{"id":488,"date":"2026-04-13T18:51:00","date_gmt":"2026-04-13T11:51:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488"},"modified":"2026-04-13T18:51:00","modified_gmt":"2026-04-13T11:51:00","slug":"memahami-as-sunnah-sebagai-sumber-hukum-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","title":{"rendered":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"MsoNormal\">Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang tak terpisahkan sebagai sumber hukum kedua dalam Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">As-Sunnah -yang disebut juga dengan <em>Al-Akhbar<\/em> atau kabar (<em>khabar) <\/em>atau hadis- adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi \ufdfa, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau. Sifat tersebut mencakup sifat perilaku yang dapat diteladani serta sifat fisik yang mengabarkan tentang keindahan beliau \ufdfa. Seluruh <em>khabar<\/em> yang sah berasal dari Nabi \ufdfa merupakan hujjah dalam penetapan hukum syariat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Perbuatan Nabi \ufdfa memiliki beragam bentuk. Di antaranya perbuatan yang muncul karena tabiat beliau sebagai manusia, perbuatan yang bersifat adat kebiasaan, perbuatan yang merupakan kekhususan Nabi \ufdfa, perbuatan yang berbentuk ibadah yang dapat diketahui dari riwayat para sahabat, dan perbuatan yang berfungsi sebagai penjelas hukum syariat yang masih bersifat global. Oleh karena itu, hukum dari perbuatan Nabi \ufdfa tidak ditetapkan secara mutlak, melainkan dipahami dengan melihat dalil-dalil lain yang mengiringinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Tingkatan Lafaz Penukilan Hadis Nabi <\/strong><strong>\ufdfa<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Lafaz periwayatan hadis dari Nabi \ufdfa memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan pertama -yang paling kuat- adalah lafaz yang menunjukkan penyampaian langsung dari Nabi \ufdfa, seperti:\u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u0652\u062a\u064f \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \ufdfa (aku mendengar Rasullullah \ufdfa), \u0623\u064e\u062e\u0652\u0628\u064e\u0631\u064e\u0646\u0650\u064a (telah mengabarkan kepadaku). Lafaz-lafaz ini menunjukkan bahwa Nabi menyampaikan secara langsung hadis tersebut kepada perawi dan perawi mendengar hadis tersebut dari beliau secara langsung sehingga tidak mengandung keraguan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Tingkatan kedua adalah lafaz \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \ufdfa (Rasullullah \ufdfa bersabda). Secara zahir, lafaz ini menukilkan perkataan Nabi \ufdfa, meskipun masih mengandung kemungkinan bahwa perawi meriwayatkan dari sahabat lain. Namun, karena seluruh sahabat adalah orang-orang yang <em>tsiqah<\/em> (dapat dipercaya), maka kekuatan hukumnya tetap dihukumi seperti tingkatan sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Tingkatan ketiga adalah lafaz yang disampaikan oleh sahabat dengan bentuk \u0623\u064e\u0645\u064e\u0631\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \ufdfa (Rasullullah \ufdfa memerintahkan) atau \u0646\u064e\u0647\u064e\u0649 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \ufdfa (Rasullullah \ufdfa melarang). Lafaz ini mengandung kemungkinan bahwa pemahaman perintah atau larangan tersebut disimpulkan berdasarkan sudut pandang sahabat, namun kemungkinan ini dinilai lemah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Tingkatan keempat adalah lafaz \u0623\u064f\u0645\u0650\u0631\u0652\u0646\u064e\u0627 (Kami diperintahkan) dan \u0646\u064f\u0647\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627 (Kami dilarang). Lafaz ini mengandung beberapa kemungkinan, baik perkara tersebut berlaku pada masa lampau atau perintah tersebut berasal dari selain Nabi \ufdfa. Apabila konteksnya jelas menunjukkan bahwa perintah itu berasal dari Nabi \ufdfa, maka hukumnya sama dengan tingkatan sebelumnya. Namun jika tidak, maka perlu untuk diteliti lebih lanjut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Tingkatan kelima, lafaz \u0643\u064f\u0646\u064e\u0651\u0627 \u0646\u064e\u0641\u0652\u0639\u064e\u0644\u064f (Dahulu kami melakukan) atau \u0643\u064e\u0627\u0646\u064f\u0648\u0627 \u064a\u064e\u0641\u0652\u0639\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e (Dahulu mereka melakukan). Apabila perbuatan tersebut dinisbatkan pada masa Nabi \ufdfa dan tidak diingkari, maka dapat dihukumi sebagai dalil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Pembagian Jenis Hadis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Ditinjau dari sisi penyandarannya, hadis terbagi menjadi tiga, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">[1] hadis marfu\u2019 (hadis yang disandarkan kepada Nabi \ufdfa),<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">[2] hadis <em>mauquf<\/em> (perkataan atau hadis yang disandarkan kepada sahabat dan tidak memiliki hukum <em>marfu\u2019<\/em>), dan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">[3] hadis <em>maqthu\u2019<\/em> (hadis yang disandarkan kepada tabi\u2019in dan orang-orang setelah tabi\u2019in).