{"id":399,"date":"2025-12-15T17:22:36","date_gmt":"2025-12-15T10:22:36","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=399"},"modified":"2025-12-15T17:22:36","modified_gmt":"2025-12-15T10:22:36","slug":"pemilik-intuisi-tajam-yang-menundukkan-pedang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=399","title":{"rendered":"Pemilik Intuisi Tajam yang Menundukkan Pedang"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"s3\">Sahabat yang dikenal karena kecerdasannya. Apakah pernah terbayang di benak kita, dihadapkan dengan musuh yang begitu lihai berbicara dan cerdik dalam strategi? Seorang&nbsp;public figure&nbsp;yang pendapatnya dihormati serta didengar setiap orang, taktikus medan perang yang membuat siapapun terkesima saat ia berbicara. Pemikirannya begitu brilian, pemahamannya luas, dan kemampuan problem solving-nya pun sangat mengesankan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Ia adalah seorang lelaki dengan mata hitam legam dan berjenggot lebat. Perawakannya tidak terlalu tinggi,&nbsp;namun berhasil membuat banyak hati gentar akan wibawanya. Dengan otak cerdas dan lidah yang fasih, jelas ia merupakan musuh yang harus diperhitungkan. Mungkin begitulah apa yang kaum muslimin rasakan kala melihat sosok \u2018Amr bin Al-\u2018Ash bin Wa\u2019il sebelum masuk&nbsp;Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Lalu bayangkan sejenak, bagaimana jika sosok seperti itu kini berdiri di &nbsp;pihak kita? Pernahkah terlintas di benak kita betapa berharganya memiliki seorang saudara dengan&nbsp;valuesebaik \u2018Amr bin Al-\u2018Ash?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Setelah masuk Islam, \u2018Amr mendedikasikan segala kelebihannya untuk agama barunya, baik kepiawaiannya dalam berbicara maupun keahliannya dalam strategi perang dan siasat. \u2018Amr pernah ditugaskan langsung oleh Rasulullah&nbsp;Shallallahu \u2018alaihi wa sallam&nbsp;untuk menjadi panglima dalam perang&nbsp;Dzat As-Salaasil,&nbsp;kemudian dalam masa kekhalifahan \u2018Umar bin Al-Khattab, Ia ditugaskan menjadi gubernur Palestina dan Yordania.&nbsp;Tak hanya itu, melalui tangannya -atas izin Allah- bumi Mesir jatuh dalam pangkuan Islam, \u2018Amr memberikan pengabdiannya kepada Allah secara total dan mengagumkan, ia sukses melepaskan tanah Mesir dari cengkeraman imperium Persia dan Romawi&nbsp;yang kejam, serta mengibarkan panji-panji Islam di angkasanya dengan damai.&nbsp;Namun itu semua hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kisah-kisah gemilang sosok \u2018Amr bin \u2018Al-Ash, sang&nbsp;politisi&nbsp;ulung Bani Sahm.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\"><strong>Taktik \u2018Amr dalam menghadapi rencana pembunuhan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Dikisahkan pada suatu riwayat, kala perang di Mesir meletus pada masa ke khalifahan \u2018Umar bin Al-Khattab, \u2018Amr diundang untuk berunding oleh komandan pasukan Romawi di bentengnya, \u2018Amr pun datang tanpa menaruh rasa curiga sedikit&nbsp;pun, ia datang dengan gagah, sebagai representasi yang nyaris sempurna dari seorang komandan muslim yang cerdik dan taktis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s8\">Pada awalnya, \u2018Amr tak menyadari adanya rencana busuk dari pihak Romawi yang berniat untuk membunuhnya.&nbsp;Setelah \u2018Amr masuk mereka meletakkan sebuah batu besar di atas gerbang, dan akan menjatuhkannya tepat saat komandan muslim tersebut selesai berunding. \u201cTertimpa batu dan tewas di sarang lawan\u201d\u2014kematian yang memalukan bagi panglima sebesar dirinya, mungkin itulah yang mereka harapkan kala itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Perundingan berjalan lancar, \u2018Amr pun melangkahkan kakinya menuju gerbang benteng, berniat keluar. Sesaat sebelum melewati gerbang, pandangan \u2018Amr menangkap adanya gerak-gerik mencurigakan di atas benteng, intuisinya yang terlatih langsung memahami bahwa ada sebuah bahaya yang tengah mengintainya. Ia pun segera memutar otak dan mengambil rencana cerdas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">\u2018Amr berbalik ke dalam benteng, langkahnya tetap tenang tanpa menunjukkan keraguan ataupun rasa takut, ia bergegas menemui pimpinan pasukan Romawi itu untuk yang kedua kalinya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">\u201cTerbesit di benakku sebuah pikiran, yang rasanya perlu aku sampaikan padamu sekarang, di pos komandoku menunggu para sahabat yang pendapatnya sering didengar oleh amirul mukminin, bahkan dalam pengiriman tentara, mereka selalu diikut sertakan untuk mengawasi tindakan-tindakan para pasukan, bagaimana bila kita adakan perundingan kedua dan aku akan membawa mereka kemari?\u201d ucap \u2018Amr. Komandan pasukan Romawi pun buru-buru menyetujuinya, mungkin terkekeh dalam hati, berpikir bahwa takdir baik sedang berada di pihaknya, ia pikir bisa membunuh para sahabat tersebut dengan sekaligus. Komandan naif tersebut segera menjabat tangan \u2018Amr dengan sukacita, dan mengisyaratkan untuk tidak menjatuhkan batu tersebut saat itu juga. Tanpa mengetahui bahwa rencana busuknya berhasil tercium oleh \u2018Amr.