{"id":464,"date":"2026-02-11T19:04:00","date_gmt":"2026-02-11T12:04:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=464"},"modified":"2026-02-16T19:06:23","modified_gmt":"2026-02-16T12:06:23","slug":"al-quran-dan-ushul-fikih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=464","title":{"rendered":"Al-Qur\u2019an dan&nbsp;Ushul&nbsp;Fikih"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"s11\">Dalam kajian&nbsp;Ushul&nbsp;Fikih, pembahasan mengenai dalil (sumber hukum) memiliki kedudukan yang sangat penting, karena darinya hukum-hukum syariat ditetapkan. Para ulama dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa dalil-dalil tersebut ada yang disepakati kehujjahannya (adillah muttafaq \u2018alaiha) dan ada pula yang diperselisihkan (adillah mukhtalaf fiihaa), baik karena perbedaan sudut pandang, perbedaan nama, atau perbedaan metodologi&nbsp;istinbath.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Dalil pertama dari&nbsp;adillah muttafaq \u2018alaiha&nbsp;adalah Al-Qur\u2019an, sumber hukum utama dalam Islam. Sebagai sumber pedoman hidup yang&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;turunkan, Al-Qur\u2019an dibaca, dihafal, dan diamalkan oleh Kaum Muslimin. Namun tidak seluruh ayatnya dapat dipahami sekilas mata, melainkan memerlukan kehati-hatian serta pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, para ulama meletakkan kaidah-kaidah serta ilmu alat lainnya agar Al-Qur\u2019an dapat dipahami sebagaimana yang&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfbkehendaki (muradullah).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Secara istilah, Al-Qur\u2019an adalah&nbsp;kalamullah&nbsp;yang diturunkan kepada Nabi Muhammad&nbsp;\ufdfa&nbsp;melalui perantara malaikat Jibril \u2018alaihissalam,&nbsp;ditulis dalam mushaf dan disampaikan kepada kita dengan periwayatan secara&nbsp;mutawatir.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\"><strong>Lafaz Hakikat dan Majaz dalam Al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Para ulama&nbsp;ushul&nbsp;menjelaskan bahwa lafaz dalam Al-Qur\u2019an ada yang digunakan sesuai makna asalnya (hakikat), dan ada pula yang digunakan tidak pada makna asalnya (majaz) karena adanya&nbsp;qarinah&nbsp;(indikasi) yang menunjukkan&nbsp;makna yang dimaksud. Pemahaman terhadap dua konsep ini penting agar seorang penuntut ilmu tidak tergesa-gesa dalam memahami ayat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Mayoritas ulama menerima adanya&nbsp;majaz&nbsp;dalam bahasa Arab dan penggunaannya dalam Al-Qur\u2019an, selama terdapat indikator yang jelas. Namun, makna hakikat tetap didahulukan selama tidak ada dalil yang memalingkannya, baru jika tidak memungkinkan, maka dibawa kepada makna&nbsp;majaz. Kaidah ini menjaga agar penafsiran Al-Qur\u2019an tidak liar, tetapi juga tidak kaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\"><strong>Hukum Ayat Mutasyabihat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Ayat-ayat Al-Qur\u2019an terbagi menjadi ayat&nbsp;muhkamat&nbsp;dan&nbsp;mutasyabihat. Ayat&nbsp;muhkamat&nbsp;adalah ayat yang jelas maknanya, seperti ayat tentang perintah dan larangan, halal dan haram, atau hukum-hukum yang sudah tegas. Sedangkan ayat&nbsp;mutasyabihat&nbsp;mengandung makna yang tidak bisa dipahami secara pasti oleh akal manusia, yaitu ayat-ayat yang menjelaskan tentang sifat&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb.&nbsp;&nbsp;Sikap para&nbsp;salafus saleh&nbsp;terhadap ayat&nbsp;mutasyabihat&nbsp;adalah menetapkan lafaznya, mengimaninya sebagaimana datangnya&nbsp;tanpa menyelewengkan makna (tahrif), tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (takyif), dan tanpa menyerupakan&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;dengan makhluk-Nya (tasybih), sembari menafikan makna yang batil. Sikap ini menunjukkan keagungan terhadap&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;dan kehati-hatian dalam memahami wahyu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\"><strong>Nasakh dalam Al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Nasakh dalam Al-Qur\u2019an berarti penghapusan atau penggantian suatu hukum yang ada di dalam Al-Qur\u2019an dengan hukum lain yang datang setelahnya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-\u2018Utsaimin&nbsp;rahimahullahmemberikan definisi dengan redaksi,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s13\">\u0631\u064e\u0641\u0652\u0639\u064f \u062d\u064f\u0643\u0652\u0645\u0650 \u062f\u064e\u0644\u0650\u064a\u0644\u064d \u0634\u064e\u0631\u0652\u0639\u0650\u064a\u064d\u0651 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0644\u064e\u0641\u0652\u0638\u0650\u0647\u0650 \u0628\u0650\u062f\u064e\u0644\u0650\u064a\u0644\u064d \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u062a\u064e\u0627\u0628\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0633\u064f\u0651\u0646\u064e\u0651\u0629\u0650<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">\u201cMenghapus hukum yang ditunjukan oleh dalil syariat atau menghapus lafaznya dengan dalil dari Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah (Kesesuaian).\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Para ulama sepakat bahwa&nbsp;<a><\/a>nasakh&nbsp;merupakan bagian dari syariat Islam dan terjadi berdasarkan hikmah&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb.Penghapusan ini bukan karena adanya perubahan pengetahuan atau penyesalan, justru&nbsp;nasakh mansukh ini menjelaskan bahwa&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Pemahaman tentang nasakh sangat penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam pengamalan hukum, seperti mengamalkan ayat yang hukumnya telah dihapus. Para ulama juga menegaskan bahwa klaim nasakh tidak boleh dilakukan secara serampangan dan harus berdasarkan dalil yang jelas.