{"id":505,"date":"2026-05-10T13:01:00","date_gmt":"2026-05-10T06:01:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=505"},"modified":"2026-05-18T13:01:13","modified_gmt":"2026-05-18T06:01:13","slug":"mengenal-hadis-syadz-dan-mahfuz","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=505","title":{"rendered":"Mengenal Hadis Sy\u0101dz dan Mahf\u016bz"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"MsoTitle wp-block-paragraph\">Di tengah maraknya kajian hadis\u2014baik di ruang akademik maupun media digital\u2014tidak sedikit yang mengira bahwa keberadaan sanad sudah cukup untuk memastikan validitas sebuah riwayat. Padahal, tradisi keilmuan Islam menuntut kehati-hatian yang jauh lebih ketat. Para ulama hadis tidak hanya meneliti sanad secara terpisah, tetapi juga membandingkan satu riwayat dengan riwayat lain yang semakna. Dari proses inilah lahir pembahasan hadis <em>sy\u0101dz <\/em>dan <em>ma\u1e25f\u016b\u1e93<\/em>, dua istilah penting yang berfungsi sebagai alat ukur untuk menilai apakah sebuah hadis benar-benar terjaga atau justru menyelisihi riwayat yang lebih kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Al-Kha\u1e6d\u012bb al-Baghd\u0101d\u012b rahimahullah (w. 463 H) menegaskan bahwa komparasi riwayat (<em>mu\u2018\u0101ra\u1e0dah <\/em><em>al-riw\u0101y\u0101t<\/em>) merupakan syarat penting dalam menilai keabsahan hadis. Dalam <em>al-Kif\u0101yah f\u012b \u2018Ilm al- Riw\u0101yah<\/em>, ia menjelaskan bahwa sebuah riwayat baru dapat dinilai valid ketika selaras dengan periwayatan perawi yang lebih <em>tsiqah<\/em> dan lebih banyak jumlahnya; jika tidak, maka riwayat tersebut berpotensi dikategorikan sebagai <em>sy\u0101dz<\/em>. Penegasan ini menunjukkan bahwa kajian hadis <em>sy\u0101dz <\/em>dan <em>ma\u1e25f\u016b\u1e93 <\/em>bukan sekadar bahasan teknis, melainkan bagian dari upaya serius ulama dalam menjaga kemurnian Sunnah Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengertian Hadis Sy\u0101dz<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Secara bahasa, kata <em>sy\u0101dz <\/em>bermakna menyelisihi dan memisahkan diri. Istilah ini digunakan untuk sesuatu yang keluar dari kebiasaan atau tidak sejalan dengan mayoritas. Adapun secara istilah, hadis <em>sy\u0101dz <\/em>adalah riwayat yang menyelisihi riwayat lain yang lebih kuat darinya. Kekuatan tersebut dapat dilihat dari jumlah perawi, tingkat keadilan, atau ketelitian hafalan mereka. Karena itu, sebuah hadis tidak serta-merta dinilai benar hanya karena diriwayatkan oleh perawi <em>tsiqah<\/em>, apabila ia bertentangan dengan riwayat lain yang lebih unggul.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jenis-Jenis Hadis Sy\u0101dz<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Hadis sy\u0101dz dapat ditinjau dari letak terjadinya penyelisihan. Secara umum, <em>syudz\u016bdz <\/em>terjadi pada dua bagian hadis, yaitu matan dan sanad.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hadis Sy\u0101dz pada Matan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Hadis <em>sy\u0101dz <\/em>pada matan terjadi ketika lafaz suatu hadis menyelisihi lafaz lain yang lebih kuat, meskipun sanadnya tampak sahih dan para perawinya tergolong <em>tsiqah<\/em>. Salah satu contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu M\u0101jah dalam <em>Sunan<\/em>-nya dari jalur \u2018\u0100isyah radhiyall\u0101hu \u2018anh\u0101, bahwa Rasulullah shallall\u0101hu \u2018alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">\u00bb\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u064e\u0651\u0644\u064e\u064e\u0651 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0644\u064e\u0626\u064e\u0650\u0643\u064e\u062a\u064e\u0647\u064f \u064a\u064f\u0635\u064e\u0644\u064f\u0651\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0645\u064e\u064a\u064e\u0627\u0645\u0650\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0635\u064f\u0651\u0641\u064f\u0648\u0641\u0650\u00ab<\/h1>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Sanad hadis ini secara lahiriah kuat karena seluruh perawinya dinilai <em>tsiqah<\/em>. Namun, Us\u0101mah bin Zaid keliru dalam meriwayatkan lafaz matannya. Ia meriwayatkan dengan lafaz \u201c\u0627\u0644\u0635\u0641\u0648\u0641 \u0645\u064a\u0627\u0645\u0646 \u0639\u0644\u0649\u201d, sementara sejumlah perawi tsiqah lainnya meriwayatkannya dengan lafaz:<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">\u00bb\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u064a\u064f\u062a\u0650\u0645\u064f\u0651\u0648\u0646\u064e \u0627\u0644\u0635\u064f\u0651\u0641\u064f\u0648\u0641\u064e \u00ab<\/h1>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Karena riwayat Us\u0101mah menyelisihi riwayat para perawi yang lebih banyak dan lebih kuat, maka hadis ini dinilai <em>sy\u0101dz <\/em>pada bagian matannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hadis Sy\u0101dz pada Sanad<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Adapun hadis <em>sy\u0101dz <\/em>pada sanad terjadi ketika suatu jalur periwayatan menyelisihi jalur lain yang lebih kuat dan lebih banyak jumlah perawinya. Contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmi\u017c\u012b, an-Nas\u0101\u2019\u012b, dan Ibnu M\u0101jah dari jalur Sufy\u0101n bin \u2018Uyainah, dari \u2018Amr bin D\u012bn\u0101r, dari \u2018Awsajah, dari Ibnu \u2018Abb\u0101s radhiyall\u0101hu \u2018anhum\u0101, tentang seseorang yang wafat pada masa Rasulullah shallall\u0101hu \u2018alaihi wa sallam tanpa meninggalkan ahli waris selain bekas budak yang telah ia merdekakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Jalur periwayatan ini dikuatkan oleh Ibnu Juraij dan perawi lainnya. Namun, \u1e24amm\u0101d bin Zaid meriwayatkan hadis tersebut dari \u2018Amr bin D\u012bn\u0101r dari \u2018Awsajah tanpa menyebutkan Ibnu \u2018Abb\u0101s dalam sanadnya. Terkait hal ini, Ab\u016b \u1e24\u0101tim menjelaskan bahwa riwayat yang dinilai terjaga (<em>ma\u1e25f\u016b\u1e93<\/em>) adalah riwayat yang dibawakan oleh Ibnu \u2018Uyainah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun \u1e24amm\u0101d bin Zaid merupakan perawi yang adil dan kuat hafalannya, riwayatnya tetap dinilai <em>sy\u0101dz <\/em>karena menyelisihi riwayat yang lebih banyak dan lebih kuat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengertian Hadis Mahfuz<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Hadis <em>ma\u1e25f\u016b\u1e93 <\/em>merupakan kebalikan dari hadis <em>sy\u0101dz<\/em>. Hadis ini adalah riwayat yang dibawakan oleh perawi yang lebih kuat, sementara riwayat lain yang menyelisihinya berasal dari perawi yang kedudukannya lebih lemah. Kekuatan tersebut dapat dilihat dari aspek jumlah perawi, tingkat keadilan, maupun ketelitian dalam periwayatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Dengan demikian, ketika terjadi perbedaan antara dua riwayat, maka riwayat yang dibawakan oleh perawi yang lebih unggul dinilai sebagai hadis <em>ma\u1e25f\u016b\u1e93<\/em>, sedangkan riwayat yang menyelisihinya dinilai sebagai <em>sy\u0101dz<\/em>. Contohnya adalah riwayat Sufy\u0101n bin \u2018Uyainah yang telah disebutkan sebelumnya, karena didukung oleh lebih banyak perawi dan dinilai lebih kuat, sehingga termasuk dalam kategori hadis <em>ma\u1e25f\u016b\u1e93<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hukum