{"id":475,"date":"2026-02-23T17:00:00","date_gmt":"2026-02-23T10:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=475"},"modified":"2026-02-28T17:01:37","modified_gmt":"2026-02-28T10:01:37","slug":"di-balik-kemenangan-perang-badar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=475","title":{"rendered":"Di Balik Kemenangan Perang&nbsp;Badar"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"s8\">Perang&nbsp;Badar&nbsp;merupakan simbol awal dari kemenangan kaum Muslimin. Namun,&nbsp;di balik &nbsp;kemenangan tersebut justru membuat Madinah memasuki masa yang penuh&nbsp;ketegangan. Madinah tidak pernah benar-benar dalam keadaan aman pada masa setelah Perang Badar sampai Perang Uhud. Berbagai macam&nbsp;ancaman&nbsp;terus datang, mulai dari aktivitas militer untuk menjaga wilayah, rencana konspirasi yang mengancam nyawa&nbsp;NabiMuhammad&nbsp;\ufdfa&nbsp;hingga konflik terbuka yang berujung pada Perang Bani Qainuqa\u2019. Peristiwa-peristiwa ini jarang mendapatkan perhatian besar, padahal&nbsp;di sinilah&nbsp;kita bisa melihat bagaimana Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;dan para sahabat menyusun strategi dengan cermat dan terus bertahan dalam menghadapi ancaman yang tak pernah berhenti. Ancaman tak selalu datang dalam bentuk pasukan besar melainkan juga melalui provokasi sosial dan rencana tersembunyi yang menjadi potensi ancaman stabilitas Madinah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\"><strong>Perang Bani Sulaim Al-Kudr<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Perang ini merupakan perang pertama setelah perang Badar. Berawal dari Bani Sulaim&nbsp;yang&nbsp;termasuk kabilah Ghathafan menghimpun kekuatan mereka untuk menyerang Madinah, mereka mengerahkan 200 orang yang menunggangi unta. Setelah mengetahui hal itu, Nabi&nbsp;\ufdfa&nbsp;dan beberapa sahabat langsung mendatangi mereka dan menetap di dekat perkampungan mereka. Melihat kedatangan Nabi&nbsp;\ufdfa&nbsp;dan para sahabat, mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan unta-untanya yang kemudian dikuasai oleh pasukan Muslimin. Akhirnya Nabi&nbsp;\ufdfa&nbsp;kembali ke Madinah setelah menetap 3 hari di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\"><strong>Konspirasi Untuk Membunuh Nabi&nbsp;\ufdfa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Peristiwa ini bermula dari perbincangan Umair bin Wahb Al-Jumahi dengan temannya Shafwan bin Umayyah. Mereka berdua adalah para pemuka kafir Quraisy. Dari perbincangan tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh Nabi&nbsp;\ufdfa&nbsp;di Madinah. Keesokan harinya Umair langsung pergi menuju Madinah dengan&nbsp;membawapedang yang&nbsp;sudah&nbsp;disiapkan untuk membunuh Nabi&nbsp;\ufdfa. Kehadiran Umair di Madinah diketahui oleh Umar bin Al-Khattab, seketika Umar menemui Nabi&nbsp;\ufdfa&nbsp;dan memberitahukan hal tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;mempersilahkan Umair untuk masuk ke dalam rumah beliau dan duduk berdekatan sambil diawasi oleh sahabat yang lain. Langsung saja Rasulullah&nbsp;\ufdfamengetahui maksud kedatangan Umair dan menceritakan kepada Umair secara detail apa yang diperbincangkan&nbsp;olehUmair bersama Shafwan. Umair pun takjub dan&nbsp;mengakui kenabian Beliau&nbsp;\ufdfa. Setelah itu Umair bersyahadat dan kembali ke Mekkah dan mengajak orang-orang&nbsp;untukmasuk Islam, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang masuk Islam melalui dakwahnya tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\"><strong>Perang Bani Qainuqa\u2019&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Kemenangan kaum Muslimin di perang Badar membuat orang-orang Yahudi semakin meradang dan berani menampakkan kebencian mereka, hal inilah&nbsp;menjadi sebab awal dari peperangan ini. Mereka melanggar perjanjian mereka terhadap Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;dengan menyebarkan isu-isu dusta, mempersulit penghidupan orang-orang mukmin yang mempunyai hubungan dengan mereka. Ka\u2019ab bin Al- Asyraf adalah tokoh&nbsp;Yahudi&nbsp;(Capital, nama tokoh atau golongan) yang paling jahat dan menonjol menampakkan kebenciannya terhadap kaum Muslimin.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Suatu&nbsp;hari ketika Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;mengumpulkan mereka di pasar Bani Qainuqa\u2019 dan mengajak mereka untuk memeluk Islam, dengan lantang mereka menolak &nbsp;seruan itu dan menjawab dengan jawaban yang menggambarkan keinginan untuk berperang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Tidak hanya sampai&nbsp;di situ, bahkan mereka berani secara terang-terangan mengganggu seorang wanita muslimah yang sedang berbelanja di pasar mereka, kemudian datang seorang laki-laki Muslim untuk menolong wanita tersebut. Akan tetapi, laki-laki itu terbunuh karena&nbsp;dikeroyok&nbsp;oleh orang-orang Yahudi. Kejadian itu membuat habis kesabaran Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;dan langsung mengerahkan pasukannya menuju Bani Qainuqa\u2019. Bani Qainuqa\u2019 dikepung oleh pasukan Muslimin selama 15 hari, hal ini membuat mereka semakin takut hingga akhirnya menyerahkan diri kepada Rasulullah&nbsp;\ufdfa. Rasulullah&nbsp;\ufdfamemerintahkan untuk membunuh semua kaum laki-laki Bani Qainuqa\u2019, tetapi tidak jadi karena permohonan dari Abdullah bin Ubay. Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;membiarkan mereka hidup tetapi dengan syarat mereka harus pergi jauh dari Madinah. Tidak lama dari pengusiran itu, kebanyakan dari mereka mati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\"><strong>Perang Sawiq&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Abu Sufyan bersama pasukannya yang berjumlah 200 orang nekat memasuki Madinah untuk membunuh Nabi&nbsp;\ufdfa, mereka masuk dengan mengendap-endap pada malam hari. Abu Sufyan meminta izin masuk kepada pemimpin Bani Nadhir yang berada&nbsp;di dalam&nbsp;Madinah,&nbsp;kedatangannya&nbsp;pun dirahasiakan. Setelah itu pada akhir malam, Abu Sufyan kembali menemui rekan-rekannya dan mengutus beberapa orang dari pasukannya untuk pergi ke&nbsp;Madinah&nbsp;dan berhenti di Al-Uraidh.&nbsp;Di sana&nbsp;mereka membabati pohon-pohon kurma milik kaum Muslimin dan membunuh dua orang penjaga kebun tersebut. Mendengar hal itu, Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;langsung mengejar Abu Sufyan dan pasukannya. Abu Sufyan mempercepat langkahnya dengan&nbsp;meninggalkan tepung&nbsp;makanan yang mereka bawa sebagai bekal. Sampai pada akhirnya mereka lolos dari kejaran Rasulullah&nbsp;\ufdfa. kaum&nbsp;Muslimin membawa pulang&nbsp;sawiq&nbsp;(tepung gandum) yang ditinggalkan oleh Abu Sufyan dan kembali ke Madinah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\"><strong>Ka\u2019ab bin Al-Asyraf Tewas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Ka\u2019ab menyimpan dendam yang sangat besar terhadap Islam, dia secara memprovokasi orang-orang untuk membunuh dan memerangi kaum Muslimin. Hal ini dia lakukan dengan menyanjung-nyanjung Quraisy dan mengolok-olok Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;beserta kaum Muslimin. Hingga pada akhirnya beberapa sahabat merasa geram dan menyusun strategi untuk membunuh Ka\u2019ab.&nbsp;Sahabat-sahabat&nbsp;itu adalah Muhammad bin Maslamah, Ubbad bin &nbsp;Bisyr dan Abu Na\u2019ilah. Siasat Muhammad bin Maslamah adalah dengan menjebak Ka\u2019ab dan mengatakan seolah-olah dia mendukung Ka\u2019ab. Begitu juga dengan Abu Na\u2019ilah yang mendatangi Ka\u2019ab dengan melantunkan syair-syair yang menarik simpati Ka\u2019ab. Mereka memiliki&nbsp;rencana&nbsp;untuk&nbsp;mengajak&nbsp;keluar Ka\u2019ab&nbsp;di malam&nbsp;hari dan pergi menjauh dari pemukiman Ka\u2019ab. Setelah mereka berhasil mengajak keluar Ka\u2019ab, salah satu dari mereka bersiasat untuk memuji wangi kepala Ka\u2019ab dengan mencium kepala Ka\u2019ab. Saat Abu Na\u2019ilah berhasil mencium kepala Ka\u2019ab maka saat itu juga sahabat yang lain mengepung Ka\u2019ab dan menusuk bagian perut bawahnya. Kemudian&nbsp;mereka&nbsp;kembali ke Madinah dan menyerahkan kepala Ka\u2019ab kepada Rasulullah&nbsp;\ufdfa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\"><strong>Satuan Perang Zaid bin Haritsa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Kejadian ini bermula dari Sulaith bin Nu\u2019man yang masuk Islam dan masih berada di Mekkah, ia bersama rekan-rekannya meminum&nbsp;khamar&nbsp;hingga salah satu dari orang Quraisy itu membocorkan rencana kepergian kafilah&nbsp;dagang&nbsp;mereka yang dipimpin oleh Shafwan bin Umayyah. Setelah itu Sulaith pergi ke Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;dan memberitahukan hal tersebut. Mengetahui hal itu, Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;langsung memerintahkan pasukannya untuk menghadang kafilah itu hingga pada akhirnya mereka menyerah dan kembali ke Mekkah.<\/p>\n\n\n\n<p>Peristiwa-peristiwa ini mengajarkan kita agar jangan pernah puas dengan keberhasilan yang telah didapat. Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;dan para sahabat tidak pernah berhenti dan mengenal lelah dalam memperjuangkan Islam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Referensi:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>1. Ar-Rahiqul Makhtum,&nbsp;Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, cet.&nbsp;, Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>2. As-Sirah an-Nabawiyah ash-Shahihah: Muhawalah li Tathbiqi Qawa\u2018id al-Muhadditsin fi Naqdi Riwayati as-Sirah an-Nabawiyah, Dr. Akram&nbsp;Diy\u0101\u2019 al-\u2018Umari, cet. Maktabatu al-\u2018Ulum wa al-Hikam, al-Madinatu al-Munawwarah.<\/p>\n\n\n\n<p>3. As-Sirah an-Nabawiyah, Syaikh Abd al-Malik bin Hisyam, cet. Syarikatu Maktabah wa Mathba\u2018ah Musthafa al-Babi al-Halabi wa Auladuhu bi Mishr<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: Selpi Anjas Sari<\/p>\n\n\n\n<p>Pembimbing: Ustaz Deni Irawan, Lc., M.A.