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Dalil adanya nasakh dalam Islam, firman&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;dalam Al-Qur\u2019an surah Al-Baqarah ayat 106,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s13\">\u0645\u064e\u0627 \u0646\u064e\u0646\u0633\u064e\u062e\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0621\u064e\u0627\u064a\u064e\u0629\u064d \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0646\u064f\u0646\u0633\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0646\u064e\u0623\u0652\u062a\u0650 \u0628\u0650\u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064d \u0645\u0650\u0651\u0646\u0652\u0647\u064e\u0622 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0645\u0650\u062b\u0652\u0644\u0650\u0647\u064e\u0622 \u06d7 \u0623\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u062a\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0671\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0643\u064f\u0644\u0650\u0651 \u0634\u064e\u0649\u0652\u0621\u064d \u0642\u064e\u062f\u0650\u064a\u0631\u064c<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">\u201cApapun yang Kami nasakh dari ayat, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;Maha Kuasa atas segala sesuatu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Oleh karena itu, kita harus <strong>mengetahui syarat-syarat nasakh,<\/strong> yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Pertama, adanya dua dalil yang bertentangan dan tidak bisa dikompromikan. Contohnya dalil tentang larangan ziarah kubur dan perintah untuk melakukannya. Karena tidak bisa dikompromikan dalam pengamalannya, maka kita ambil jalan nasakh; hukum yang pertama berlaku di zaman awal dan yang lainnya berlaku di zaman setelahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Kedua, mengetahui bahwa dalil yang menasakh datang lebih akhir daripada dalil yang dinasakh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Ketiga, dalil yang menasakh harus dalil yang sahih, tidak boleh dalil yang lemah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Syarat lainnya yaitu&nbsp;nasikh&nbsp;(dalil yang menghapus) harus dengan dalil dari Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah, tidak boleh dengan akal atau logika semata. Walau demikian nasakh ini selaras dan sama sekali tidak bertentangan dengan akal dan logika yang sehat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Mengapa bisa?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Alasan yang pertama, syariat itu hak penuh dari&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfbdan tidak ada yang berhak mencampurinya. Ini wujud dari kekuasaan&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;yang mutlak, dan&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;tidak akan menzalimi hamba-Nya.&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;tidak akan melakukan sesuatu kecuali berdasarkan kebijaksanaan-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Alasan yang kedua, karena terkadang ada maslahat yang besar di suatu saat, di suatu waktu, tapi setelah itu maslahatnya menjadi sangat kecil setelah itu. Bukan berarti&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;asalnya tidak tahu, kemudian menjadi tahu, bukan! Namun justru dari awal,&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfbmerencanakan hal tersebut.&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;tahu dari awal, bahwa nanti di awal Islam, maslahat yang lebih besar adalah hukum A -misalnya-. Kemudian&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;juga mengetahui bahwa nanti setelah Islam kuat, maslahat yang lebih besar adalah hukum B, maka&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;ganti dengan syariat hukum B.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Alasan ketiga, ketika pertama kali menyebarkan syariat Islam, dibutuhkan adanya tahapan pensyariatan (tadarruj). Dengan adanya tahapan seperti ini, maka Kaum Muslimin akan bisa menerima syariat -yang awalnya dirasa asing oleh mereka- dengan mudah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Pertanyaan selanjutnya, <strong>apa saja yang bisa dinasakh dan apa saja yang tidak bisa?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Pertama, yang tidak bisa dinasakh adalah kabar syariat, seperti kabar tentang hanya orang Islam sajalah yang masuk surga atau kabar tentang keluarnya dajjal dan semisalnya. Kedua, yang tidak bisa pula; hukum yang maslahatnya selalu ada di semua zaman dan di semua tempat, seperti pokok-pokok keimanan, perintah ibadah, juga akhlak-akhlak terpuji. Selain dua hal tersebut, maka semuanya bisa dinasakh. Dan perlu diingat kembali&nbsp;bahwa pada asalnya&nbsp;hukum&nbsp;itu tidak&nbsp;dinasakh&nbsp;dan masih berlaku, kecuali ada dalil yang&nbsp;menunjukkan&nbsp;bahwa&nbsp;hukum&nbsp;itu sudah&nbsp;dinasakh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Dengan demikian, Al-Qur\u2019an dan&nbsp;Ushul&nbsp;Fikih memiliki keterkaitan yang erat dalam menjaga kemurnian syariat serta kebenaran dalam pengamalannya, agar pemahaman terhadap syariat ini senantiasa berada di atas ilmu dan tuntunan yang benar.