{"id":236,"date":"2025-11-27T07:13:11","date_gmt":"2025-11-27T00:13:11","guid":{"rendered":"http:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=236"},"modified":"2025-12-16T08:36:06","modified_gmt":"2025-12-16T01:36:06","slug":"perang-badar-kubra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=236","title":{"rendered":"Perang Badar Kubra"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p>Perang Badar merupakan salah satu peristiwa yang sangat berpengaruh dalam mengubah peta kekuatan bagi kaum Muslimin karena perang ini merupakan kemenangan pertama bagi umat Islam. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Latar Belakang Peperangan<\/h4>\n\n\n\n<p>Kaum Muslimin telah Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala izinkan untuk melawan kezaliman yang menimpa diri mereka, jika mereka merasa mampu untuk melakukannya. <br \/>Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala berfirman:<br \/>&nbsp;<br \/>\u0648\u064e\u0644\u064e\u0645\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0646\u0652\u062a\u064e\u0635\u064e\u0631\u064e \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u064e \u0638\u064f\u0644\u0652\u0645\u0650\u0647\u0656 \u0641\u064e\u0627\u064f\u0648\u0644\u0670\u06e4\u0649\u0650\u0655\u0643\u064e \u0645\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652 \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0652\u0644\u064d\u06d7&nbsp;\u06dd\u0664\u0661<br \/><br \/>\u201cDan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.\u201d (QS. As-Shura: 41).<br \/><br \/>Orang-orang kafir Mekkah adalah yang terus menerus menimpakan kezaliman kepada kaum Muslimin, satu-satunya cara untuk melawan kezaliman mereka adalah dengan menyerang kafilah dagang kaum Quraisy yang sedang menuju negeri Syam, yang mana pada saat itu kafilah ini hanya dikawal oleh sekitar 40 orang. Penyergapan tersebut adalah sebagai ganti atas harta kaum Muhajirin yang dirampas oleh orang-orang kafir Mekkah, namun kaum Muslimin gagal menghadang kafilah Quraisy saat keberangkatan dari Mekkah menuju Syam, tetapi setelah itu Rasulullah \ufdfa bersama kaum Muslimin mengatur rencana untuk menghadang kembali kafilah Quraisy saat perjalanan pulang mereka dari Syam menuju Mekkah. Rasulullah \ufdfa keluar dari Madinah mengarah ke Mekkah dengan membawa pasukan sekitar 313 hingga 317 orang dari kaum Muhajirin dan Anshar.<br \/><br \/>Saat itu kafilah Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan yang sangat cerdik dan berhati-hati, dia mendapat kabar bahwa nabi Muhammad \ufdfa telah pergi bersama kaum Muslimin untuk menghadang kafilahnya. Kemudian Abu Sufyan mengutus seseorang untuk memberi tahu orang- orang Quraisy di Mekkah sekaligus memberi bantuan untuk menyelamatkan kafilah dagang mereka dan menghadapi Muhammad \ufdfa berserta sahabat-sahabatnya. Saat itu juga orang-orang Quraisy bersiap-siap untuk perang, pasukan mereka berjumlah lebih dari 1000 orang.<br \/><br \/>Sampailah kabar ke pasukan Muslimin bahwa orang-orang Quraisy akan menyerang mereka, jumlah pasukan Quraisy yang berbanding jauh dari jumlah pasukan Muslimin menimbulkan keraguan di hati sebagian pasukan Muslimin. Namun hal itu tidak berlangsung lama, kaum Muslimin bertekad untuk terus maju ke depan menghadapi pasukan Quraisy tersebut dengan semangat dan keberanian.<br \/><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Jalannya Peperangan Dan Momen Puncak<\/h4>\n\n\n\n<p>Kedua pasukan bertemu di lembah Badar pada tanggal 17 Ramadhan, lembah Badar merupakan tempat yang strategis karena terdapat banyak sumber mata air disana. Seorang sahabat menyarankan kepada Rasulullah \ufdfa agar pasukan Muslimin menguasai sumber air itu dan menutup akses bagi pasukan Quraisy. Saran dan strategi ini pun disetujui oleh Rasulullah \ufdfa dan terbukti sangat efektif untuk menyulitkan pasukan Quraisy.<br \/><br \/>Malam sebelum peperangan, Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala menurunkan hujan. Hujan ini menjadi penghambat pasukan Quraisy, berbeda dengan pasukan Muslimin justru hujan tersebut merupakan rahmat dan pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala untuk menghilangkan kegelisahan dan bisikan-bisikan setan dari mereka.