{"id":518,"date":"2026-05-22T09:03:00","date_gmt":"2026-05-22T02:03:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=518"},"modified":"2026-05-23T09:06:36","modified_gmt":"2026-05-23T02:06:36","slug":"bolehkah-mengulang-salat-karena-ragu-sah-atau-tidak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=518","title":{"rendered":"Bolehkah Mengulang Salat karena Ragu Sah atau Tidak?"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Salat merupakan salah satu rukun Islam yang paling utama. Ibadah ini dilakukan lima kali sehari dan menjadi tolok ukur ketaatan seorang muslim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Sah atau tidaknya salat ditentukan oleh terpenuhinya syarat dan rukun. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang merasa ragu: apakah salat yang telah dilakukan sudah sah atau belum? Lalu, bolehkah mengulang salat hanya karena ragu?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Keraguan dalam ibadah adalah hal yang manusiawi. Akan tetapi, syariat Islam memberikan batasan agar keraguan tidak berubah menjadi sikap berlebihan (<em>ghuluw<\/em>). Dalam artikel ini, kita akan membahas syarat dan rukun salat yang menentukan sah atau tidaknya salat, serta pandangan ulama tentang mengulang salat karena rasa ragu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Syarat dan Rukun Salat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dalam ilmu fikih, syarat dan rukun merupakan penentu sahnya ibadah. Jika salah satu syarat atau rukun tidak terpenuhi, maka salat menjadi tidak sah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>1. Syarat Salat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Syarat adalah ketentuan yang harus dipenuhi sebelum shalat dilaksanakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Menurut <em>Imam an-Nawawi<\/em> dalam <em>Al-Majmu\u2019 Syarh al-Muhadzdzab<\/em>, syarat salat di antaranya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Islam<\/strong>: Salat hanya sah bagi muslim.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Berakal dan balig<\/strong>: Anak kecil dan orang yang tidak berakal tidak dibebani kewajiban.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Suci dari hadas dan najis<\/strong>: Harus dalam keadaan berwudu (atau mandi wajib jika junub), serta badan, pakaian, dan tempat suci dari najis.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dan keraguan paling sering muncul pada dua hal: wudu dan kesucian dari najis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>2. Rukun Salat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Rukun adalah bagian yang harus dilakukan dalam salat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Menurut <em>Ibnu Qudamah<\/em> dalam <em>Al-Mughni<\/em>, rukun salat meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Niat<\/li>\n\n\n\n<li>Takbiratul ihram<\/li>\n\n\n\n<li>Berdiri (bagi yang mampu)<\/li>\n\n\n\n<li>Membaca Al-Fatihah<\/li>\n\n\n\n<li>Rukuk dengan <em>tuma\u2019ninah<\/em><\/li>\n\n\n\n<li><em>I\u2019tidal<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Sujud dua kali dengan <em>tuma\u2019ninah<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Duduk di antara dua sujud dengan <em>tuma\u2019ninah<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Tertib<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Jika salah satu rukun ditinggalkan, salat menjadi tidak sah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Pendapat Ulama tentang Mengulang Salat karena Ragu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Masalah ini termasuk dalam pembahasan <em>masail al-wahn<\/em> (perkara keraguan). Para ulama menjelaskannya secara rinci agar tidak terjadi sikap berlebihan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>1. Keraguan Ringan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Menurut <em>Imam asy-Syirazi<\/em> dalam <em>Al-Umm<\/em> dan <em>Wahbah az-Zuhaili<\/em> dalam <em>Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu<\/em>, keraguan ringan harus <strong>diabaikan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ragu apakah masih punya wudu<\/li>\n\n\n\n<li>Ragu terkena najis tanpa bukti jelas<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dalam kondisi ini, seseorang dianjurkan berpegang pada keyakinan yang kuat. Ia tidak perlu mengulang salat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>2. Keraguan yang Berdampak pada Rukun<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Jika keraguan berkaitan dengan rukun, maka hukumnya berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Lupa sudah rukuk atau belum<\/li>\n\n\n\n<li>Lupa sudah sujud dua kali atau belum<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Menurut <em>Imam an-Nawawi<\/em> dalam <em>Al-Majmu\u2019<\/em>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Jika <strong>yakin<\/strong> sudah melakukannya \u2192 salat tetap <strong>sah<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Jika <strong>tidak yakin<\/strong> sama sekali \u2192 wajib <strong>mengulangi<\/strong> bagian tersebut<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Ada sebuah kaidah fikih yang bebrunyi,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">\u0627\u0644\u064a\u0642\u064a\u0646 \u0644\u0627 \u064a\u0632\u0648\u0644 \u0628\u0627\u0644\u0634\u0643<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Artinya: <em>Keyakinan tidak hilang karena keraguan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Pendapat Mazhab<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dalam <em>Al-Umm<\/em>, <em>Imam asy-Syafi\u2018i<\/em> menjelaskan bahwa keraguan tanpa dasar yang jelas harus diabaikan. Pendapat ini diikuti mayoritas ulama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dalam mazhab Hanbali, jika ragu saat salat berlangsung, maka bagian yang diragukan harus diulang saat itu juga. Namun, jika salat telah selesai, keraguan diabaikan kecuali ada kepastian kesalahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Allah berfirman:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">&nbsp;(QS. Al-Baqarah: 286) \u0644\u0627 \u064a\u0643\u0644\u0641 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0646\u0641\u0633\u0627 \u0625\u0644\u0627 \u0648\u0633\u0639\u0647\u0627<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Aturan ini mengandung beberapa hikmah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menghindarkan dari sikap berlebihan dalam ibadah<\/li>\n\n\n\n<li>Menjauhkan