{"id":455,"date":"2026-02-09T18:05:00","date_gmt":"2026-02-09T11:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=455"},"modified":"2026-02-10T18:07:44","modified_gmt":"2026-02-10T11:07:44","slug":"mengenal-hadis-mudallas-bagian-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=455","title":{"rendered":"Mengenal Hadis Mudallas: Bagian Pertama"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"s52\">Dalam studi ilmu hadis, istilah&nbsp;tadlis&nbsp;sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami&nbsp;tadlis&nbsp;disebut hadis&nbsp;mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan sanad. Akibatnya, riwayat yang sebenarnya mengandung cacat tersembunyi bisa saja dianggap kuat. Karena itu, pembahasan tentang hadis&nbsp;mudallas&nbsp;menjadi penting. Dengan memahami bentuk-bentuk&nbsp;tadlis, pembaca dapat lebih teliti dalam menilai keabsahan sebuah riwayat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Landasan pembahasan hadis&nbsp;mudallas&nbsp;pun bertumpu pada ajaran Al-Qur\u2019an agar seorang Muslim berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi agama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;berfirman:&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s54\">\ufd3f&nbsp;\u0625\u0650\u0646 \u062c\u064e\u0627\u0621\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0627\u0633\u0650\u0642\u064c \u0628\u0650\u0646\u064e\u0628\u064e\u0625\u064d \u0641\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u064a\u064e\u0651\u0646\u064f\u0648\u0627&nbsp;\ufd3e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">\u201cJika seseorang membawa berita kepadamu, maka periksalah kebenarannya\u201d (QS. Al-\u1e24ujur\u0101t 49:6).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Dengan dasar inilah, pembahasan mengenai pengertian hadis&nbsp;mudallas&nbsp;dan bentuk-bentuk&nbsp;tadlis&nbsp;menjadi relevan untuk dikaji lebih jauh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\"><strong>Pengertian Hadis&nbsp;Mudallas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Hadis&nbsp;mudallas&nbsp;adalah hadis yang dari luar terlihat bersih dan meyakinkan, tetapi sebenarnya ada bagian sanad yang disamarkan oleh perawinya. Cacat dalam sanad itu sengaja ditutupi agar riwayat tampak lebih kuat daripada kondisi aslinya. Karena penyamaran ini, sebuah hadis bisa kelihatan sahih padahal memiliki masalah tersembunyi dalam jalur periwayatannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\"><strong>Pembagian Hadis Mudallas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>1.&nbsp;Tadlis Isnad<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Tadlis isnad&nbsp;adalah ketika seorang perawi meriwayatkan hadis dari seorang guru yang memang pernah ia dengar beberapa hadis darinya, tetapi khusus hadis yang ia riwayatkan ini sebenarnya tidak ia dengar langsung dari guru tersebut. Ia mendapatkannya dari guru lain, namun guru itu justru \u201cdihilangkan\u201d dari sanad. Setelah itu, ia menyampaikan hadis tersebut dengan lafaz yang masih mungkin bermakna mendengar langsung, tetapi juga bisa tidak, seperti menggunakan kata&nbsp;\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e&nbsp;(q\u0101la)&nbsp;&lt;ia berkata&gt; atau&nbsp;\u0639\u064e\u0646\u0652&nbsp;(\u2018an)&nbsp;&lt;dari&gt;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Dengan cara ini, pendengar akan mengira bahwa ia menerima hadis itu langsung dari gurunya, padahal tidak. Namun, ia tetap tidak berani memakai lafaz tegas seperti \u201c\u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u0652\u062a\u064f\u201d&nbsp;(sami&#8217;tu)&nbsp;&lt;aku&nbsp;mendengar&gt; atau \u201c\u062d\u064e\u062f\u064e\u0651\u062b\u064e\u0646\u0650\u064a\u0652\u201d&nbsp;(haddatsani)&nbsp;&lt;ia menceritakan kepadaku&gt;, karena kalau ia melakukannya, itu sudah termasuk kedustaan. Perawi yang melakukan&nbsp;tadlis isnad&nbsp;bisa saja menghilangkan satu perawi, atau bahkan lebih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s56\">\u0645\u0627 \u0623\u062e\u0631\u062c\u0647 \u0627\u0644\u062d\u0627\u0643\u0645 \u0628\u0633\u0646\u062f\u0647 \u0625\u0644\u0649 \u0639\u0644\u064a \u0628\u0646 \u062e\u0634\u0631\u0645 \u0642\u0627\u0644: &#8220;\u0642\u0627\u0644 \u0644\u0646\u0627 \u0627\u0628\u0646 \u0639\u064a\u064a\u0646\u0629: \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a\u060c \u0641\u0642\u064a\u0644 \u0644\u0647: \u0633\u0645\u0639\u062a\u0647 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a\u061f \u0641\u0642\u0627\u0644: \u0644\u0627\u060c \u0648\u0644\u0627 \u0645\u0645\u0646 \u0633\u0645\u0639\u0647 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a. \u062d\u062f\u062b\u0646\u064a \u0639\u0628\u062f \u0627\u0644\u0631\u0632\u0627\u0642 \u0639\u0646 \u0645\u0639\u0645\u0631 \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0632\u0647\u0631\u064a.