&nbsp;Allahu a\u2019lam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Rujukan:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8211;&nbsp;Kitab Al-Ushul&nbsp;min Ilmi Al-Ushul&nbsp;karya&nbsp;Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin&nbsp;hafizhahullah<\/p>\n\n\n\n<p>&#8211;&nbsp;Raudhatun Nazhir wa Junnah Al Munazhir&nbsp;karyaImam Ibnu Qudamah Al Maqdisi&nbsp;rahimahullah<\/p>\n\n\n\n<p>&#8211;&nbsp;Materi&nbsp;Ushul&nbsp;Fikih HSI Akademi bersama Ustaz Musyaffa\u2019 Ad-Dariny&nbsp;hafizahullah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s13\">Penulis:&nbsp;In\u2019am Mumtaz<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Pembimbing:&nbsp;Ustaz Misbahuzzulam, Lc.,M.H.I.&nbsp;Hafizahullah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Dalam kajian&nbsp;Ushul&nbsp;Fikih, pembahasan mengenai dalil (sumber hukum) memiliki kedudukan yang sangat penting, karena darinya hukum-hukum syariat ditetapkan. Para ulama dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa dalil-dalil tersebut ada yang disepakati kehujjahannya (adillah muttafaq \u2018alaiha) dan ada pula yang diperselisihkan (adillah mukhtalaf fiihaa), baik karena perbedaan sudut pandang, perbedaan nama, atau perbedaan metodologi&nbsp;istinbath.&nbsp; Dalil pertama dari&nbsp;adillah muttafaq [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":466,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-464","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ushul-fikih"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1358.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":413,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=413","url_meta":{"origin":464,"position":0},"title":"Dari Dalil ke Hukum: Peran Ushul Fikih dalam Menjawab Problematika Zaman","author":"fahimna","date":"17 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Dalam perjalanan panjang peradaban Islam, hukum-hukum syariat tidak muncul begitu saja. Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah adalah dua sumber utama hukum Kaum Muslimin, namun tidak semua permasalahan -terlebih pada permasalahan kontemporer- dijelaskan secara sharih[1] di dalamnya. Oleh karena itu, para ulama mengambil peran dalam menentukan hukum bagi berbagai peristiwa baru yang dialami\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":488,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","url_meta":{"origin":464,"position":1},"title":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam","author":"fahimna","date":"13 April 2026","format":false,"excerpt":"Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":494,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=494","url_meta":{"origin":464,"position":2},"title":"Makanan\u00a0Halal\u00a0tapi\u00a0Haram:\u00a0Adakah?","author":"fahimna","date":"27 April 2026","format":false,"excerpt":"Dalam Islam, konsep halal dan haram menjadi pedoman utama dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, sering muncul pertanyaan: apakah mungkin makanan yang asalnya halal justru menjadi haram? Jawabannya: ya, bisa. Kehalalan makanan tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi juga oleh proses, kondisi, dan cara memperolehnya. \u00a0 Faktor yang Membuat Makanan Halal\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":450,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=450","url_meta":{"origin":464,"position":3},"title":"Safar dan Rukhsah bagi Musafir","author":"fahimna","date":"2 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Safar (perjalanan) merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan kemudahan (rukhsah) bagi hamba-Nya yang melakukan perjalanan agar tetap dapat melaksanakan ibadah dengan benar tanpa memberatkan. Pemahaman tentang safar dan rukhsah sangat penting agar seorang musafir tidak berlebihan dalam mengambil keringanan ibadah dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":264,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=264","url_meta":{"origin":464,"position":4},"title":"Darah Haid, Nifas, atau Istihadhah. Jangan Salah!","author":"fahimna","date":"3 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Pembahasan mengenai darah yang keluar dari rahim wanita menempati posisi penting dalam fikih Islam karena berkaitan langsung dengan hukum-hukum ibadah seperti salat, puasa, dan hubungan suami istri. Dalam syariat, darah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu haid, nifas, dan istihadhah. Ibnu Rusyd dalam (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid)\u00a0menjelaskan ketiganya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":417,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=417","url_meta":{"origin":464,"position":5},"title":"Muthlaq dan Muqayyad","author":"fahimna","date":"20 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Definisi Muthlaq Muthlaq adalah lafaz yang menunjukkan satu hal tanpa syarat atau batasan apapun, menyebut sesuatu secara umum, tidak dijelaskan jenisnya, sifatnya, atau kriterianya. \u2022 Muthlaq biasanya berupa kata nakirah. Apa itu nakirah? Nakirah adalah kata yang tidak menunjukkan sesuatu tertentu (tidak spesifik). Ia menunjukkan sesuatu yang umum, belum ditentukan,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ulumul Quran&quot;","block_context":{"text":"Ulumul Quran","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=29"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=464"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/464\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":465,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/464\/revisions\/465"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}