{"id":455,"date":"2026-02-09T18:05:00","date_gmt":"2026-02-09T11:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=455"},"modified":"2026-02-10T18:07:44","modified_gmt":"2026-02-10T11:07:44","slug":"mengenal-hadis-mudallas-bagian-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=455","title":{"rendered":"Mengenal Hadis Mudallas: Bagian Pertama"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"s52 wp-block-paragraph\">Dalam studi ilmu hadis, istilah&nbsp;tadlis&nbsp;sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami&nbsp;tadlis&nbsp;disebut hadis&nbsp;mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan sanad. Akibatnya, riwayat yang sebenarnya mengandung cacat tersembunyi bisa saja dianggap kuat. Karena itu, pembahasan tentang hadis&nbsp;mudallas&nbsp;menjadi penting. Dengan memahami bentuk-bentuk&nbsp;tadlis, pembaca dapat lebih teliti dalam menilai keabsahan sebuah riwayat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Landasan pembahasan hadis&nbsp;mudallas&nbsp;pun bertumpu pada ajaran Al-Qur\u2019an agar seorang Muslim berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi agama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;berfirman:&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s54 wp-block-paragraph\">\ufd3f&nbsp;\u0625\u0650\u0646 \u062c\u064e\u0627\u0621\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0627\u0633\u0650\u0642\u064c \u0628\u0650\u0646\u064e\u0628\u064e\u0625\u064d \u0641\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u064a\u064e\u0651\u0646\u064f\u0648\u0627&nbsp;\ufd3e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">\u201cJika seseorang membawa berita kepadamu, maka periksalah kebenarannya\u201d (QS. Al-\u1e24ujur\u0101t 49:6).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Dengan dasar inilah, pembahasan mengenai pengertian hadis&nbsp;mudallas&nbsp;dan bentuk-bentuk&nbsp;tadlis&nbsp;menjadi relevan untuk dikaji lebih jauh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\"><strong>Pengertian Hadis&nbsp;Mudallas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Hadis&nbsp;mudallas&nbsp;adalah hadis yang dari luar terlihat bersih dan meyakinkan, tetapi sebenarnya ada bagian sanad yang disamarkan oleh perawinya. Cacat dalam sanad itu sengaja ditutupi agar riwayat tampak lebih kuat daripada kondisi aslinya. Karena penyamaran ini, sebuah hadis bisa kelihatan sahih padahal memiliki masalah tersembunyi dalam jalur periwayatannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\"><strong>Pembagian Hadis Mudallas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1.&nbsp;Tadlis Isnad<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Tadlis isnad&nbsp;adalah ketika seorang perawi meriwayatkan hadis dari seorang guru yang memang pernah ia dengar beberapa hadis darinya, tetapi khusus hadis yang ia riwayatkan ini sebenarnya tidak ia dengar langsung dari guru tersebut. Ia mendapatkannya dari guru lain, namun guru itu justru \u201cdihilangkan\u201d dari sanad. Setelah itu, ia menyampaikan hadis tersebut dengan lafaz yang masih mungkin bermakna mendengar langsung, tetapi juga bisa tidak, seperti menggunakan kata&nbsp;\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e&nbsp;(q\u0101la)&nbsp;&lt;ia berkata&gt; atau&nbsp;\u0639\u064e\u0646\u0652&nbsp;(\u2018an)&nbsp;&lt;dari&gt;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Dengan cara ini, pendengar akan mengira bahwa ia menerima hadis itu langsung dari gurunya, padahal tidak. Namun, ia tetap tidak berani memakai lafaz tegas seperti \u201c\u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u0652\u062a\u064f\u201d&nbsp;(sami&#8217;tu)&nbsp;&lt;aku&nbsp;mendengar&gt; atau \u201c\u062d\u064e\u062f\u064e\u0651\u062b\u064e\u0646\u0650\u064a\u0652\u201d&nbsp;(haddatsani)&nbsp;&lt;ia menceritakan kepadaku&gt;, karena kalau ia melakukannya, itu sudah termasuk kedustaan. Perawi yang melakukan&nbsp;tadlis isnad&nbsp;bisa saja menghilangkan satu perawi, atau bahkan lebih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s56 wp-block-paragraph\">\u0645\u0627 \u0623\u062e\u0631\u062c\u0647 \u0627\u0644\u062d\u0627\u0643\u0645 \u0628\u0633\u0646\u062f\u0647 \u0625\u0644\u0649 \u0639\u0644\u064a \u0628\u0646 \u062e\u0634\u0631\u0645 \u0642\u0627\u0644: &#8220;\u0642\u0627\u0644 \u0644\u0646\u0627 \u0627\u0628\u0646 \u0639\u064a\u064a\u0646\u0629: \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a\u060c \u0641\u0642\u064a\u0644 \u0644\u0647: \u0633\u0645\u0639\u062a\u0647 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a\u061f \u0641\u0642\u0627\u0644: \u0644\u0627\u060c \u0648\u0644\u0627 \u0645\u0645\u0646 \u0633\u0645\u0639\u0647 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a. \u062d\u062f\u062b\u0646\u064a \u0639\u0628\u062f \u0627\u0644\u0631\u0632\u0627\u0642 \u0639\u0646 \u0645\u0639\u0645\u0631 \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim, dengan sanadnya sampai kepada \u2018Ali bin Khushram. Ia berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">&#8220;Ibnu \u2018Uyaynah berkata kepada kami: \u2018(Hadis ini) dari al-Zuhri.