{"id":482,"date":"2026-04-08T17:04:52","date_gmt":"2026-04-08T10:04:52","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=482"},"modified":"2026-04-08T17:04:52","modified_gmt":"2026-04-08T10:04:52","slug":"adab-seorang-penuntut-ilmu-terhadap-dirinya-bagian-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=482","title":{"rendered":"Adab Seorang Penuntut Ilmu Terhadap Dirinya (Bagian 2)"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"MsoNormal\">&nbsp;   <\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu dalam membina dan memperbaiki dirinya. Adab-adab tersebut merupakan landasan awal agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dan diamalkan dengan baik. Pada bagian ini, akan dilanjutkan pembahasan adab-adab lain yang berkaitan erat dengan penjagaan diri, baik dari sisi lahir maupun batin, agar penuntut ilmu mampu menjaga kesucian hatinya serta keberkahan ilmunya.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Makan Secukupnya dari yang Halal<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga makan dan minumnya, baik dari segi kehalalan maupun kadarnya. Makanan yang halal dan thayyib memiliki pengaruh besar terhadap kejernihan hati dan kemudahan dalam memahami ilmu. Oleh karena itu, penuntut ilmu dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam makan, melainkan sekadar mencukupi kebutuhan tubuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Allah Sub\u1e25\u0101nahu wa Ta\u2018\u0101l\u0101 berfirman dalam Surat Al-A\u2018raf ayat 31:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">\u0643\u064f\u0644\u064f\u0648\u0652\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0634\u0652\u0631\u064e\u0628\u064f\u0648\u0652\u0627 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064f\u0633\u0652\u0631\u0650\u0641\u064f\u0648\u0652\u0627\u06da<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Artinya: \u201cMakan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Adapun makna secukupnya dalam hal ini adalah tidak melampaui batas kebutuhan, serta tidak menjadikan makan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk menguatkan tubuh dalam ketaatan dan menuntut ilmu. Imam Ibn Jam\u0101\u2018ah menjelaskan bahwa berlebihan dalam makan dapat mengeraskan hati, melemahkan semangat ibadah, dan mengurangi ketajaman akal. Karena ilmu adalah cahaya, maka tidak pantas cahaya tersebut diletakkan pada hati yang dipenuhi kelalaian dan syahwat.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Menjaga Diri dengan Menerapkan Sikap Wara\u2019 dalam Segala Urusan<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Wara\u2019 adalah menjahui perkara yang syubhat karna takut terjatuh dalam perkara yang haram. Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga dirinya dengan menerapkan sikap wara\u2019 dalam seluruh urusan hidupnya, baik yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, ucapan, maupun pergaulan sehari-hari. Termasuk dalam sikap wara\u2019 adalah menjaga agar makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal yang digunakan berasal dari perkara yang halal dan bersih dari unsur yang haram maupun syubhat.penuntut ilmu yang menjaga kehalalan dalam seluruh kebutuhannya akan lebih mudah meluruskan niat, menjaga kesucian hati, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Memperhatikan dan Menjaga Kesehatan Tubuh<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan dan menjaga kesehatan tubuhnya, karena tubuh merupakan sarana utama dalam menuntut ilmu dan beribadah. Hal ini dilakukan dengan mengatur pola makan yang baik, mengonsumsi makanan yang sehat dan tidak berlebihan, serta mengatur waktu tidur dan istirahat yang cukup agar tubuh tetap kuat dan otak dapat berfungsi dengan optimal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Rasulullah \ufdfa bersabda:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">\u201c\u0625\u0646 \u0644\u062c\u0633\u062f\u0643 \u0639\u0644\u064a\u0643 \u062d\u0642\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Artinya: \u201cSesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.\u201d (HR. al-Bukh\u0101r\u012b).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Oleh karena itu, tidak mengapa bagi seorang penuntut ilmu untuk mengistirahatkan pikiran, hati, akal, dan tubuhnya ketika lelah, selama hal tersebut dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan, serta kembali dengan semangat dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Meninggalkan Pergaulan yang Melalaikan dan Memilih Teman yang Shalih<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Seorang penuntut ilmu hendaknya menjauhi pergaulan yang melalaikan dari mengingat Allah dan menuntut ilmu, karena pergaulan semacam ini dapat mengeraskan hati dan menyia-nyiakan waktu. Terlebih lagi pergaulan dengan lawan jenis yang tidak terjaga batasannya, karena hal tersebut dapat membuka pintu fitnah dan melemahkan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, penuntut ilmu dianjurkan untuk selektif dalam bergaul dan memilih teman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Apabila memilih teman, hendaklah memilih teman yang shalih, bertakwa, dan berakhlak baik, yaitu teman yang apabila kita lalai ia mengingatkan, apabila kita salah ia menasihati, dan apabila kita lemah ia menguatkan. Sebaliknya, kesalahan dalam memilih teman tidak akan mendatangkan apa-apa selain keburukan, karena teman yang buruk dapat menyeret kepada kelalaian dan maksiat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Demikianlah sebagian adab yang hendaknya dijaga oleh seorang penuntut ilmu terhadap dirinya. Adab-adab ini bukan sekadar pelengkap dalam perjalanan menuntut ilmu, tetapi merupakan pondasi yang akan menentukan keberkahan dan kemanfaatan ilmu tersebut. Betapa banyak orang yang memiliki keluasan pengetahuan, namun sedikit keberkahan karena lalai dalam menjaga adabnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Menuntut ilmu bukan hanya tentang mengisi akal dengan pemahaman, tetapi juga tentang membersihkan hati, meluruskan niat, serta mendidik diri agar semakin dekat kepada Allah Ta\u2018\u0101l\u0101. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga dirinya dari kelalaian dan maksiat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\">Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dimudahkan dalam menuntut ilmu, dihiasi dengan adab yang baik, serta diberi keberkahan dalam setiap huruf yang dipelajari dan diamalkan. Aamiin.<strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>Referensi :<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Ibn Jam\u0101\u2018ah, Badr al-D\u012bn Mu\u1e25ammad ibn Ibr\u0101h\u012bm. Shar\u1e25 Tadhkirat al-S\u0101mi\u2018 wa al-Mutakallim f\u012b \u0100d\u0101b al-\u2018\u0100lim wa al-Muta\u2018allim. Edited by \u1e62\u0101li\u1e25 ibn \u2018Abd All\u0101h ibn \u1e24amd al-\u2018U\u1e63aym\u012b. Cairo: D\u0101r al-Hijrah, 1st ed.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"MsoNormal\"><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penulis : <\/strong>A zizah Fii Ahliha<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Pembimbing :<\/strong> Fikrina Aliya Budianna, S.H.<br><br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>&nbsp; Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu dalam membina dan memperbaiki dirinya. Adab-adab tersebut merupakan landasan awal agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dan diamalkan dengan baik. Pada bagian ini, akan dilanjutkan pembahasan adab-adab lain yang berkaitan erat dengan penjagaan diri, baik dari sisi lahir maupun batin, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":481,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[],"class_list":["post-482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akhlak"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1468.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":445,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=445","url_meta":{"origin":482,"position":0},"title":"Adab Seorang Penuntut Ilmu Terhadap Dirinya 1","author":"fahimna","date":"11 Januari 2026","format":false,"excerpt":"Seorang penuntut ilmu memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmu, sesorang dapat memahami kemulian dan kebesaran-Nya. Allah ta\u2019ala berfirman: ... \u064a\u064e\u0631\u0652\u0641\u064e\u0639\u0650 \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0623\u064f\u0648\u062a\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064e \u062f\u064e\u0631\u064e\u062c\u064e\u0629\u064c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0639\u0652\u0645\u064e\u0644\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u062e\u064e\u0628\u0650\u064a\u0631\u064c Artinya:\"... niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Akhlak&quot;","block_context":{"text":"Akhlak","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=23"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":413,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=413","url_meta":{"origin":482,"position":1},"title":"Dari Dalil ke Hukum: Peran Ushul Fikih dalam Menjawab Problematika Zaman","author":"fahimna","date":"17 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Dalam perjalanan panjang peradaban Islam, hukum-hukum syariat tidak muncul begitu saja. Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah adalah dua sumber utama hukum Kaum Muslimin, namun tidak semua permasalahan -terlebih pada permasalahan kontemporer- dijelaskan secara sharih[1] di dalamnya. Oleh karena itu, para ulama mengambil peran dalam menentukan hukum bagi berbagai peristiwa baru yang dialami\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":464,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=464","url_meta":{"origin":482,"position":2},"title":"Al-Qur\u2019an dan&nbsp;Ushul&nbsp;Fikih","author":"fahimna","date":"11 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Dalam kajian\u00a0Ushul\u00a0Fikih, pembahasan mengenai dalil (sumber hukum) memiliki kedudukan yang sangat penting, karena darinya hukum-hukum syariat ditetapkan. Para ulama dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa dalil-dalil tersebut ada yang disepakati kehujjahannya (adillah muttafaq \u2018alaiha) dan ada pula yang diperselisihkan (adillah mukhtalaf fiihaa), baik karena perbedaan sudut pandang, perbedaan nama, atau perbedaan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":297,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=297","url_meta":{"origin":482,"position":3},"title":"Biografi Imam Al Bazzar","author":"fahimna","date":"26 Februari 2023","format":false,"excerpt":"\u201cTak kenal maka ta\u2019aruf\u201d. Pernyataan ini tak begitu asing terdengar di sekitar kita. Kita tak bisa mengagumi seseorang tanpa mengenal orang tersebut. Dan kita tak bisa mengenal seseorang jika kita tak mencoba mengenalinya. Bagi para penuntut ilmu, nama Al- Bazzar cukup masyhur mengingat beliau adalah seorang penulis musnad yang sering\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1198.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":167,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=167","url_meta":{"origin":482,"position":4},"title":"Hadis Masyhur","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83c\udf40 Penulis: Fadhila Salma Nuzula \ud83e\udeb4Definisi Hadis Masyhur: Menurut bahasa: Adalah isim maf\u2019ul dari syahartu al-amr, yang bermakna aku mengumumkan dan aku menampakkan suatu perkara. Dan dinamakan seperti itu karena penampakannya yang jelas. Menurut istilah: Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih dalam setiap tingkatannya, asalkan tidak mencapai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":462,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=462","url_meta":{"origin":482,"position":5},"title":"Waqaf","author":"fahimna","date":"16 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Setelah mempelajari ilmu tajwid tentang hukum\u00a0ra\u2019\u00a0di serial tajwid edisi sebelumnya, kami akan mengajak sobat Fahimna untuk melangkah lebih jauh dalam memahami cabang lain dari ilmu tajwid yang tidak kalah penting, yaitu bab\u00a0waqaf\u00a0dan\u00a0ibtida\u2019.Keduanya berperan besar dalam menjaga keutuhan makna ayat saat membaca Al-Qur\u2019an. Saat membaca Al-Qur\u2019an, berhenti dan memulai bacaan tidak\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Tajwid&quot;","block_context":{"text":"Tajwid","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=21"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1356.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1356.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1356.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1356.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1356.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=482"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/482\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":483,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/482\/revisions\/483"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/481"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}