{"id":514,"date":"2026-05-20T22:35:56","date_gmt":"2026-05-20T15:35:56","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=514"},"modified":"2026-05-20T22:35:56","modified_gmt":"2026-05-20T15:35:56","slug":"sang-diplomat-ulung-dan-bayangan-rasul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=514","title":{"rendered":"Sang Diplomat Ulung dan Bayangan Rasul"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 5<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Keislaman dan Kemiripannya dengan Rasulullah <\/strong>\ufdfa<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Pada masa awal kenabian, penyiksaan dan penganiayaan terus-menerus menimpa kaum muslimin di Mekah. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh air mata, pengorbanan dan kesabaran yang tidak terhitung. Namun, alih-alih surut, jumlah pemeluk Islam justru terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal itu membuat dada kaum Quraisy semakin dipenuhi kedengkian dan amarah, yang kemudian mereka tumpahkan dalam bentuk cobaan bertubi-tubi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Tatkala ujian yang dihadapi kaum muslimin kian berat, Rasulullah \ufdfa memerintahkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah, wilayah yang kini dikenal sebagai Etiopia. Pada saat itu, seorang lelaki maju ke hadapan Rasulullah \ufdfa &nbsp;dengan penuh keteguhan ia menawarkan diri untuk ikut serta dalam hijrah pertama kaum muslimin bersama istrinya. Tutur katanya terdengar lembut dan santun. Ia tampak memesona dengan keelokan parasnya dan wibawa alami yang dimilikinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Lelaki itu bernama Ja\u2019far bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah \ufdfa &nbsp;sekaligus salah seorang sahabat yang masuk Islam pada masa-masa awal kenabian. Ja\u2019far dikenal sebagai sosok yang sangat mirip dengan Rasulullah, baik dari segi sikap maupun perawakan. Wajahnya tampan dengan kulit cerah bercahaya, lisannya begitu terjaga dan jiwanya bersih. Kerendahan hati serta keberaniannya turut menghiasi kemuliaan sosoknya yang penuh ketakwaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Rasulullah \ufdfa&nbsp; menjulukinya <em>Ab\u016b al-Mas\u0101k\u012bn<\/em> (bapak kaum miskin) sebuah gelar yang lahir dari kezuhudannya dan kepeduliannya terhadap orang orang miskin. Tanpa rasa gengsi, ia kerap duduk bersama mereka, menanyakan kabar dan memperhatikan keadaan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Setelah hijrah ke Habasyah, Ja\u2019far dikaruniai tiga orang anak, yaitu Muhammad, Abdullah dan Auf. Kepindahannya di tempat baru tak lantas membuatnya jatuh dalam keterasingan atau memilih jalan yang bermudah-mudahan. Di Habasyah, Ja\u2019far tampil sebagai juru bicara kaum muslimin yang fasih dan cerdas. Dengan ketenangan serta ketajaman akal yang Allah \ufdfb anugerahkan kepadanya, Ja\u2019far berhasil menorehkan peristiwa diplomasi memukau dalam sejarah Islam, yang kelak akan menyelamatkan kaum muslimin dari gangguan Quraisy Mekah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Namun, kisah heroiknya tidak berhenti di sana. Selama masa hidupnya, Ja\u2019far memberikan seluruh asa dan jiwanya untuk agama yang amat ia cintai. Ja\u2018far melangkah hingga akhir napasnya dengan keimanan yang menancap kuat di dada, menyerahkan nyawanya bersama syahadat yang terucap mantap tanpa keraguan. Kini, namanya harum sebagai seorang pahlawan yang membela Islam dengan lisan dan pedangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Diplomasi di Habasyah: Kecerdasan Ja\u2019far bin Abi Thalib<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Habasyah dikenal sebagai negeri yang aman dan damai. Di sana berdiri sebuah kerajaan yang diperintah dengan keadilan. Di singgasana tahtanya duduk seorang pemimpin yang dikenal karena kecerdasan akalnya serta keluhuran hatinya. Ia adalah Ashamah bin Abjar, raja yang lebih masyhur dengan gelar <em>Najasyi<\/em>, seorang penganut agama Nasrani yang lurus dan jauh dari penyimpangan akidah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Kedatangan kaum muslimin ke Habasyah disambut dengan baik oleh <em>Najasyi<\/em> dan penduduknya, hal ini kemudian menjadi angin segar bagi kaum muslimin yang telah berada dalam tekanan berat di waktu yang lama. Namun tidak bagi kaum Quraisy Mekah, kabar akan diterimanya kaum muslimin di tanah Habasyah, tampak memperburuk rasa