{"id":377,"date":"2025-12-11T19:22:33","date_gmt":"2025-12-11T12:22:33","guid":{"rendered":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=377"},"modified":"2025-12-16T08:37:27","modified_gmt":"2025-12-16T01:37:27","slug":"upaya-menghindari-fixed-mindset-pada-gen-z","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=377","title":{"rendered":"Upaya Menghindari Fixed Mindset pada Gen-Z"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p><br \/>Fixed mindset secara umum yaitu keyakinan bahwa kemampuan, bakat, dan kepintaran manusia bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Orang yang memiliki fixed mindset cenderung sulit untuk berkembang, karena mereka berpikir, \u201cterlahir pintar atau tidak pintar\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Akibatnya mereka kurang dalam usaha, mereka meyakini bahwa usaha yang dilakukan tidakakan memberikan dampak apa pun. Contoh ketika seseorang mengatakan, \u201cAku tidak pintar, maka percuma saja aku belajar\u201d<br \/><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pengertian Menurut Psikologi<\/strong><br \/>Dalam psikologi, konsep fixed mindset dikemukakan oleh Carol S. Dweck, seorang psikolog dari Stanford University. Menurutnya, fixed mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan intelektual dan kepribadian seseorang bersifat bawaan dan tidak bisa banyak berubah.<br \/><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ciri-ciri psikologis orang dengan fixed mindset:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Takut gagal karena menganggap kegagalan mencerminkan ketidakmampuan diri.<\/li>\n\n\n\n<li>Enggan menerima kritik atau umpan balik.<\/li>\n\n\n\n<li>Mudah menyerah saat menghadapi tantangan.<\/li>\n\n\n\n<li>Lebih fokus pada hasil daripada proses belajar.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><strong>Dalam konteks sosial<\/strong>, fixed mindset mencerminkan bagaimana seseorang dalam memandang status sosial di masyarakat. Mereka memiliki kecenderungan dalam:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Membandingkan diri secara statis dengan pencapaian orang lain yang dianggap sudah melampauinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Menolak perubahan sosial atau peran baru yang pasti terjadi di lingkungan masyarakat. Karena mereka merasa tidak ada yang bisa diubah.<\/li>\n\n\n\n<li>Kurang terbuka dalam pembelajaran sosial karena mereka berpikir bahwa kemampuan dalam bersosialisasi merupakan kemampuan bawaan yang dimiliki manusia sejak mereka lahir.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><strong>Pola pikir ini memiliki beberapa faktor yang mendasari, di antaranya:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>1. Pola Asuh yang salah. <\/p>\n\n\n\n<p>Orang tua yang sering menuntut anaknya menjadi apa yang mereka inginkan, tanpa mendengarkan dan memberikan ruang bagi anak untuk menekuni minatnya. Sehingga, ketika seorang anak gagal memenuhi harapan orang tua, mereka kerap dicemooh dengan cara yang tidak seharusnya. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri anak dan membentuk pola pikir yang kaku, karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu sesuai harapan orang tuanya. <\/p>\n\n\n\n<p>2. Lingkungan sekolah yang kurang baik.<br \/><br \/>Kebanyakan sekolah hanya berfokus pada pencapaian nilai yang baik tanpa mendampingi siswa dalam proses belajarnya. Sehingga pihak sekolah hanya melihat hasil tanpa melihat sportivitas dan usaha para siswa. Hal ini membuat sebagian siswa berpikir bahwa hanya orang yang terlahir pintar saja yang bisa mendapat nilai bagus. Dan siswa yang merasa kurang pintar, mereka hanya berpikir bagaimana caranya mendapat nilai yang bagus tanpa harus belajar. Mereka tidak percaya pada proses, karena yang mereka tahu mereka tidak dilahirkan dalam keadaan pintar, dan berpikir bahwa belajar hanya membuang-buang waktu mereka.<br \/><br \/>3 . Kurangnya kesadaran diri dan refleksi.<br \/><br \/>Orang yang kurang dalam merefleksikan diri cenderung tidak sadar akan potensi yang dia miliki. Padahal kenyataannya, dia memiliki potensi yang bisa dikembangkan jauh lebih baik, namun karena dia kurang dalam merefleksikan dirinya sendiri dan tidak memiliki waktu untuk memahami diri, dia berpikir bahwa kemampuannya tidak akan bisa berkembang, karena dia tidak berusaha dalam melatihnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah sekilas melihat definisi dan faktor yang menyebabkan fixed mindset, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas tentang solusi untuk menghadapinya. <strong>Berikut solusi yang bisa dilakukan dalam menghadapi fixed mindset:<\/strong><br \/><br \/>1. Percaya bahwa kemampuan seseorang bisa berkembang melalui berbagai cara. Dalam perspektif Islam, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br \/><br \/>\u0648\u0627\u0646 \u0644\u064a\u0633 \u0644\u0644\u0627\u0646\u0633\u0627\u0646 \u0627\u0644\u0627 \u0645\u0627 \u0633\u0639\u0649<br \/><br \/>&#8220;dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya&#8221; (QS. An-Najm 53: Ayat 39)<br \/><br \/>Jadi, jangan menilai kemampuan tetap dan tidak bisa berkembang, karena setiap usaha yang dilakukan akan bernilai di sisi Allah walaupun belum sempurna.<br \/><br \/>2. Memandang kegagalan sebagai bahan bakar untuk melaju lebih jauh ke depan.