<br \/><br \/>Pagi harinya Rasulullah \ufdfa memimpin pasukan dibalik tenda yang sengaja dibuat untuk melindungi beliau. Dibalik tenda tersebut Rasulullah \ufdfa terus-menerus berdoa untuk meminta pertolongan dan kemenangan bagi kaum Muslimin. Rasulullah \ufdfa berkata: \u201cYa Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu.\u201d<br \/><br \/>Perang dimulai dengan duel satu lawan satu, orang yang pertama kali menyulut api peperangan adalah Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, seorang laki-laki yang buruk akhlaknya dan kasar. Kedatangannya tersebut disambut oleh Hamzah bin Abdul Muthalib, Hamzah langsung menyabetnya dengan pedangnya hingga betisnya terputus. Setelah itu keluar lagi tiga orang dari pasukan Quraisy yaitu Utbah bin Rabi\u2019ah, Sya\u2019ibah bin Rabi\u2019ah, dan Al-Walid bin Utbah. Mereka berhadapan dengan Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah, dan Ali.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga orang Quraisy tersebut mati ditangan Muslimin, kematian mereka merupakan tanda keburukan bagi mereka. Kemudian kemarahan pun bergejolak dan mereka langsung menyerang pasukan Muslimin dengan serentak dan membabi buta.<br \/><br \/>Rasulullah \ufdfa berdoa lagi kepada Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala seraya berkata, \u201c Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.\u201d Maka pada saat itu pula Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala mengirimkan bala bantuan dari langit berupa 1000 pasukan yang tidak dapat dilihat oleh mata kaum Muslimin tapi bisa dilihat oleh pasukan Quraisy yakni para malaikat. Pada saat itu Auf bin Al-Harits juga bertanya kepada beliau, \u201cWahai Rasulullah, apa yang membuat Tuhan tersenyum kepada hamba-Nya?\u201d<br \/>Rasulullah \ufdfa menjawab : \u201cBila ia menjulurkan tangannya ke tengah musuh tanpa mengenakan baju besi.\u201d<br \/>Seketika itu juga Auf melepaskan baju besi yang dikenakan dan melemparkannya begitu saja. Kemudian dia mengambil pedang dan menyerang musuh hingga gugur di medan perang.<br \/><br \/>Kemudian Rasulullah \ufdfa memerintahkan pasukan agar melakukan serangan balik karena serangan musuh tidak lagi gencar dan semangat mereka sudah mengendur. Langkah ini sangat ampuh untuk mengukuhkan posisi pasukan Muslimin. Pasukan Muslimin dengan cepat melakukan serangan secara serentak dan gencar. Mereka mencerai beraikan barisan musuh hingga jatuh korban bergelimpangan di pihak Quraisy. Semangat mereka semakin berkobar setelah melihat Rasulullah \ufdfa terjun ke medan laga sambil mengenakan baju besi dan berteriak dengan suara lantang untuk menyemangati mereka.<br \/><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Akhir Peperangan<\/h4>\n\n\n\n<p>Pertempuran hampir mendekati masa akhir, pasukan Quraisy semakin goyah dan lemah hingga banyak pemuka pemuka Quraisy yang terbunuh dalam peperangan ini termasuk Abu Jahal. Hal ini membuat pasukan Muslimin semakin mudah untuk menawan dan menghabisi lawan sampai akhirnya kekalahan menimpa pasukan Quraisy dan peperangan dimenangkan oleh Rasulullah \ufdfa dan kaum Muslimin.<br \/><br \/>Setelah peperangan berakhir, Rasulullah \ufdfa berkeliling dan berdiri di dekat korban dari orang- orang musyrik dan berkata, \u201cKeluarga yang paling buruk terhadap nabi kalian adalah diri kalian, Kalian mendustakan aku ketika Orang-orang membenarkan aku. Kalian menelantarkan aku ketika Orang-orang menolongku. Kalian mengusirku ketika Orang-orang melindungiku.\u201d Lalu beliau \ufdfa memerintahkan agar tubuh mereka dimasukkan ke dalam sumur yang kotor dan bau.<br \/>Dari kisah perang ini kita dapat memetik banyak sekali hikmah dan pelajaran, diantaranya adalah kita harus yakin sepenuhnya terhadap janji Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala kepada orang orang yang beriman dan bertakwa, bersabar dan berusaha sekuat tenaga sambil terus berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala, dan tawakkal atas apa yang telah kita usahakan.