dari <em>waswas<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Menumbuhkan prasangka baik terhadap ibadah sendiri<\/li>\n\n\n\n<li>Menjaga ketenangan dan kekhusyukan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Keraguan dalam salat adalah hal yang umum. Namun, keraguan yang tidak memiliki dasar yang jelas tidak boleh menjadi alasan untuk mengulang salat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Seorang muslim dianjurkan berpegang pada keyakinan yang kuat. Dan salat hanya perlu diulang jika ada kepastian bahwa rukun tidak terpenuhi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Al-Majmu\u2019 Syarh al-Muhadzdzab<\/em>, an-Nawawi<\/li>\n\n\n\n<li><em>Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu<\/em>, Wahbah az-Zuhaili<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Penulis: <\/strong>Nadia Shafira Abidin<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Pembimbing: <\/strong>Ustaz Musyafi Usman, B.A., M.H.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">&nbsp;   <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Salat merupakan salah satu rukun Islam yang paling utama. Ibadah ini dilakukan lima kali sehari dan menjadi tolok ukur ketaatan seorang muslim. Sah atau tidaknya salat ditentukan oleh terpenuhinya syarat dan rukun. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang merasa ragu: apakah salat yang telah dilakukan sudah sah atau belum? Lalu, bolehkah mengulang salat hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":517,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fikih"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1645-1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":450,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=450","url_meta":{"origin":518,"position":0},"title":"Safar dan Rukhsah bagi Musafir","author":"fahimna","date":"2 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Safar (perjalanan) merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan kemudahan (rukhsah) bagi hamba-Nya yang melakukan perjalanan agar tetap dapat melaksanakan ibadah dengan benar tanpa memberatkan. Pemahaman tentang safar dan rukhsah sangat penting agar seorang musafir tidak berlebihan dalam mengambil keringanan ibadah dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":264,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=264","url_meta":{"origin":518,"position":1},"title":"Darah Haid, Nifas, atau Istihadhah. Jangan Salah!","author":"fahimna","date":"3 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Pembahasan mengenai darah yang keluar dari rahim wanita menempati posisi penting dalam fikih Islam karena berkaitan langsung dengan hukum-hukum ibadah seperti salat, puasa, dan hubungan suami istri. Dalam syariat, darah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu haid, nifas, dan istihadhah. Ibnu Rusyd dalam (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid)\u00a0menjelaskan ketiganya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":417,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=417","url_meta":{"origin":518,"position":2},"title":"Muthlaq dan Muqayyad","author":"fahimna","date":"20 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Definisi Muthlaq Muthlaq adalah lafaz yang menunjukkan satu hal tanpa syarat atau batasan apapun, menyebut sesuatu secara umum, tidak dijelaskan jenisnya, sifatnya, atau kriterianya. \u2022 Muthlaq biasanya berupa kata nakirah. Apa itu nakirah? Nakirah adalah kata yang tidak menunjukkan sesuatu tertentu (tidak spesifik). Ia menunjukkan sesuatu yang umum, belum ditentukan,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ulumul Quran&quot;","block_context":{"text":"Ulumul Quran","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=29"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":175,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=175","url_meta":{"origin":518,"position":3},"title":"Sang Peniru Ulung Rasulullah","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Penulis: Neisya Iffah Zahrah Garis Keturunan yang Mulia Saat telah memasuki usia senjanya, ia berbicara, \u201cAku telah berbaiat kepada Rasulullah dan sampai saat ini, aku tidak pernah merusak atau mengingkari janji itu. Aku tidak pernah berbaiat kepada pengobar fitnah dan tidak pula membangunkan orang mukmin kala tidurnya.\u201d Kalimat tersebut merupakan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":219,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=219","url_meta":{"origin":518,"position":4},"title":"Peristiwa Isra\u2019 dan Mi\u2019raj Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam","author":"fahimna","date":"12 November 2025","format":false,"excerpt":"Penulis : Sumayyah Tatkala Rasulullah\u00a0shalallahu\u00a0\u2018alaihi wa\u00a0sallam\u00a0mengalami kesedihan dan kesulitan ketika berdakwah, Allah\u00a0Ta\u2019ala\u00a0menghibur beliau dengan peristiwa\u00a0Isra\u2019\u00a0dan\u00a0Mi\u2019raj. Jika diartikan secara bahasa,\u00a0Isra\u2019\u00a0adalah perjalanan yang dilakukan di malam hari dan\u00a0mi\u2019raj\u00a0artinya naik. \u00a0Lalu arti secara keseluruhan,\u00a0Isra\u2019\u00a0\u00a0dan\u00a0Mi\u2019raj\u00a0adalah perjalanan Rasulullah\u00a0shalallahu\u00a0\u2018alaihi wa\u00a0sallam\u00a0di malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha kemudian naik ke\u00a0sidratulmuntaha. Sebelum perjalanannya dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha,\u00a0Rasulullah\u00a0shalallahu\u00a0\u2018alaihi wa\u00a0sallam\u00a0mengalami\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_1172.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_1172.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_1172.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_1172.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_1172.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":488,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","url_meta":{"origin":518,"position":5},"title":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam","author":"fahimna","date":"13 April 2026","format":false,"excerpt":"Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=518"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/518\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":519,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/518\/revisions\/519"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/517"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}