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Perang&nbsp;Badar&nbsp;merupakan simbol awal dari kemenangan kaum Muslimin. Namun,&nbsp;di balik &nbsp;kemenangan tersebut justru membuat Madinah memasuki masa yang penuh&nbsp;ketegangan. Madinah tidak pernah benar-benar dalam keadaan aman pada masa setelah Perang Badar sampai Perang Uhud. Berbagai macam&nbsp;ancaman&nbsp;terus datang, mulai dari aktivitas militer untuk menjaga wilayah, rencana konspirasi yang mengancam nyawa&nbsp;NabiMuhammad&nbsp;\ufdfa&nbsp;hingga konflik terbuka yang berujung pada Perang Bani [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":477,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-475","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sirah"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":236,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=236","url_meta":{"origin":475,"position":0},"title":"Perang Badar Kubra","author":"fahimna","date":"27 November 2025","format":false,"excerpt":"Perang Badar merupakan salah satu peristiwa yang sangat berpengaruh dalam mengubah peta kekuatan bagi kaum Muslimin karena perang ini merupakan kemenangan pertama bagi umat Islam. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah. Latar Belakang Peperangan Kaum Muslimin telah Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala izinkan untuk melawan kezaliman yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":459,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=459","url_meta":{"origin":475,"position":1},"title":"Mush\u2019ab bin&nbsp;\u2018Umair: Sang Rupawan yang Menukar Sutra dengan Debu","author":"fahimna","date":"13 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perjalanan dari kemewahan menuju kemuliaan iman Senja itu, kala langit Mekah\u00a0mulai meredup teriknya, seorang pemuda rupawan memantapkan langkahnya menuju majelis Nabi\u00a0\ufdfa\u00a0di\u00a0Dar Al-Arqam, sikapnya anggun, pakaiannya indah, dan parasnya begitu menawan. Ia menapaki bukit Safa seorang diri, menyapa penghujung hari dengan hati yang penuh akan rasa harap dan penasaran. Di umurnya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":58,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=58","url_meta":{"origin":475,"position":2},"title":"BAIAT AQABAH KEDUA","author":"fahimna","date":"30 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-13 kenabian, suasana malam di Mina begitu hening. Di tengah sunyinya lembah Aqabah, sekelompok lelaki dan dua perempuan dari Madinah dengan hati yang berdebar berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Jumlah mereka tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah kaum Anshar yang telah memeluk Islam melalui\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":173,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=173","url_meta":{"origin":475,"position":3},"title":"Sang Peniru Ulung Rasulullah shallahu &#8216;alaihi wasallam","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Penulis: Neisya Iffah Zahrah Sesaat setelah Mu\u2019awiyah II putra Yazid meninggalkan jabatan khalifahnya, semua orang menaruh harapan agar Ibnu Umar lah yang mengisi kekosongan itu, hingga Marwan menemuinya dan hendak membaiatnya, namun Ibnu Umar lagi\u2013lagi menolak karena orang\u2013orang dari wilayah timur enggan membaiatnya. Sedangkan yang saat itu Ibnu Umar inginkan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":35,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=35","url_meta":{"origin":475,"position":4},"title":"BAIAT AQABAH PERTAMA","author":"fahimna","date":"29 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-11 kenabian, enam orang dari Yatsrib (kini dikenal sebagai Madinah) mengunjungi Makkah saat musim haji dan bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu \u2018alayhi wasallam. Mereka tertarik dengan ajaran Islam setelah mendengar langsung dari beliau, dan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keenam orang tersebut juga berjanji kepada Rasulullah untuk\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":175,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=175","url_meta":{"origin":475,"position":5},"title":"Sang Peniru Ulung Rasulullah","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Penulis: Neisya Iffah Zahrah Garis Keturunan yang Mulia Saat telah memasuki usia senjanya, ia berbicara, \u201cAku telah berbaiat kepada Rasulullah dan sampai saat ini, aku tidak pernah merusak atau mengingkari janji itu. Aku tidak pernah berbaiat kepada pengobar fitnah dan tidak pula membangunkan orang mukmin kala tidurnya.\u201d Kalimat tersebut merupakan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=475"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/475\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":476,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/475\/revisions\/476"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/477"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}