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">\u2018Amr tersenyum, menyambut uluran tangan lawannya dengan mantap, sekilas terlihat seperti kesepakatan yang indah antara dua komandan besar, namun tampaknya mereka terlalu meremehkan \u2018Amr. \u2018Amr pun beranjak pulang ke perkemahan pasukan muslim tanpa luka sedikit pun, namun detik itu, hatinya penuh rasa kecewa akan pengkhianatan pasukan Romawi yang ternyata memiliki niat tersembunyi kala mengundangnya ke sana. Tanpa berpikir dua kali \u2018Amr segera menyusun strategi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Keesokan paginya, \u2018Amr bersiap, ia duduk di atas kudanya dengan gagah, menyongsong fajar dengan takbir yang ia gaungkan ke telinga setiap prajuritnya. Hari itu, ia memimpin pasukannya untuk menggempur benteng Romawi, menagih kompensasi atas pengkhianatan mereka terhadap kemurahan hati yang telah ia berikan. \u2018Amr pun memacu kudanya dengan cepat, siap menyambut kemenangan yang telah ia munajatkan kepada Rabb-nya. Dan dengan izin Allah, melalui pengorbanan mereka, bumi Mesir merdeka dari tangan-tangan zalim bangsa Romawi dan Persia, kalimat tauhid dan takbir bergema di seluruh penjuru, dan keamanan serta kesejahteraan dikembalikan ke tangan penduduknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\"><strong>Pelajaran kepemimpinan dari seorang pemikir strategis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">\u2018Amr bin Al-\u2018Ash merupakan sahabat yang &nbsp;masuk Islam pada masa akhir kenabian, tepatnya sebelum terjadinya&nbsp;Fathu Makkah. Selama bertahun-tahun lamanya ia berdiri di pihak kaum&nbsp;musyrikin, dengan vokal dan lantang ia menyerukan kebencian terhadap Rasulullah dan agama yang dibawanya. \u2018Amr menggunakan segala kebolehannya untuk memberi keburukan serta gangguan terhadap kaum muslimin saat itu. Namun tatkala cahaya hidayah menyapanya, hatinya melembut dan bergegas menuju panggilan dakwah, ia menyerahkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya, hingga namanya pun harum bersama nama para sahabat senior yang lebih dahulu masuk Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Maka dari perjalanannya, kita bisa melihat secara nyata, karakter mulia seorang pemimpin pada diri \u2018Amr bin Al-\u2018Ash. \u2018Amr memberi contoh bahwa masa lalu tidak mendefinisikan masa depan seseorang, ia fokus pada apa yang bisa ia lakukan sekarang tanpa mencari-cari alasan untuk menutupi masa lalunya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Banyak pemimpin yang kita temui saat ini, jatuh dalam&nbsp;insecurity&nbsp;yang berlarut-larut, sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga pada akhirnya justru membuahkan hal-hal yang negatif. Amr bin al-\u2018Ash mengajarkan kepada kita bahwa kepercayaan diri yang sehat lahir dari kualitas diri yang baik, kemauan untuk berubah dan hati yang bersih. Pada perjalanannya pun, kita bisa melihat bahwa \u2018Amr bin Al-\u2018Ash fokus pada kontribusinya terhadap agama Allah tanpa sibuk membangun pesona dan citra di kalangan kaum muslimin, ia memberikan pengorbanan yang nyata untuk Islam tanpa pamrih dan mengharapkan pujian. Maka saat tanggung&nbsp;jawab kepemimpinan memanggilnya, ia mampu menyambutnya dengan mantap dan hati yang lapang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Hal ini menunjukkan ketangguhan dan&nbsp;self-acceptance&nbsp;yang luar biasa pada sosok \u2018Amr bin Al-\u2018Ash, di&nbsp;mana kedua hal ini merupakan salah satu pilar yang vital dalam kualitas kepemimpinan seseorang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Setelah masuk Islam, \u2018Amr bin Al-\u2019Ash tak &nbsp;lantas mengubur bakat yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi, ia membiarkan segala kepiawaiannya tunduk kepada syariat Allah&nbsp;Ta\u2019ala. Berhias cahaya takwa dan&nbsp;tawadhu\u2019, kecerdasannya dituntun oleh iman untuk membawa banyak kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, membuat kini sosoknya dikenal sebagai pahlawan yang mengagumkan dan bijaksana, serta dijadikan panutan dan teladan bagi generasi setelahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s9\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s3\">Penulis: Silmia Rahmatul Ula<\/p>\n\n\n\n<p>Pembimbing: <\/p>\n\n\n\n<p class=\"s9\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s3\"><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Al-Mustadrak \u2018ala Ash-Sahihayn, Abu \u2018Abdillah al-Hakim, Dar al-Kutub al-\u2018Ilmiyyah, Beirut, 1990.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Biografi 60 Sahabat Nabi&nbsp;terjemahan&nbsp;Rijalun Haular Rasul, Khalid Muhammad Khalid, Ummul Qura, Jakarta, 2013.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Min Ma\u2018ar\u012bk Al-Islam Al-F\u0101\u1e63ilah, Muhammad bin Ahmad Bashmil, t.p., t.t.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"s5\">Al-Asas fi As-Sunnah wa Fiqhiha: As-Sirah As-Nabawiyyah, Sa\u2018id Hawwa, Dar al-Salam, Kairo, 1995.