{"id":450,"date":"2026-02-02T08:21:49","date_gmt":"2026-02-02T01:21:49","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=450"},"modified":"2026-02-02T08:21:49","modified_gmt":"2026-02-02T01:21:49","slug":"safar-dan-rukhsah-bagi-musafir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=450","title":{"rendered":"Safar dan Rukhsah bagi Musafir"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"s5\">Safar (perjalanan) merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan kemudahan (rukhsah) bagi hamba-Nya yang melakukan perjalanan agar tetap dapat melaksanakan ibadah dengan benar tanpa memberatkan. Pemahaman tentang safar dan rukhsah sangat penting agar seorang musafir tidak berlebihan dalam mengambil keringanan ibadah dan tidak pula memberatkan diri hingga menimbulkan kesulitan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Artikel ini membahas pengertian safar, bentuk-bentuk rukhsah bagi musafir, serta dalil-dalil syar\u2018i berdasarkan Al-Qur\u2019an dan As-Sunah yang disarikan dari kitab&nbsp;<a><\/a>Bidayatul Mujtahid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s16\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s16\"><strong>Pengertian Safar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Secara bahasa, safar berarti perjalanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Menurut Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam&nbsp;Minhatul `Alam, safar juga bermakna membuka atau menyingkap, karena perjalanan dapat menyingkap kebiasaan dan akhlak seseorang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Secara istilah fikih, safar adalah perjalanan seseorang keluar dari tempat tinggalnya dengan jarak tertentu yang membolehkan adanya keringanan dalam ibadah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Dalam kitab&nbsp;Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai batasan jarak dan waktu safar yang membolehkan pelaksanaan rukhsah, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p>1.&nbsp;Jumhur ulama (Mazhab Maliki, Syafi\u2018i, dan Hanbali): sekitar dua marhalah, setara dengan \u00b1 80-90 km.<\/p>\n\n\n\n<p>2.&nbsp;Mazhab Hanafi: sekitar tiga hari perjalanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Ibnu Rusyd menegaskan bahwa hikmah diperbolehkannya rukhsah dalam safar adalah adanya kesulitan. Oleh karena itu, tujuan rukhsah adalah memberikan kemudahan, bukan menggugurkan kewajiban ibadah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\"><strong>Rukhsah Bagi Musafir<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Rukhsah adalah keringanan hukum syariat yang diberikan karena adanya uzur, seperti safar. Dalam kitab&nbsp;Bidayatul Mujtahid, rukhsah bagi musafir meliputi:<\/p>\n\n\n\n<p>1.&nbsp;Qasar Salat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s16\">Qasar adalah memendekkan salat yang berjumlah empat rakaat, yaitu salat Zuhur, Asar, dan Isya menjadi dua rakaat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Menurut jumhur ulama, qasar hukumnya sunah muakkadah, sedangkan menurut Mazhab Hanafi hukumnya wajib.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s20\">2. Jamak Salat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Jamak adalah menggabungkan dua salat dalam satu waktu, yaitu salat zuhur dengan asar serta magrib dengan isya. Jamak dapat dilakukan dengan jamak takdim yaitu menggabungkan dua salat pada waktu salat pertama atau jamak takhir yaitu menggabungkan dua salat pada waktu salat kedua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s20\">3. Tidak Berpuasa pada Bulan Ramadan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s20\">Musafir diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadan dan wajib menggantinya pada hari lain. Yang lebih utama adalah memilih yang paling ringan dan tidak memberatkan diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s20\">4. Keringanan dalam Ibadah Sunah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Musafir tidak disunahkan melaksanakan salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat fardu, kecuali salat sunah subuh dan salat witir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s16\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\"><strong>Dalil&nbsp;Rukhsah Dalam Safar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u27a2&nbsp;Dalil Al-Qur\u2019an<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s23\">\u0648\u0625\u0630\u0627 \u0636\u0631\u0628\u062a\u0645 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636 \u0641\u0644\u064a\u0633 \u0639\u0644\u064a\u0643\u0645 \u062c\u0646\u0627\u062d \u0623\u0646 \u062a\u0642\u0635\u0631\u0648\u0627 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0635\u0644\u0648\u0629<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s24\">\u201cDan apabila kamu bepergian di muka bumi, tidaklah mengapa kamu mengqasar salat.\u201d (Q.S. An-Nisa: 101)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s23\">\u0648\u0645\u0646 \u0643\u0627\u0646 \u0645\u0631\u064a\u0636\u0627 \u0623\u0648 \u0639\u0644\u0649 \u0633\u0641\u0631 \u0641\u0639\u062f\u0629 \u0645\u0646 \u0623\u064a\u0627\u0645 \u0627\u064f\u062e\u0631<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s25\">\u201cBarang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka wajib menggantinya pada hari-hari yang lain.\u201d (Q.S. Al-Baqarah: 185)<\/p>\n\n\n\n<p>\u27a2&nbsp;Dalil Hadis<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s26\">\u0639\u0646 \u0639\u0628\u062f \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0628\u0646 \u0639\u0645\u0631 \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0645\u0627 \u0642\u0627\u0644: \u0635\u062d\u0628\u062a \u0631\u0633\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 \u0641\u0643\u0627\u0646 \u0644\u0627 \u064a\u0632\u064a\u062f \u0642\u064a \u0627\u0644\u0633\u0641\u0631 \u0639\u0644\u0649 \u0631\u0643\u0639\u062a\u064a\u0646<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s27\">Abdullah Ibnu Umar&nbsp;radhiyallahu \u2018anhuma&nbsp;berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s29\">\u201cAku pernah menemani Rasulullah&nbsp;\ufdfa&nbsp;dalam perjalanan, dan beliau tidak pernah melaksanakan salat lebih dari dua rakaat.\u201d (H.R. Bukhari dan Muslim)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Pemahaman tentang safar dan rukhsah ibadah merupakan bagian penting dalam kajian fikih. Syariat Islam tidak bertujuan memberatkan umatnya, melainkan memberikan kemudahan sesuai dengan kemampuan manusia. Dengan memahami ketentuan safar seorang muslim dapat melaksanakan ibadah dengan benar, tenang, dan sesuai dengan tuntunan syariat ketika bepergian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Semoga setiap perjalanan yang dilakukan bernilai ibadah dan semakin mendekatkan diri kepada&nbsp;Allah&nbsp;\ufdfb.