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim, dengan sanadnya sampai kepada \u2018Ali bin Khushram. Ia berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">&#8220;Ibnu \u2018Uyaynah berkata kepada kami: \u2018(Hadis ini) dari al-Zuhri.\u2019 Lalu ada yang bertanya kepadanya, \u2018Apakah engkau mendengarnya langsung dari al-Zuhri?\u2019 Ia menjawab, \u2018Tidak, dan tidak pula dari orang yang mendengarnya langsung dari al-Zuhri. Yang menceritakannya kepadaku adalah \u2018Abd al-Razzaq, dari Ma\u2018mar, dari al-Zuhri.\u2019\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Dalam contoh ini, Ibnu \u2018Uyaynah telah menghilangkan dua perawi antara dirinya dan al-Zuhri.<\/p>\n\n\n\n<p>2.&nbsp;Tadlis Taswiyah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Tadlis taswiyah&nbsp;adalah tindakan seorang perawi meriwayatkan hadis dari gurunya yang terpercaya, lalu dengan sengaja menghapus satu perawi yang lemah di tengah rangkaian&nbsp;sanad. Karena perawi pertama dan terakhir sama-sama dianggap terpercaya serta pernah bertemu, maka ketika nama perawi lemah itu dihilangkan, sanadnya terlihat seolah seluruhnya terdiri dari orang-orang yang terpercaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Ibn Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayahnya menceritakan sebuah hadis yang diriwayatkan Ishaq bin Rahuyah dari Baqiyyah. Baqiyyah mengatakan bahwa ia mendengar dari Abu Wahb al-Asadi, dari Nafi\u2018, dari Ibnu Umar:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s57\">\u0644\u0627 \u062a\u062d\u0645\u062f\u0648\u0627 \u0625\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0627\u0644\u0645\u0631\u0621 \u062d\u062a\u0649 \u062a\u0639\u0631\u0641\u0648\u0627 \u0639\u0642\u062f\u0629 \u0631\u0623\u064a\u0647<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">&#8220;Jangan kalian memuji keislaman seseorang sampai kalian mengenal pendirian dan pola pikirnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Ayah Ibn Abi Hatim menjelaskan bahwa hadis ini sebenarnya punya masalah yang tidak banyak orang memahami. Sanad aslinya adalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Ubaidullah bin Amr (tsiqah) \u2192 Ishaq bin Abi Furwah (lemah) \u2192 Nafi\u2018 (tsiqah) \u2192 Ibnu Umar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Namun Baqiyyah menyamarkan nama perawi yang lemah (Ishaq bin Abi Furwah). Ia mengganti penyebutan Ubaidullah bin Amr dengan kunyah-nya \u201cAbu Wahb\u201d dan menisbatkannya kepada Bani Asad agar tidak dikenali. Dengan begitu, rangkaian sanad tampak seakan-akan seluruh perawinya kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>3.&nbsp;Tadlis Syuyukh<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Tadlis syuyukh&nbsp;adalah ketika seorang perawi meriwayatkan hadis dari gurunya tanpa menghapus siapa pun dari sanad, tetapi menyamarkan identitas gurunya. Bisa dengan mengubah nama,&nbsp;kunyah&nbsp;(julukan), nasab, atau ciri-cirinya, sehingga orang lain sulit mengenali siapa guru yang dimaksud.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Contoh:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Abu Bakar bin Mujahid\u2014salah satu imam dalam ilmu qira\u2019ah\u2014pernah berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">\u201cTelah menceritakan kepada kami \u2018Abdullah bin Abi \u2018Abdillah\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Padahal yang ia maksud sebenarnya adalah Abu Bakar bin Abi Dawud as-Sijistani, tetapi ia menyebutnya dengan nama yang tidak biasa sehingga orang lain tidak langsung mengenalinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Dari pembahasan ini, kita memahami bahwa&nbsp;tadlis&nbsp;adalah bentuk penyamaran dalam sanad yang dapat memengaruhi kualitas sebuah hadis. Bentuk-bentuknya\u2014seperti&nbsp;tadlis isnad, taswiyah, dan&nbsp;syuyukh\u2014menunjukkan bagaimana sebuah riwayat bisa tampak kuat padahal memiliki cacat tersembunyi. Dengan mengenali jenis-jenis&nbsp;tadlis, kita dapat lebih teliti dalam menerima dan menyampaikan riwayat keagamaan. Semoga&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb&nbsp;memberi kita ilmu yang bermanfaat dan menjadikan kita hamba yang hati-hati dalam menjaga kebenaran ajaran-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Referensi&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>1.&nbsp;Nuzhah an-Nazar fi Tawdhih Nukhbat al-Fikar, Ibn Hajar al-\u2018Asqalani, Mathba\u2018ah ash-Shabah, Damaskus.<\/p>\n\n\n\n<p>2.&nbsp;Taysir Musthalah al-Hadis, Mahm\u016bd ath-Thahh\u0101n, Maktabah al-Ma\u2018arif lin-Nasyr wa at-Tawzi\u2018, Riyadh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Penulis:&nbsp;Zashkia Rasya Kamila<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s53\">Pembimbing: Ustazah Ainun Nur Hasanah, S.Ag.