Hadis Sy\u0101dz dan Ma\u1e25f\u016b\u1e93<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Hadis <em>sy\u0101dz <\/em>dinilai sebagai hadis yang tertolak (<em>mard\u016bd<\/em>), karena menyelisihi riwayat lain yang lebih kuat dan lebih unggul. Adapun hadis ma\u1e25f\u016b\u1e93 adalah hadis yang diterima (<em>maqb\u016bl<\/em>), sebab diriwayatkan oleh perawi yang lebih kuat dan didukung oleh jalur periwayatan yang lebih kokoh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Dengan demikian, hadis <em>ma\u1e25f\u016b\u1e93 <\/em>layak dijadikan hujah, sedangkan hadis <em>sy\u0101dz <\/em>tidak dapat dijadikan sandaran dalam penetapan hukum maupun pengamalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">Dengan pembahasan ini, kita dapat melihat bahwa para ulama hadis sangat berhati-hati dalam menilai sebuah riwayat. Sebuah hadis tidak cukup dinilai dari tampilan lahiriahnya saja, tetapi perlu dibandingkan dengan riwayat lain yang lebih kuat agar tidak terjadi kekeliruan. Kaidah inilah yang menjaga kemurnian sunnah dan membimbing penuntut ilmu untuk bersikap ilmiah, adil, serta penuh kehati-hatian dalam memahami dan mengamalkan hadis Nabi shallall\u0101hu \u2018alaihi wa sallam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sumber atau Rujukan<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Al-Was\u012b\u1e6d f\u012b \u2018Ul\u016bm wa Mu\u1e63\u1e6dala\u1e25 Al-\u1e24ad\u012bts<\/em>, Mu\u1e25ammad bin Mu\u1e25ammad bin Suwailim Ab\u016b Syuhbah, D\u0101r Al-Fikr Al-\u2018Arab\u012b, Kairo.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Tais\u012br Mu\u1e63\u1e6dala\u1e25 Al-\u1e24ad\u012bts<\/em>, Mahmud Ath-Thahh\u0101n, Maktabah Al-Ma\u2018\u0101rif li An-Nasyr wa At- Tauz\u012b\u2018, Riyadh, Cetakan ke-10, 1425 H\/2004 M.<\/li>\n\n\n\n<li>Us\u0101mah \u2018Al\u012b Mu\u1e25ammad Sulaim\u0101n, \u201cSyar\u1e25 Al-Baiq\u016bniyyah: Al-\u1e24ad\u012bts Asy-Sy\u0101dz\u201d, Alukah.net, https:\/\/<a href=\"http:\/\/www.alukah.net\/sharia\/0\/134547\/\u0630\u0627\u0634\u0644\u0627-\u062b\u064a\u062f\u062d\u0644\u0627-\u0629\u064a\u0646\u0648\u0642\u064a\u0628\u0644\u0627-\u062d\u0631\u0634\/\">www.alukah.net\/sharia\/0\/134547\/\u0627\u0644\u0634\u0627\u0630-\u0627\u0644\u062d\u062f\u064a\u062b-\u0627\u0644\u0628\u064a\u0642\u0648\u0646\u064a\u0629-\u0634\u0631\u062d\/<\/a>\ufffd, diakses pada 7 Februari 2026.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoBodyText wp-block-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Penulis : Zashkia Rasya Kamila<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal wp-block-paragraph\"><strong>Pembimbing : Ustazah Ainun Nur Hasanah S.Ag<\/strong>   <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Di tengah maraknya kajian hadis\u2014baik di ruang akademik maupun media digital\u2014tidak sedikit yang mengira bahwa keberadaan sanad sudah cukup untuk memastikan validitas sebuah riwayat. Padahal, tradisi keilmuan Islam menuntut kehati-hatian yang jauh lebih ketat. Para ulama hadis tidak hanya meneliti sanad secara terpisah, tetapi juga membandingkan satu riwayat dengan riwayat lain yang semakna. Dari proses [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":504,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musthalah-hadis"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":455,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=455","url_meta":{"origin":505,"position":0},"title":"Mengenal Hadis Mudallas: Bagian Pertama","author":"fahimna","date":"9 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Dalam studi ilmu hadis, istilah\u00a0tadlis\u00a0sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami\u00a0tadlis\u00a0disebut