<br \/><br \/>Dalam psikologi, orang dengan fixed mindset menganggap kegagalan bukti bahwa dirinya bodoh, sedangkan growth mindset menganggap kegagalan sebagai pelajaran. Seperti hadits berikut:<br \/><br \/>\u0642\u0627\u0644 \u0631\u0633\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \ufdfa :<br \/><br \/>\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u064f \u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0648\u0650\u064a\u0651\u064f \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064c \u0648\u064e\u0623\u064e\u062d\u064e\u0628\u0651\u064f \u0625\u0650\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646 \u0627\u0644\u0636\u0639\u064a\u0641\u060c \u0648\u0641\u064a \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064c . \u0627\u062d\u0631\u0635 \u0639\u0644\u0649 \u0645\u0627 \u064a\u064e\u0646\u0652\u0641\u064e\u0639\u064f\u0643\u064e\u060c \u0648\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0639\u0650\u0646\u0652 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650\u060c \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0639\u0652\u062c\u064e\u0644 &#8230;.<br \/><br \/>Rasulullah \ufdfa bersabda:<br \/><br \/>&#8220;Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.&#8221;<br \/><br \/>(HR. Muslim, no. 2664)<br \/><br \/>3. Fokus pada usaha dan perbaikan diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesekali mendengarkan kata-kata orang lain tidak mengapa, tapi jangan sampai kata-kata orang lain masuk dalam diri tanpa melalui filtrasi. Fokus pada apa yang diusahakan dan membangun habit yang positif, membuat hidup seseorang akan lebih terarah. Dan hal ini juga akan membantu terbentuknya pola pikir yang positif dan fleksibel.<\/p>\n\n\n\n<p>4. Memilih lingkungan yang positif dan selektif dalam berteman. Teman memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita, bahkan muamalah yang terjadi hingga pada pertanggungjawaban akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0627\u0644\u0651\u064e\u0627\u062e\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627\u0621\u064f \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e\u0626\u0650\u0630\u064d \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064f\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0644\u0650\u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064d \u0639\u064e\u062f\u064f\u0648\u0651\u064c \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062a\u0651\u064e\u0642\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.&#8221; (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67)<\/p>\n\n\n\n<p>5. Terbuka terhadap nasihat dan kritik.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap manusia tak luput dari yang namanya kesalahan. Maka dari itu, setiap manusia memerlukan evaluasi dari sudut pandang orang lain. Orang yang terbuka terhadap nasihat dan kritik, cenderung berkembang lebih baik dari orang yang anti nasihat dan kritik. Karena secara pikiran, mereka lebih terbuka dan menerima sudut pandang orang lain dengan bijak. Seperti halnya dalam sabda Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0639\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0645\u0650\u064a\u0645\u0650 \u0627\u0644\u062f\u0651\u064e\u0627\u0631\u0650\u064a \u0631\u064e\u0636\u0650\u064a\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064e \ufdfa \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e:<\/p>\n\n\n\n<p>\u00ab\u0627\u0644\u062f\u0651\u0650\u064a\u0646\u064f \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0635\u0650\u064a\u062d\u064e\u0629\u064f\u00bb<\/p>\n\n\n\n<p>\u0642\u064f\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627: \u0644\u0650\u0645\u064e\u0646\u0652\u061f<\/p>\n\n\n\n<p>\u0642\u0627\u0644:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650\u060c \u0648\u064e\u0644\u0650\u0643\u0650\u062a\u064e\u0627\u0628\u0650\u0647\u0650\u060c \u0648\u064e\u0644\u0650\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0650\u0647\u0650\u060c \u0648\u064e\u0644\u0650\u0623\u064e\u0626\u0650\u0645\u0651\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e\u060c \u0648\u064e\u0639\u064e\u0627\u0645\u0651\u064e\u062a\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652\u00bb<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah \ufdfa bersabda:<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Agama itu nasihat.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Kami bertanya, &#8220;Untuk siapa wahai Rasulullah?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Beliau menjawab, &#8220;Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>(HR. Muslim, no. 55)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: Ainaya Zulfa Nurjanah<\/p>\n\n\n\n<p>Pembimbing: Ustazah Zidni Nafi&#8217;ah, S.Ag. <\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Referensi<\/p>\n\n\n\n<p>1. Al Qur&#8217;anul Karim<\/p>\n\n\n\n<p>2. Kitab Sahih Muslim-Cetakan At-Turkiyyah (Muslim)<\/p>\n\n\n\n<p>3. Kitab Mujjalat al-Buhuts al-Islamiyyah (Majmu&#8217;ah min al-Mu&#8217;allifin)<\/p>\n\n\n\n<p>4. Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan https:\/\/literaksi.ayasophia.orgPDFFixed<\/p>\n\n\n\n<p>Mindset versus Growth Mindset<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Fixed mindset secara umum yaitu keyakinan bahwa kemampuan, bakat, dan kepintaran manusia bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Orang yang memiliki fixed mindset cenderung sulit untuk berkembang, karena mereka berpikir, \u201cterlahir pintar atau tidak pintar\u201d. Akibatnya mereka kurang dalam usaha, mereka meyakini bahwa usaha yang dilakukan tidakakan memberikan dampak apa pun. Contoh ketika seseorang mengatakan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":376,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-377","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tematik"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":442,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=442","url_meta":{"origin":377,"position":0},"title":"Cara Mengubah Fixed Mindset menjadi Growth Mindset","author":"fahimna","date":"13 Januari 2026","format":false,"excerpt":"Mindset atau pola pikir merupakan proses berpikir serta cara pandang seseorang dalam menyikapi realitas kehidupan. Pola pikir ini dapat dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari, lingkungan, dan pergaulan. Dalam kajian psikologi, para ahli membagi pola pikir ke dalam dua kerangka utama, yaitu fixed mindset dan growth mindset. Kedua kerangka tersebut memiliki arti\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Tematik&quot;","block_context":{"text":"Tematik","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=28"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1324.