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Adapun jika ditinjau dari sisi jalurnya, terbagi menjadi dua; [1] hadis <em>mutawatir<\/em> dan [2] hadis <em>ahad<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Hadis <em>Mutawatir<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Hadis <em>mutawatir<\/em> sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh al-\u2018Utsaimin <em>hafizahullah <\/em>adalah<em>:<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">\u0645\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0648\u064e\u0627\u0647\u064f \u062c\u064e\u0645\u064e\u0627\u0639\u064e\u0629\u064c \u0643\u064e\u062b\u0650\u064a\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e\u060c \u064a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u062d\u0650\u064a\u0644\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u062f\u064e\u0629\u0650 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0627\u0637\u064e\u0624\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0630\u0650\u0628\u0650\u060c \u0648\u064e\u0623\u064e\u0633\u0652\u0646\u064e\u062f\u064f\u0648\u0647\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u0645\u064e\u062d\u0652\u0633\u064f\u0648\u0633\u064d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">\u201cHadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat untuk berdusta dan mereka menyandarkan kabar itu kepada sesuatu yang bersifat bisa diindera.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Suatu hadis dikatakan <em>mutawatir<\/em> jika memenuhi syarat berikut, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Hadis yang diriwayatkan bersifat <em>dharuri<\/em> (pasti atau dapat diketahui secara langsung).<\/li>\n\n\n\n<li>Diriwayatkan oleh banyak perawi.<\/li>\n\n\n\n<li>Jumlah dan kualitas perawi sama di setiap tingkatannya.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Contoh hadis <em>mutawatir <\/em>dari Rasullullah \ufdfa yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">((\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0630\u064e\u0628\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u064e\u0651 \u0645\u064f\u062a\u064e\u0639\u064e\u0645\u0650\u0651\u062f\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0644\u0652\u064a\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u0648\u064e\u0651\u0623\u0652 \u0645\u064e\u0642\u0652\u0639\u064e\u062f\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0631\u0650))<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">\u201cBarang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia (bersiap) menempati tempat duduknya di neraka.\u201d (<em>Muttafaqun \u2018alaih<\/em>)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Hadis ini diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi \ufdfa dengan konteks hadis yang sama. Oleh karena itu, hadis <em>mutawatir<\/em> merupakan hujjah yang <em>qath\u2019i <\/em>atau pasti kevalidannya, artinya hadis ini bisa dipastikan benar-benar bersumber dari Rasullullah \ufdfa dan menghasilkan <em>ilmu yaqin<\/em> yang tidak terbantahkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Hadis <em>Ahad<\/em><\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Hadis <em>ahad<\/em> adalah hadis yang tidak memenuhi syarat <em>mutawatir<\/em>. &nbsp;Hadis ahad, jika ditinjau dari tingkatannya, terbagi menjadi tiga. Pertama, <em>sahih<\/em> yaitu hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang <em>adl <\/em>(adil), sempurna <em>dhabt<\/em>nya (kekuatan hafalannya), sanadnya bersambung dan terbebas dari <em>syadz<\/em> (keterasingan) serta \u2018<em>illah <\/em>(cacat). Kedua, <em>hasan<\/em>. Pengertian <em>hasan<\/em> sebagaimana hadis <em>sahih<\/em>, namun tingkatan <em>dhabt<\/em>nya di bawah <em>sahih<\/em>. Ketiga, kabar <em>dha\u2019if<\/em>, yaitu yang belum memenuhi syarat <em>sahih<\/em> atau <em>hasan<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Seluruh jenis hadis ini dapat dijadikan hujjah menurut pendapat jumhur, selain hadis <em>dha\u2019if<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Selain pembahasan yang telah dipaparkan, sejatinya kajian seputar hadis dan para perawinya masih sangat luas dan mendalam sebagaimana yang dibahas dalam disiplin ilmu <em>musthalah al-hadits<\/em> secara khusus. Namun, demi menjaga fokus pembahasan dan keterbatasan ruang, kajian mengenai As-Sunnah atau kabar sebagai sumber hukum Islam dalam tulisan ini dicukupkan sampai di sini. Semoga dapat memberikan gambaran mengenai kedudukan sunnah dalam penetapan hukum syariat.<em>Allahu a\u2019lam<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Rujukan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Kitab Al Ushul min Ilmi Al-Ushul <\/em>karyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>hafizahullah<\/em><\/li>\n\n\n\n<li><em>Raudhatun Nazhir wa Junnah Al Munazhir <\/em>karyaImam Ibnu Qudamah Al Maqdisi <em>rahimahullah<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Materi Ushul Fikih HSI Akademi bersama Ustaz Musyaffa\u2019 Ad-Dariny <em>hafizahullah<\/em><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Penulis: <\/strong>In\u2019am Mumtaz<strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Pembimbing: <\/strong>Ustaz Misbahuzzulam, Lc., M.H.I. <em>Hafizahullah<\/em>   <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang tak terpisahkan sebagai sumber hukum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":487,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-488","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ushul-fikih"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":248,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=248","url_meta":{"origin":488,"position":0},"title":"Definisi, Landasan, dan Cara Menghiasi Diri dengan Keindahan Akhlak Islamiah","author":"fahimna","date":"1 Desember 2025","format":false,"excerpt":"\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627 \u0628\u064f\u0639\u0650\u062b\u0652\u062a\u064f \u0644\u0650\u0623\u064f\u062a\u064e\u0645\u0650\u0651\u0645\u064e \u0635\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u062e\u0652\u0644\u064e\u0627\u0642\u0650 \u201cSesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.