hadis\u00a0mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":167,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=167","url_meta":{"origin":505,"position":1},"title":"Hadis Masyhur","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83c\udf40 Penulis: Fadhila Salma Nuzula \ud83e\udeb4Definisi Hadis Masyhur: Menurut bahasa: Adalah isim maf\u2019ul dari syahartu al-amr, yang bermakna aku mengumumkan dan aku menampakkan suatu perkara. Dan dinamakan seperti itu karena penampakannya yang jelas. Menurut istilah: Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih dalam setiap tingkatannya, asalkan tidak mencapai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":163,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=163","url_meta":{"origin":505,"position":2},"title":"Hadis Mungkar","author":"fahimna","date":"28 September 2025","format":false,"excerpt":"\u270d\ud83c\udffc Penulis: Fadhila Salma Nuzula\u27a1\ufe0f Definisi Hadis Munkar\u25cf Secara bahasa hadis munkar adalah isim maf\u2019ul dari al-inkar (pengingkaran) yang merupakan lawan kata dari al-iqrar (persetujuan)\u25cf Secara istilah hadis munkar memiliki dua definisi yang paling populer:Hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang kekeliruannya sangat parah, banyak lupa, dan tampak kefasikannya.Hadis\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":488,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","url_meta":{"origin":505,"position":3},"title":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam","author":"fahimna","date":"13 April 2026","format":false,"excerpt":"Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":126,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=126","url_meta":{"origin":505,"position":4},"title":"Batalkah Wudu Seseorang yang Menyentuh Kemaluannya?","author":"fahimna","date":"28 September 2025","format":false,"excerpt":"\u270d\ud83c\udffc Penulis: Ismi Maulida Khusna Pernahkah Anda bertanya-tanya, seberapa jauhkah batas kesucian dalam ibadah? Hal hal sederhana seperti memegang kemaluan, apakah bisa membatalkan wudu yang telah kita sempurnakan? Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di benak kita. Ada yang mengatakan, menyentuh kemaluan langsung membatalkan wudu. Namun, ada pula pendapat yang berbeda.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x"},"classes":[]},{"id":502,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=502","url_meta":{"origin":505,"position":5},"title":"Denda&nbsp;atas&nbsp;Gigi dan Jari-Jemari&nbsp;yang dihilangkan.","author":"fahimna","date":"4 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Dalam Islam, hukuman atas kejahatan terhadap jiwa atau anggota tubuh tidak hanya terbatas pada\u00a0qishash, tetapi juga mencakup diat. Menurut KBBI, diat adalah denda berupa harta yang wajib dibayar karena melukai atau membunuh seseorang. \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a \u0628\u064e\u0643\u0652\u0631\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650\u0648 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u062d\u064e\u0632\u0652\u0645\u064d\u060c \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a\u0647\u0650\u060c \u0639\u064e\u0646\u0652 \u062c\u064e\u062f\u0650\u0651\u0647\u0650 \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=505"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/505\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":506,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/505\/revisions\/506"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/504"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}