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1324.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1324.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1324.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/img_1324.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":257,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=257","url_meta":{"origin":377,"position":1},"title":"Beriman kepada Nama-Nama Allah: \u201cAl-\u2018Afuww\u201d, \u201cAl-Ghafur\u201d dan \u201cAr-Rahim\u201d","author":"fahimna","date":"2 Desember 2025","format":false,"excerpt":"\u00a0 Makna \u201cBeriman Kepada Nama-Nama Allah\u201d Apa yang kamu ketahui tentang \u201cBeriman Kepada Nama-Nama Allah\u201d? Bukankah hal itu sudah tidak asing lagi di telinga kita? Bahwasanya, judul diatas merupakan pilar penting dalam pembagian tauhid. Mari kita bahas secara singkat tentang makna dari judul di atas. Beriman kepada nama-nama Allah adalah\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Tauhid&quot;","block_context":{"text":"Tauhid","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=27"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251202_050816_9247565228451393265860.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251202_050816_9247565228451393265860.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251202_050816_9247565228451393265860.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251202_050816_9247565228451393265860.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251202_050816_9247565228451393265860.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":485,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=485","url_meta":{"origin":377,"position":2},"title":"Mukjizat dan Kemukjizatan Al Qur\u2019an","author":"fahimna","date":"10 April 2026","format":false,"excerpt":"Definisi Mukjizat dan Makna Kemukjizatannya Secara bahasa, i\u2018j\u0101z (kemukjizatan) berarti menampakkan kelemahan. Kelemahan di sini bermakna ketidakmampuan seseorang untuk melakukan atau menandingi sesuatu. Lawan dari kelemahan adalah qudrah, yaitu kemampuan atau kekuatan. Maka, ketika kemukjizatan muncul, tampaklah bahwa pihak yang ditantang berada dalam posisi lemah dan tidak mampu menandingi apa\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ulumul Quran&quot;","block_context":{"text":"Ulumul Quran","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=29"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1487.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1487.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1487.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1487.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1487.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":455,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=455","url_meta":{"origin":377,"position":3},"title":"Mengenal Hadis Mudallas: Bagian Pertama","author":"fahimna","date":"9 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Dalam studi ilmu hadis, istilah\u00a0tadlis\u00a0sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami\u00a0tadlis\u00a0disebut hadis\u00a0mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":58,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=58","url_meta":{"origin":377,"position":4},"title":"BAIAT AQABAH KEDUA","author":"fahimna","date":"30 Agustus 2025","format":false,"excerpt":"Pada tahun ke-13 kenabian, suasana malam di Mina begitu hening. Di tengah sunyinya lembah Aqabah, sekelompok lelaki dan dua perempuan dari Madinah dengan hati yang berdebar berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Jumlah mereka tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah kaum Anshar yang telah memeluk Islam melalui\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ilustrator-fahimna-1-1.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":264,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=264","url_meta":{"origin":377,"position":5},"title":"Darah Haid, Nifas, atau Istihadhah. Jangan Salah!","author":"fahimna","date":"3 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Pembahasan mengenai darah yang keluar dari rahim wanita menempati posisi penting dalam fikih Islam karena berkaitan langsung dengan hukum-hukum ibadah seperti salat, puasa, dan hubungan suami istri. Dalam syariat, darah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu haid, nifas, dan istihadhah. Ibnu Rusyd dalam (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid)\u00a0menjelaskan ketiganya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/377","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=377"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/377\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/377\/revisions\/403"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/376"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}