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Sahabat yang dikenal karena kecerdasannya. Apakah pernah terbayang di benak kita, dihadapkan dengan musuh yang begitu lihai berbicara dan cerdik dalam strategi? Seorang&nbsp;public figure&nbsp;yang pendapatnya dihormati serta didengar setiap orang, taktikus medan perang yang membuat siapapun terkesima saat ia berbicara. Pemikirannya begitu brilian, pemahamannya luas, dan kemampuan problem solving-nya pun sangat mengesankan. Ia adalah seorang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":398,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-399","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biografi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1227.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":169,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=169","url_meta":{"origin":399,"position":0},"title":"Si Sulung Al-Khatthab","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83d\udcbc Penulis: Neisya Iffah Zahrah Dalam sejarah panjang perjuangan Islam, terdapat kisah-kisah luar biasa yang menembus batas waktu dan mengguncang hati siapa pun yang membacanya. Namun, di antara kisah para pahlawan itu ada satu nama yang menyala terang ialah Zaid bin Al-Khaththab. Ia bukan hanya seorang mujahid, tapi juga nyala\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":459,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=459","url_meta":{"origin":399,"position":1},"title":"Mush\u2019ab bin&nbsp;\u2018Umair: Sang Rupawan yang Menukar Sutra dengan Debu","author":"fahimna","date":"13 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perjalanan dari kemewahan menuju kemuliaan iman Senja itu, kala langit Mekah\u00a0mulai meredup teriknya, seorang pemuda rupawan memantapkan langkahnya menuju majelis Nabi\u00a0\ufdfa\u00a0di\u00a0Dar Al-Arqam, sikapnya anggun, pakaiannya indah, dan parasnya begitu menawan. Ia menapaki bukit Safa seorang diri, menyapa penghujung hari dengan hati yang penuh akan rasa harap dan penasaran. Di umurnya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":236,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=236","url_meta":{"origin":399,"position":2},"title":"Perang Badar Kubra","author":"fahimna","date":"27 November 2025","format":false,"excerpt":"Perang Badar merupakan salah satu peristiwa yang sangat berpengaruh dalam mengubah peta kekuatan bagi kaum Muslimin karena perang ini merupakan kemenangan pertama bagi umat Islam. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah. Latar Belakang Peperangan Kaum Muslimin telah Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala izinkan untuk melawan kezaliman yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":58,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=58","url_meta":{"origin":399,"position":3},"title":"BAIAT AQABAH KEDUA","author":"fahimna","date":"30 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-13 kenabian, suasana malam di Mina begitu hening. Di tengah sunyinya lembah Aqabah, sekelompok lelaki dan dua perempuan dari Madinah dengan hati yang berdebar berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Jumlah mereka tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah kaum Anshar yang telah memeluk Islam melalui\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":175,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=175","url_meta":{"origin":399,"position":4},"title":"Sang Peniru Ulung Rasulullah","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Penulis: Neisya Iffah Zahrah Garis Keturunan yang Mulia Saat telah memasuki usia senjanya, ia berbicara, \u201cAku telah berbaiat kepada Rasulullah dan sampai saat ini, aku tidak pernah merusak atau mengingkari janji itu. Aku tidak pernah berbaiat kepada pengobar fitnah dan tidak pula membangunkan orang mukmin kala tidurnya.\u201d Kalimat tersebut merupakan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":35,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=35","url_meta":{"origin":399,"position":5},"title":"BAIAT AQABAH PERTAMA","author":"fahimna","date":"29 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-11 kenabian, enam orang dari Yatsrib (kini dikenal sebagai Madinah) mengunjungi Makkah saat musim haji dan bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu \u2018alayhi wasallam. Mereka tertarik dengan ajaran Islam setelah mendengar langsung dari beliau, dan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keenam orang tersebut juga berjanji kepada Rasulullah untuk\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-3.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/399","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=399"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/399\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/399\/revisions\/400"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/398"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=399"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=399"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=399"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}