\u201d (HR. Al-Baihaqi) Akhlak merupakan salah satu pilar terpenting dalam ajaran Islam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, memperbaiki masyarakat jahiliah yang saat itu dipenuhi permusuhan, kekerasan, dan ketidakadilan. Akhlak bukan sekadar perilaku\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Akhlak&quot;","block_context":{"text":"Akhlak","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=23"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1199.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1199.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1199.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1199.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1199.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":413,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=413","url_meta":{"origin":488,"position":1},"title":"Dari Dalil ke Hukum: Peran Ushul Fikih dalam Menjawab Problematika Zaman","author":"fahimna","date":"17 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Dalam perjalanan panjang peradaban Islam, hukum-hukum syariat tidak muncul begitu saja. Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah adalah dua sumber utama hukum Kaum Muslimin, namun tidak semua permasalahan -terlebih pada permasalahan kontemporer- dijelaskan secara sharih[1] di dalamnya. Oleh karena itu, para ulama mengambil peran dalam menentukan hukum bagi berbagai peristiwa baru yang dialami\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":464,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=464","url_meta":{"origin":488,"position":2},"title":"Al-Qur\u2019an dan&nbsp;Ushul&nbsp;Fikih","author":"fahimna","date":"11 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Dalam kajian\u00a0Ushul\u00a0Fikih, pembahasan mengenai dalil (sumber hukum) memiliki kedudukan yang sangat penting, karena darinya hukum-hukum syariat ditetapkan. Para ulama dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa dalil-dalil tersebut ada yang disepakati kehujjahannya (adillah muttafaq \u2018alaiha) dan ada pula yang diperselisihkan (adillah mukhtalaf fiihaa), baik karena perbedaan sudut pandang, perbedaan nama, atau perbedaan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":264,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=264","url_meta":{"origin":488,"position":3},"title":"Darah Haid, Nifas, atau Istihadhah. Jangan Salah!","author":"fahimna","date":"3 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Pembahasan mengenai darah yang keluar dari rahim wanita menempati posisi penting dalam fikih Islam karena berkaitan langsung dengan hukum-hukum ibadah seperti salat, puasa, dan hubungan suami istri. Dalam syariat, darah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu haid, nifas, dan istihadhah. Ibnu Rusyd dalam (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid)\u00a0menjelaskan ketiganya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":475,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=475","url_meta":{"origin":488,"position":4},"title":"Di Balik Kemenangan Perang&nbsp;Badar","author":"fahimna","date":"23 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perang\u00a0Badar\u00a0merupakan simbol awal dari kemenangan kaum Muslimin. Namun,\u00a0di balik \u00a0kemenangan tersebut justru membuat Madinah memasuki masa yang penuh\u00a0ketegangan. Madinah tidak pernah benar-benar dalam keadaan aman pada masa setelah Perang Badar sampai Perang Uhud. Berbagai macam\u00a0ancaman\u00a0terus datang, mulai dari aktivitas militer untuk menjaga wilayah, rencana konspirasi yang mengancam nyawa\u00a0NabiMuhammad\u00a0\ufdfa\u00a0hingga konflik terbuka\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":58,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=58","url_meta":{"origin":488,"position":5},"title":"BAIAT AQABAH KEDUA","author":"fahimna","date":"30 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-13 kenabian, suasana malam di Mina begitu hening. Di tengah sunyinya lembah Aqabah, sekelompok lelaki dan dua perempuan dari Madinah dengan hati yang berdebar berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Jumlah mereka tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah kaum Anshar yang telah memeluk Islam melalui\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/488","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=488"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/488\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":489,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/488\/revisions\/489"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/487"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=488"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=488"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=488"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}