\u2019 Lalu ada yang bertanya kepadanya, \u2018Apakah engkau mendengarnya langsung dari al-Zuhri?\u2019 Ia menjawab, \u2018Tidak, dan tidak pula dari orang yang mendengarnya langsung dari al-Zuhri. Yang menceritakannya kepadaku adalah \u2018Abd al-Razzaq, dari Ma\u2018mar, dari al-Zuhri.\u2019\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Dalam contoh ini, Ibnu \u2018Uyaynah telah menghilangkan dua perawi antara dirinya dan al-Zuhri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2.&nbsp;Tadlis Taswiyah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Tadlis taswiyah&nbsp;adalah tindakan seorang perawi meriwayatkan hadis dari gurunya yang terpercaya, lalu dengan sengaja menghapus satu perawi yang lemah di tengah rangkaian&nbsp;sanad. Karena perawi pertama dan terakhir sama-sama dianggap terpercaya serta pernah bertemu, maka ketika nama perawi lemah itu dihilangkan, sanadnya terlihat seolah seluruhnya terdiri dari orang-orang yang terpercaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Ibn Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayahnya menceritakan sebuah hadis yang diriwayatkan Ishaq bin Rahuyah dari Baqiyyah. Baqiyyah mengatakan bahwa ia mendengar dari Abu Wahb al-Asadi, dari Nafi\u2018, dari Ibnu Umar:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s57 wp-block-paragraph\">\u0644\u0627 \u062a\u062d\u0645\u062f\u0648\u0627 \u0625\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0627\u0644\u0645\u0631\u0621 \u062d\u062a\u0649 \u062a\u0639\u0631\u0641\u0648\u0627 \u0639\u0642\u062f\u0629 \u0631\u0623\u064a\u0647<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">&#8220;Jangan kalian memuji keislaman seseorang sampai kalian mengenal pendirian dan pola pikirnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Ayah Ibn Abi Hatim menjelaskan bahwa hadis ini sebenarnya punya masalah yang tidak banyak orang memahami. Sanad aslinya adalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Ubaidullah bin Amr (tsiqah) \u2192 Ishaq bin Abi Furwah (lemah) \u2192 Nafi\u2018 (tsiqah) \u2192 Ibnu Umar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Namun Baqiyyah menyamarkan nama perawi yang lemah (Ishaq bin Abi Furwah). Ia mengganti penyebutan Ubaidullah bin Amr dengan kunyah-nya \u201cAbu Wahb\u201d dan menisbatkannya kepada Bani Asad agar tidak dikenali. Dengan begitu, rangkaian sanad tampak seakan-akan seluruh perawinya kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">3.&nbsp;Tadlis Syuyukh<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Tadlis syuyukh&nbsp;adalah ketika seorang perawi meriwayatkan hadis dari gurunya tanpa menghapus siapa pun dari sanad, tetapi menyamarkan identitas gurunya. Bisa dengan mengubah nama,&nbsp;kunyah&nbsp;(julukan), nasab, atau ciri-cirinya, sehingga orang lain sulit mengenali siapa guru yang dimaksud.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Abu Bakar bin Mujahid\u2014salah satu imam dalam ilmu qira\u2019ah\u2014pernah berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">\u201cTelah menceritakan kepada kami \u2018Abdullah bin Abi \u2018Abdillah\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Padahal yang ia maksud sebenarnya adalah Abu Bakar bin Abi Dawud as-Sijistani, tetapi ia menyebutnya dengan nama yang tidak biasa sehingga orang lain tidak langsung mengenalinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Dari pembahasan ini, kita memahami bahwa&nbsp;tadlis&nbsp;adalah bentuk penyamaran dalam sanad yang dapat memengaruhi kualitas sebuah hadis. Bentuk-bentuknya\u2014seperti&nbsp;tadlis isnad, taswiyah, dan&nbsp;syuyukh\u2014menunjukkan bagaimana sebuah riwayat bisa tampak kuat padahal memiliki cacat tersembunyi. Dengan mengenali jenis-jenis&nbsp;tadlis, kita dapat lebih teliti dalam menerima dan menyampaikan riwayat keagamaan. Semoga&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;memberi kita ilmu yang bermanfaat dan menjadikan kita hamba yang hati-hati dalam menjaga kebenaran ajaran-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Referensi&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1.&nbsp;Nuzhah an-Nazar fi Tawdhih Nukhbat al-Fikar, Ibn Hajar al-\u2018Asqalani, Mathba\u2018ah ash-Shabah, Damaskus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2.&nbsp;Taysir Musthalah al-Hadis, Mahm\u016bd ath-Thahh\u0101n, Maktabah al-Ma\u2018arif lin-Nasyr wa at-Tawzi\u2018, Riyadh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Penulis:&nbsp;Zashkia Rasya Kamila<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53 wp-block-paragraph\">Pembimbing: Ustazah Ainun Nur Hasanah, S.Ag.