kota di Khurasan. Khurasan sendiri merupakan sebuah wilayah yang mencakup banyak negara, meliputi Afghanistan, Iran, Pakistan dan beberapa negara di Asia Tengah pada era itu. Adapun Nasaa, kota tersebut konon dinamai Nasaa karena dinisbatkan kepada Nisaa yang bermakna wanita. Manakala kaum muslimin di masa penaklukan sampai ke kota ini, para lelaki kabur meninggalkan tempat tinggal mereka dan para wanitalah yang mempertahankan kota dan maju angkat senjata. Namun wanita tidaklah diperangi, sehingga pertempuran dihentikan dan kota tersebut dinisbatkan kepada wanita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SEMANGAT BELAJAR DAN KEILMUAN<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Nasaa\u2019i muda pertama kali memulai perjalanan mencari ilmu di Naisabur, yang kira-kira harus ditempuh dengan jarak sepekan perjalanan. Selepas dari Naisabur, beliau bertolak menuju Baghdad dan berguru kepada Qutaibah selama sekitar satu tahun 2 bulan, dan itu bertepatan pada tahun 235 H, yaitu manakala beliau masih berusia 20 tahun. Perjalanan itu dilanjutkan ke Moro, kemudian Iraq, Syam, Mesir, Khurasan, Hijaz, dan negara-negara lainnya di berbagai belahan dunia keislaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">GURU-GURU<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diantara ulama yang beliau ambil ilmunya adalah Ishaq bin Rahawaih, yang beliau temui majelisnya di Naisabur di awal rihlah beliau.Kemudian beliau juga mengambil hadis dari Imam Bukhari, Ahmad bin Hanbal dan putranya, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, juga dari Imam Abu Dawud As-Sijistani. Terdapat pula nama ulama kenamaan lainnya semisal Hisyam bin\u2019Ammar, Muhammad bin Rafi\u2019, Muhammad bin Nazhr Al-Masawir, Suwaid bin Nashr, Amr bin Zurarah Al-Kalbi, Ibrahim bin Ya\u2019qub Al-Jauzajaani, Mahmud bin Ghaylan, Muhammad bin Nashr Al-Marwazi, dll.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MURID-MURID<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diantara orang-orang yang mengambil hadits dan berguru kepada beliau adalah putra beliau, Abdul Karim, juga Imam Thabrani, Abu Awaanah, Abu Ja\u2019far Ath-Thahaawi, Abu Ja\u2019far Al-Aqili, Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Al-Haddad (dan beliau meriwayatkan keseluruhan hadisnya hanya dari jalur Imam Nasaa\u2019i), juga rawi sunan beliau, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishaq Ibnus Sunni. Murid beliau yang tidak disebutkan masihlah sangat banyak, dan tidak mungkin disebutkan disini satu persatu. Nama-nama yang sudah disebutkan sebelumnya cukup membuktikan kredibilitas dan kebesaran beliau sebagai ulama hadis pada zamannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">KARYA-KARYA<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">As-Sunan Al-Kubra<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">As-Sunan Al-Mujtabaa \/ Sunan Nasaa\u2019I, yang disebut merupakan ringkasan riwayat sahih dari hadits dalam kitab sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fadhail As-Shahabah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Khasaaish Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adh-Dhuafaa\u2019 wal Matrukin<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Muntaqaa min Amalil Yaum wal Lailah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PUJIAN ULAMA TERHADAP BELIAU<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Abu Ali An-Naisaburi, salah seorang murid beliau mengatakan, \u201cAn-Nasaa\u2019i adalah imam hadits, tanpa diragukan sedikitpun\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Husain bin Al-Muzhaffar mengatakan, \u201cAku mendengar dari guru-guruku di Mesir, mereka semua mengakui kehebatan Abu Abdurrahman An-Nasaa\u2019i dan kepantasannya menjadi imam bagi mereka. Mereka menggambarkan keteguhannya dalam beribadah siang dan malam, upayanya untuk berhaji setiap tahun dan berjihad, menghidupkan sunnah, menghindari majelis-majelis bersama penguasa, d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">an itu semua merupakan kegiatan beliau sampai wafatnya beliau dalam keadaan syahid.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">WAFAT DAN UMUR<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Nasaa\u2019i wafat pada usia 88 tahun, pada bulan Sya\u2019ban tahun 303 H. Tatkala itu beliau melihat realita bahwa penduduk Damaskus berpaling dari memuliakan Ali bin Abi Thalib sehingga beliau menyusun sebuah kitab mengenai keutamaan Ali. Sentimen terhadap Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya beserta pengikutnya memang masih bergejolak kala itu walaupun kekuasaan telah berpindah ke tangan Dinasti Abbasiyyah. Kitab beliau tersebut kemudian dibawa ke Syam, ke sebuah wilayah yang pernah menjadi pusat kekuasaan Dinasti Umawiyyah sebelum keruntuhan. Lalu orang-orang menanyakan keutamaan Abu Bakar, Umar dan Muawiyah radhiyallahu anhum sehingga beliau kembali menulis buku mengenai keutamaan para sahabat. Namun beliau tidaklah melanjutkan penulisan mengenai keutamaan Muawiyah sehingga orang-orang menuduh beliau menganut paham Syi\u2019ah, lalu mereka mulai merendahkan beliau, memukuli, dan mencela kehormatan beliau. Hingga kemudian beliau dibawa bertolak ke Makkah dalam keadaan sakit. Beliau wafat di Makkah. Semoga Allah mengaruniakan kepada beliau kesyahidan dan melapangkan kubur beliau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis Artikel: Khumairo\u2019 Binti Fritz<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembimbing: Ustadz Hendri Waluyo Lensa, Lc.M.Hum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Referensi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. Siyar A\u2019laamin Nubalaa\u2019, Syamsuddin Adz-Dzahabi, cetakan Muassasah Ar-Risalah, Beirut<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. Sunan An-Nasaa\u2019i , Ahmad bin Ali An-Nasaa\u2019i, cetakan Penerbit Daaarussalam, Riyadh<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Ibnu Umar pernah berkata dalam salah satu atsar, bahwa barangsiapa yang ingin mengikuti jejak seseorang (mengidolakan), hendaknya ia mengikuti jejak mereka yang sudah wafat. Karena orang-orang yang masih hidup tidaklah terlepas dari fitnah. Kita mengamini pernyataan beliau sembari menengok kembali ke para pendahulu kita yang menorehkan noktah cemerlang dalam lembaran hikayat pertarikhan. Kita membaca cerita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-530","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-biografi"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":175,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=175","url_meta":{"origin":530,"position":0},"title":"Sang Peniru Ulung Rasulullah","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Penulis: Neisya Iffah Zahrah Garis Keturunan yang Mulia Saat telah memasuki usia senjanya, ia berbicara, \u201cAku telah berbaiat kepada Rasulullah dan sampai saat ini, aku tidak pernah merusak atau mengingkari janji itu. Aku tidak pernah berbaiat kepada pengobar fitnah dan tidak pula membangunkan orang mukmin kala tidurnya.\u201d Kalimat tersebut merupakan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":173,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=173","url_meta":{"origin":530,"position":1},"title":"Sang Peniru Ulung Rasulullah shallahu &#8216;alaihi wasallam","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Penulis: Neisya Iffah Zahrah Sesaat setelah Mu\u2019awiyah II putra Yazid meninggalkan jabatan khalifahnya, semua orang menaruh harapan agar Ibnu Umar lah yang mengisi kekosongan itu, hingga Marwan menemuinya dan hendak membaiatnya, namun Ibnu Umar lagi\u2013lagi menolak karena orang\u2013orang dari wilayah timur enggan membaiatnya. Sedangkan yang saat itu Ibnu Umar inginkan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":297,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=297","url_meta":{"origin":530,"position":2},"title":"Biografi Imam Al Bazzar","author":"fahimna","date":"26 Februari 2023","format":false,"excerpt":"\u201cTak kenal maka ta\u2019aruf\u201d. Pernyataan ini tak begitu asing terdengar di sekitar kita. Kita tak bisa mengagumi seseorang tanpa mengenal orang tersebut. Dan kita tak bisa mengenal seseorang jika kita tak mencoba mengenalinya. Bagi para penuntut ilmu, nama Al- Bazzar cukup masyhur mengingat beliau adalah seorang penulis musnad yang sering\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":534,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=534","url_meta":{"origin":530,"position":3},"title":"BIOGRAFI IMAM IBNU HIBBAN","author":"fahimna","date":"26 Oktober 2022","format":false,"excerpt":"Meskipun zaman generasi utama sudah berlalu, estafet kemuliaan masih tetap digulirkan. Siapapun yang ingin merengkuh keutamaan, hendaknya ia mengejar kemuliaan. Menjadi penerus baru dari generasi yang telah berlalu tidak seharusnya melemahkan semangat kita tapi malah sebaliknya menjadi pembangkit dan penguat. Sebab setiap masa memiliki perjuangannya, orang dari masa lampau berjuang,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":528,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=528","url_meta":{"origin":530,"position":4},"title":"BIOGRAFI IMAM AD-DARIMI","author":"fahimna","date":"19 Oktober 2022","format":false,"excerpt":"Bagi sebagian besar penuntut ilmu, terlebih lagi mereka yang bergelut di bidang ilmu hadits dan cabangnya, mendengar nama Imam Ad-Darimi tentu bukanlah hal yang asing. Ad-Darimi sendiri pada dasarnya merupakan gelar yang dinisbatkan kepada Darim bin Malik dari bani Tamim. Ada beberapa ulama yang juga menisbahkan diri kepada nama Darim.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":532,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=532","url_meta":{"origin":530,"position":5},"title":"BIOGRAFI IMAM ABU DAWUD","author":"fahimna","date":"1 Mei 2022","format":false,"excerpt":"NASAB DAN KELAHIRAN Imam Abu Dawud rahimahullah, begitulah nama beliau lebih dikenal di kalangan kaum muslimin. Adapun nama lengkap beliau adalah Sulaiman bin Al-Asy\u2019ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad bin Amr bin Imran Al-Azdi As-Sijistani. Beliau lahir di kota Sijistan, sebuah wilayah di sebelah barat daya Afghanistan pada tahun\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/530","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=530"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/530\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":531,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/530\/revisions\/531"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=530"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=530"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=530"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}