dengki di hati mereka. Rasa takut akan berkembangnya Islam dan amarah mereka terhadap Rasulullah mendorong mereka untuk merenggut kembali kedamaian yang baru saja di rasakan oleh kaum muslimin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Kaum Quraisy segera mengutus dua orang juru bicara terbaik mereka, yaitu Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi\u2019ah untuk memohon kepada <em>Najasyi<\/em> agar berkenan untuk mengembalikan kaum muslimin ke tanah Mekah dan menarik kembali perlindungan yang telah ia berikan. Mereka mengirimkan banyak hadiah berharga untuk <em>Najasyi<\/em> dan para pendetanya bersama dengan Amr dan Abdullah. Namun, nama baik dan kecerdasan <em>Najasyi<\/em> telah terlebih dahulu sampai di telinga kaum Quraisy. Hal ini menimbulkan sedikit kekhawatiran pada diri mereka akan kegagalan tipu muslihat yang telah mereka buat, kaum Quraisy pun merencanakan strategi licik dengan memerintahkan Amr dan Abdullah untuk membujuk para pendeta terlebih dahulu sebelum menghadap kepada <em>Najasyi<\/em>,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Hari yang direncanakan pun tiba, kedua utusan Quraisy tersebut pergi menemui <em>Najasyi<\/em> dan menyampaikan niat kedatangan mereka. \u201cWahai Baginda Raja, orang-orang ini telah meninggalkan agama kaumnya tanpa memeluk agama paduka. Mereka datang membawa ajaran baru yang asing bagi kami maupun bagi paduka. Karena itu, para pemuka dan keluarga mereka mengutus kami agar paduka berkenan mengembalikan mereka kepada kaumnya.\u201d Ucap Amr, intonasi dan tutur katanya tersusun dengan percaya diri, mengalir lancar dari seorang lelaki yang dikenal cerdas berbicara dan piawai memainkan kata-kata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><em>Najasyi <\/em>yang cermat pun kini mengalihkan pandangannya kepada kaum muslimin yang telah ia panggil \u201cAgama apakah itu yang menyebabkan kalian meninggalkan bangsa kalian akan tetapi tidak memandang perlu pula kepada agama kami?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Ja\u2019far berdiri dari tempat duduknya. Ia mengangkat pandangan ramah yang penuh hormat kepada <em>Najasyi<\/em>, pemimpin yang telah berbuat baik kepada kaum muslimin.\u201cWahai Paduka yang mulia, dahulu kami hidup dalam kebodohan: menyembah berhala, berbuat keji, memutus silaturahmi, dan menzalimi yang lemah. Hingga Allah \ufdfb mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yang kami kenal kejujuran dan kemuliaannya. Ia menyeru kami untuk mengesakan Allah \ufdfb, berkata benar, menunaikan amanah, berbuat baik, serta menjauhi perbuatan keji dan segala yang diharamkan. Karena iman itulah kaum kami memusuhi dan menyiksa kami, memaksa kami kembali kepada kekafiran dan perbuatan aniaya yang telah kami tinggalkan. Maka kami berhijrah ke negeri Paduka, berharap mendapatkan perlindungan dan keadilan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Kalimat-kalimat Ja\u2019far mengalir lembut dan santun, laksana embun yang jatuh perlahan dari dedaunan selepas hujan. Hal ini membangkitkan keharuan &nbsp;di hati <em>Najasyi<\/em> dan para pendeta di ruangan itu. <em>Najasyi<\/em> kemudian meminta Ja\u2019far untuk membacakan sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah, Ja\u2019far pun membacakan Surah Maryam dengan lantunan tilawah yang indah dan penuh kekhusyukan. Mendengar itu, <em>Najasyi<\/em> dan para pendetanya tersentuh. <em>Najasyi<\/em> kemudian menolak permintaan kedua utusan Quraisy itu dengan tegas dan tetap memberi perlindungan terhadap kaum muslimin. Amr dan Abdullah pun keluar dari ruangan tersebut dengan rasa malu dan hina. Namun, Amr yang cerdas pun tak ingin tinggal diam, ia merencanakan tipu muslihat baru agar <em>Najasyi<\/em> rela melepaskan kaum muslimin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Keesokan harinya, kedua utusan Quraisy tersebut kembali datang menghadap <em>Najasyi<\/em> seraya berkata \u201cWahai paduka, kaum muslimin mengatakan bahwa Isa adalah manusia biasa\u201d. Para pendeta pun mulai geger, <em>Najasyi<\/em> kemudian bertanya kepada Ja\u2019far \u201cBagaimana pandangan kalian terhadap Isa?