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Dalam studi ilmu hadis, istilah&nbsp;tadlis&nbsp;sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami&nbsp;tadlis&nbsp;disebut hadis&nbsp;mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan sanad. Akibatnya, riwayat yang sebenarnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":457,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-455","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musthalah-hadis"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":505,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=505","url_meta":{"origin":455,"position":0},"title":"Mengenal Hadis Sy\u0101dz dan Mahf\u016bz","author":"fahimna","date":"10 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Di tengah maraknya kajian hadis\u2014baik di ruang akademik maupun media digital\u2014tidak sedikit yang mengira bahwa keberadaan sanad sudah cukup untuk memastikan validitas sebuah riwayat. Padahal, tradisi keilmuan Islam menuntut kehati-hatian yang jauh lebih ketat. Para ulama hadis tidak hanya meneliti sanad secara terpisah, tetapi juga membandingkan satu riwayat dengan riwayat\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":167,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=167","url_meta":{"origin":455,"position":1},"title":"Hadis Masyhur","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83c\udf40 Penulis: Fadhila Salma Nuzula \ud83e\udeb4Definisi Hadis Masyhur: Menurut bahasa: Adalah isim maf\u2019ul dari syahartu al-amr, yang bermakna aku mengumumkan dan aku menampakkan suatu perkara. Dan dinamakan seperti itu karena penampakannya yang jelas. Menurut istilah: Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih dalam setiap tingkatannya, asalkan tidak mencapai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":163,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=163","url_meta":{"origin":455,"position":2},"title":"Hadis Mungkar","author":"fahimna","date":"28 September 2025","format":false,"excerpt":"\u270d\ud83c\udffc Penulis: Fadhila Salma Nuzula\u27a1\ufe0f Definisi Hadis Munkar\u25cf Secara bahasa hadis munkar adalah isim maf\u2019ul dari al-inkar (pengingkaran) yang merupakan lawan kata dari al-iqrar (persetujuan)\u25cf Secara istilah hadis munkar memiliki dua definisi yang paling populer:Hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang kekeliruannya sangat parah, banyak lupa, dan tampak kefasikannya.Hadis\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":488,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","url_meta":{"origin":455,"position":3},"title":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam","author":"fahimna","date":"13 April 2026","format":false,"excerpt":"Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":542,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=542","url_meta":{"origin":455,"position":4},"title":"Khabar Ahad 4","author":"fahimna","date":"30 Januari 2022","format":false,"excerpt":"\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645 \u0627\u0644\u062d\u0645\u062f \u0644\u0644\u0647 \u0631\u0628 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645\u064a\u0646\u060c \u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0634\u0631\u0641 \u0627\u0644\u0623\u0646\u0628\u064a\u0627\u0621 \u0648\u0627\u0644\u0645\u0631\u0633\u0644\u064a\u0646\u060c \u0648\u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0648\u0635\u062d\u0628\u0647 \u0623\u062c\u0645\u0639\u064a\u0646\u060c \u0623\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas seputar Kitab-Kitab Populer Seputar Hadis Sahih. Pada kesempatan kali ini insya Allah akan membahas kelanjutan dari pembagian hadits maqbul yaitu Hadis Hasan. Definisi dari\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":546,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=546","url_meta":{"origin":455,"position":5},"title":"KHABAR AHAD 10","author":"fahimna","date":"3 Juli 2022","format":false,"excerpt":"\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645 \u0627\u0644\u062d\u0645\u062f \u0644\u0644\u0647 \u0631\u0628 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645\u064a\u0646\u060c \u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0634\u0631\u0641 \u0627\u0644\u0623\u0646\u0628\u064a\u0627\u0621 \u0648\u0627\u0644\u0645\u0631\u0633\u0644\u064a\u0646\u060c \u0648\u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0648\u0635\u062d\u0628\u0647 \u0623\u062c\u0645\u0639\u064a\u0646\u060c \u0623\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang kitab-kitab yang di dalamnya memuat hadis hasan, pada kesempatan kali ini insyaallah akan membahas perbedaan manhaj Abu Daud dan Imam Muslim dalam menyeleksi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/455","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=455"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/455\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":456,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/455\/revisions\/456"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=455"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=455"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=455"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}