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Dalam studi ilmu hadis, istilah&nbsp;tadlis&nbsp;sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami&nbsp;tadlis&nbsp;disebut hadis&nbsp;mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan sanad. Akibatnya, riwayat yang sebenarnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":457,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-455","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musthalah-hadis"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":167,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=167","url_meta":{"origin":455,"position":0},"title":"Hadis Masyhur","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83c\udf40 Penulis: Fadhila Salma Nuzula \ud83e\udeb4Definisi Hadis Masyhur: Menurut bahasa: Adalah isim maf\u2019ul dari syahartu al-amr, yang bermakna aku mengumumkan dan aku menampakkan suatu perkara. Dan dinamakan seperti itu karena penampakannya yang jelas. Menurut istilah: Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih dalam setiap tingkatannya, asalkan tidak mencapai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":163,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=163","url_meta":{"origin":455,"position":1},"title":"Hadis Mungkar","author":"fahimna","date":"28 September 2025","format":false,"excerpt":"\u270d\ud83c\udffc Penulis: Fadhila Salma Nuzula\u27a1\ufe0f Definisi Hadis Munkar\u25cf Secara bahasa hadis munkar adalah isim maf\u2019ul dari al-inkar (pengingkaran) yang merupakan lawan kata dari al-iqrar (persetujuan)\u25cf Secara istilah hadis munkar memiliki dua definisi yang paling populer:Hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang kekeliruannya sangat parah, banyak lupa, dan tampak kefasikannya.Hadis\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":488,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","url_meta":{"origin":455,"position":2},"title":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam","author":"fahimna","date":"13 April 2026","format":false,"excerpt":"Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":126,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=126","url_meta":{"origin":455,"position":3},"title":"Batalkah Wudu Seseorang yang Menyentuh Kemaluannya?","author":"fahimna","date":"28 September 2025","format":false,"excerpt":"\u270d\ud83c\udffc Penulis: Ismi Maulida Khusna Pernahkah Anda bertanya-tanya, seberapa jauhkah batas kesucian dalam ibadah? Hal hal sederhana seperti memegang kemaluan, apakah bisa membatalkan wudu yang telah kita sempurnakan? Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di benak kita. Ada yang mengatakan, menyentuh kemaluan langsung membatalkan wudu. Namun, ada pula pendapat yang berbeda.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x"},"classes":[]},{"id":502,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=502","url_meta":{"origin":455,"position":4},"title":"Denda&nbsp;atas&nbsp;Gigi dan Jari-Jemari&nbsp;yang dihilangkan.","author":"fahimna","date":"4 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Dalam Islam, hukuman atas kejahatan terhadap jiwa atau anggota tubuh tidak hanya terbatas pada\u00a0qishash, tetapi juga mencakup diat. Menurut KBBI, diat adalah denda berupa harta yang wajib dibayar karena melukai atau membunuh seseorang. \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a \u0628\u064e\u0643\u0652\u0631\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650\u0648 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u062d\u064e\u0632\u0652\u0645\u064d\u060c \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a\u0647\u0650\u060c \u0639\u064e\u0646\u0652 \u062c\u064e\u062f\u0650\u0651\u0647\u0650 \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":171,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=171","url_meta":{"origin":455,"position":5},"title":"Haruskah Wudu Setelah Berbekam?","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Oleh: Wahyu Griza Septi Nuraini Bekam merupakan sunnah yang Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam pernah melakukannya. Manfaat bekam sangat baik untuk kesehatan salah satunya dapat menghilangkan racun dalam tubuh, meredakan sakit kepala, dan menjaga stamina tubuh. Ada empat jenis bekam yaiu: Pertama, bekam kering menggunakan cangkir di titik akupuntur dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/455","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=455"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/455\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":456,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/455\/revisions\/456"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=455"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=455"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=455"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}