\u201d Dengan tenang, Ja\u2019far menjawab \u201cKami akan mengatakan tentang Isa sesuai dengan keterangan yang dibawa oleh Nabi kami Muhammad, bahwa Isa adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya serta Kalimat-Nya yang ditiupkan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><em>Najasyi <\/em>membenarkan ucapan Ja\u2019far, lalu dengan ketegasan yang tak terbantahkan, ia menolak permohonan kaum Quraisy dan memerintahkan agar seluruh hadiah yang dibawa Amr dan Abdullah dikembalikan. Kaum muslimin pun kembali meraih kedamaian melalui lisan Ja\u2019far, melalui ketenangan, kejujuran, dan kepiawaiannya dalam berdiplomasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Akhir Gemilang Sang Diplomat di Medan Mu\u2019tah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Seusai kemenangan kaum muslimin di Khaibar, Ja\u2019far bersama rombongan hijrah dari Habasyah tiba di Madinah. Rasulullah menyambut mereka dengan penuh kebahagiaan, hingga bersabda bahwa beliau tak mengetahui mana yang lebih menggembirakan baginya, kemenangan Khaibar atau kedatangan Ja\u2019far. Di Madinah, hati Ja\u2019far bergelora oleh kisah-kisah jihad yang sampai di telinganya, tentang mereka yang gugur sebagai <em>syuhada<\/em> dan mereka yang pulang sebagai pahlawan bagi agama Allah. Setiap kisah itu seolah menyalakan kerinduan dalam relung hatinya akan jihad di jalan-Nya. Meski telah lama berada jauh dari medan perang, hasrat itu tumbuh kian kuat di dadanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Ketika seruan jihad menuju Mu\u2019tah dikumandangkan dan panji-panji mulai dikibarkan, Ja\u2019far mendatangi Rasulullah \ufdfa dengan tekad yang mantap. Ia mengajukan diri untuk turut berangkat, meski sepenuhnya menyadari beratnya peperangan yang akan dihadapi, baik jarak yang panjang, medan yang asing, maupun pasukan Romawi yang terkenal akan ketangguhannya. Namun hal itu tak menggoyahkan langkahnya. Rasulullah pun merestui kepergiannya dan menetapkannya sebagai pemegang panji kaum muslimin bila Zaid bin Haritsah gugur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Hari pertempuran tiba. Ja\u2019far maju ke medan Mu\u2019tah dengan gagah, menerjang barisan musuh di tengah denting pedang dan gema takbir. Saat Ja\u2019far melihat Zaid gugur, ia segera mengambil panji kaum muslimin dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Pasukan Romawi pun mengepungnya. Tangan kanannya ditebas, lalu tangan kirinya, namun Ja\u2019far tak menyerah, ia pun mendekap panji terebut erat-erat ke dadanya hingga gugur. Panji kemudian diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Ja\u2019far syahid dengan sembilan puluh luka tusuk dan sayat di tubuhnya, jejak pengorbanan suci dan keberanian sejati seorang hamba yang sangat mencintai <em>Rabb<\/em>-nya. Atas pengorbanannya, Rasulullah \ufdfa mengabarkan bahwa Ja\u2019far dianugerahi sepasang sayap di surga. Namanya pun abadi sebagai teladan hingga detik ini. Ja\u2019far menjadi contoh nyata yang mengajarkan kita bahwa iman yang kokoh dan cinta yang tulus mampu mengubah rasa sakit menjadi keindahan, dan membuat pengorbanan yang awalnya terasa menyakitkan, justru mengundang kerinduan kepada Allah \ufdfb.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Referensi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Khalid, K. M. (2013, Oktober). <em>Biografi 60 Sahabat Nabi<\/em> (Terjemahan dari <em>Rijalun Haular Rasul<\/em>). Jakarta: Ummul Qura.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Penulis: Silmia Rahmatul Ula<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">Dosen Pembimbing: Ustazah Zidni Nafi\u2019ah, S.Ag.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\">&nbsp;   <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 5<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Keislaman dan Kemiripannya dengan Rasulullah \ufdfa Pada masa awal kenabian, penyiksaan dan penganiayaan terus-menerus menimpa kaum muslimin di Mekah. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh air mata, pengorbanan dan kesabaran yang tidak terhitung. Namun, alih-alih surut, jumlah pemeluk Islam justru terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal itu membuat dada kaum Quraisy semakin dipenuhi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":513,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biografi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1644.