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Penulis: Nadia Shafira Abidin<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Pembimbing: Ustaz Musyafi Usman, B.A., M.H.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Referensi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Ibnu Rusyd.&nbsp;Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid (Terjemah).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s12\">Syaikh Abdullah Al-Fauzan.&nbsp;Minhatul `Alam&nbsp;(Terjemah).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Safar (perjalanan) merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan kemudahan (rukhsah) bagi hamba-Nya yang melakukan perjalanan agar tetap dapat melaksanakan ibadah dengan benar tanpa memberatkan. Pemahaman tentang safar dan rukhsah sangat penting agar seorang musafir tidak berlebihan dalam mengambil keringanan ibadah dan tidak pula memberatkan diri hingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":452,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-450","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fikih"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1330.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":471,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=471","url_meta":{"origin":450,"position":0},"title":"Definisi Mantuq dan Pembagiannya","author":"fahimna","date":"20 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Definisi mantuq adalah makna yang ditunjukkan oleh lafaz secara langsung pada saat diucapkan, yakni makna yang dipahami berdasarkan susunan dan bunyi lafaz itu sendiri. Oleh karena itu, mantuq merupakan makna yang disebutkan secara jelas dalam lafaz. Mantuq terbagi menjadi nash dan zhahir, serta lafaz yang dipahami melalui ta\u2019wil (mu\u2019awwal). Nash\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ulumul Quran&quot;","block_context":{"text":"Ulumul Quran","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=29"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1378.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1378.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1378.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1378.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1378.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":488,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","url_meta":{"origin":450,"position":1},"title":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam","author":"fahimna","date":"13 April 2026","format":false,"excerpt":"Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":494,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=494","url_meta":{"origin":450,"position":2},"title":"Makanan\u00a0Halal\u00a0tapi\u00a0Haram:\u00a0Adakah?","author":"fahimna","date":"27 April 2026","format":false,"excerpt":"Dalam Islam, konsep halal dan haram menjadi pedoman utama dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, sering muncul pertanyaan: apakah mungkin makanan yang asalnya halal justru menjadi haram? Jawabannya: ya, bisa. Kehalalan makanan tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi juga oleh proses, kondisi, dan cara memperolehnya. \u00a0 Faktor yang Membuat Makanan Halal\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1521.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":264,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=264","url_meta":{"origin":450,"position":3},"title":"Darah Haid, Nifas, atau Istihadhah. Jangan Salah!","author":"fahimna","date":"3 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Pembahasan mengenai darah yang keluar dari rahim wanita menempati posisi penting dalam fikih Islam karena berkaitan langsung dengan hukum-hukum ibadah seperti salat, puasa, dan hubungan suami istri. Dalam syariat, darah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu haid, nifas, dan istihadhah. Ibnu Rusyd dalam (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid)\u00a0menjelaskan ketiganya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":445,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=445","url_meta":{"origin":450,"position":4},"title":"Adab Seorang Penuntut Ilmu Terhadap Dirinya 1","author":"fahimna","date":"11 Januari 2026","format":false,"excerpt":"Seorang penuntut ilmu memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmu, sesorang dapat memahami kemulian dan kebesaran-Nya. Allah ta\u2019ala berfirman: ... \u064a\u064e\u0631\u0652\u0641\u064e\u0639\u0650 \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0623\u064f\u0648\u062a\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064e \u062f\u064e\u0631\u064e\u062c\u064e\u0629\u064c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0639\u0652\u0645\u064e\u0644\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u062e\u064e\u0628\u0650\u064a\u0631\u064c Artinya:\"... niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Akhlak&quot;","block_context":{"text":"Akhlak","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=23"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1326.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":413,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=413","url_meta":{"origin":450,"position":5},"title":"Dari Dalil ke Hukum: Peran Ushul Fikih dalam Menjawab Problematika Zaman","author":"fahimna","date":"17 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Dalam perjalanan panjang peradaban Islam, hukum-hukum syariat tidak muncul begitu saja. Al-Qur\u2019an dan As-Sunnah adalah dua sumber utama hukum Kaum Muslimin, namun tidak semua permasalahan -terlebih pada permasalahan kontemporer- dijelaskan secara sharih[1] di dalamnya. Oleh karena itu, para ulama mengambil peran dalam menentukan hukum bagi berbagai peristiwa baru yang dialami\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1232.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/450","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=450"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/450\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":451,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/450\/revisions\/451"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/452"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=450"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=450"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=450"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}