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":475,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=475","url_meta":{"origin":514,"position":0},"title":"Di Balik Kemenangan Perang&nbsp;Badar","author":"fahimna","date":"23 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perang\u00a0Badar\u00a0merupakan simbol awal dari kemenangan kaum Muslimin. Namun,\u00a0di balik \u00a0kemenangan tersebut justru membuat Madinah memasuki masa yang penuh\u00a0ketegangan. Madinah tidak pernah benar-benar dalam keadaan aman pada masa setelah Perang Badar sampai Perang Uhud. Berbagai macam\u00a0ancaman\u00a0terus datang, mulai dari aktivitas militer untuk menjaga wilayah, rencana konspirasi yang mengancam nyawa\u00a0NabiMuhammad\u00a0\ufdfa\u00a0hingga konflik terbuka\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":58,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=58","url_meta":{"origin":514,"position":1},"title":"BAIAT AQABAH KEDUA","author":"fahimna","date":"30 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-13 kenabian, suasana malam di Mina begitu hening. Di tengah sunyinya lembah Aqabah, sekelompok lelaki dan dua perempuan dari Madinah dengan hati yang berdebar berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Jumlah mereka tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah kaum Anshar yang telah memeluk Islam melalui\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":236,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=236","url_meta":{"origin":514,"position":2},"title":"Perang Badar Kubra","author":"fahimna","date":"27 November 2025","format":false,"excerpt":"Perang Badar merupakan salah satu peristiwa yang sangat berpengaruh dalam mengubah peta kekuatan bagi kaum Muslimin karena perang ini merupakan kemenangan pertama bagi umat Islam. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah. Latar Belakang Peperangan Kaum Muslimin telah Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala izinkan untuk melawan kezaliman yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":508,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=508","url_meta":{"origin":514,"position":3},"title":"Perang Uhud","author":"fahimna","date":"10 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Kekalahan kaum musyrikin Mekkah di Perang Badar meninggalkan luka dan kemarahan. Banyak pemimpin Quraisy terbunuh, sehingga mereka bertekad membalas kekalahan itu. Harta dagang yang sempat diselamatkan Abu Sufyan dikumpulkan kembali untuk membiayai persiapan perang. Quraisy juga mengajak berbagai kabilah untuk bergabung, memanfaatkan para penyair untuk membangkitkan semangat, serta membawa sebagian\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Siroh&quot;","block_context":{"text":"Siroh","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=9"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1641.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":459,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=459","url_meta":{"origin":514,"position":4},"title":"Mush\u2019ab bin&nbsp;\u2018Umair: Sang Rupawan yang Menukar Sutra dengan Debu","author":"fahimna","date":"13 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perjalanan dari kemewahan menuju kemuliaan iman Senja itu, kala langit Mekah\u00a0mulai meredup teriknya, seorang pemuda rupawan memantapkan langkahnya menuju majelis Nabi\u00a0\ufdfa\u00a0di\u00a0Dar Al-Arqam, sikapnya anggun, pakaiannya indah, dan parasnya begitu menawan. Ia menapaki bukit Safa seorang diri, menyapa penghujung hari dengan hati yang penuh akan rasa harap dan penasaran. Di umurnya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":377,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=377","url_meta":{"origin":514,"position":5},"title":"Upaya Menghindari Fixed Mindset pada Gen-Z","author":"fahimna","date":"11 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Fixed mindset secara umum yaitu keyakinan bahwa kemampuan, bakat, dan kepintaran manusia bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Orang yang memiliki fixed mindset cenderung sulit untuk berkembang, karena mereka berpikir, \u201cterlahir pintar atau tidak pintar\u201d. Akibatnya mereka kurang dalam usaha, mereka meyakini bahwa usaha yang dilakukan tidakakan memberikan dampak apa\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Tematik&quot;","block_context":{"text":"Tematik","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=28"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=514"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":515,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/514\/revisions\/515"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}