<br \/>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><br \/>Penulis: Selpi Anjas Sari<\/p>\n\n\n\n<p>Pembimbing: ________________<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;<br \/>Referensi:<br \/>1.&nbsp;&nbsp;Al-Qur\u2019an Al-Karim<br \/>2.&nbsp; Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Terj. Ahmad Al-Fajri<br \/>3.&nbsp;&nbsp;Sirah Nabawiyah &#8211; Belajar Meraih Cinta Sejati Kepada Sang Rasul, Firanda Andirja, UFA Publisher, Jilid 3.<\/p>\n\n\n\n<p><br \/>&nbsp;<br \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 4<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>Perang Badar merupakan salah satu peristiwa yang sangat berpengaruh dalam mengubah peta kekuatan bagi kaum Muslimin karena perang ini merupakan kemenangan pertama bagi umat Islam. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah. Latar Belakang Peperangan Kaum Muslimin telah Allah Subhanahu Wa Ta\u2019ala izinkan untuk melawan kezaliman yang menimpa diri mereka, jika mereka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":235,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-236","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sirah"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/img_20251127_071058_316782683513830218645.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":475,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=475","url_meta":{"origin":236,"position":0},"title":"Di Balik Kemenangan Perang&nbsp;Badar","author":"fahimna","date":"23 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perang\u00a0Badar\u00a0merupakan simbol awal dari kemenangan kaum Muslimin. Namun,\u00a0di balik \u00a0kemenangan tersebut justru membuat Madinah memasuki masa yang penuh\u00a0ketegangan. Madinah tidak pernah benar-benar dalam keadaan aman pada masa setelah Perang Badar sampai Perang Uhud. Berbagai macam\u00a0ancaman\u00a0terus datang, mulai dari aktivitas militer untuk menjaga wilayah, rencana konspirasi yang mengancam nyawa\u00a0NabiMuhammad\u00a0\ufdfa\u00a0hingga konflik terbuka\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sirah&quot;","block_context":{"text":"Sirah","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=3"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1402-1.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":173,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=173","url_meta":{"origin":236,"position":1},"title":"Sang Peniru Ulung Rasulullah shallahu &#8216;alaihi wasallam","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Penulis: Neisya Iffah Zahrah Sesaat setelah Mu\u2019awiyah II putra Yazid meninggalkan jabatan khalifahnya, semua orang menaruh harapan agar Ibnu Umar lah yang mengisi kekosongan itu, hingga Marwan menemuinya dan hendak membaiatnya, namun Ibnu Umar lagi\u2013lagi menolak karena orang\u2013orang dari wilayah timur enggan membaiatnya. Sedangkan yang saat itu Ibnu Umar inginkan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":399,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=399","url_meta":{"origin":236,"position":2},"title":"Pemilik Intuisi Tajam yang Menundukkan Pedang","author":"fahimna","date":"15 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Sahabat yang dikenal karena kecerdasannya. Apakah pernah terbayang di benak kita, dihadapkan dengan musuh yang begitu lihai berbicara dan cerdik dalam strategi? Seorang\u00a0public figure\u00a0yang pendapatnya dihormati serta didengar setiap orang, taktikus medan perang yang membuat siapapun terkesima saat ia berbicara. Pemikirannya begitu brilian, pemahamannya luas, dan kemampuan problem solving-nya pun\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1227.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1227.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1227.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1227.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1227.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":169,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=169","url_meta":{"origin":236,"position":3},"title":"Si Sulung Al-Khatthab","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83d\udcbc Penulis: Neisya Iffah Zahrah Dalam sejarah panjang perjuangan Islam, terdapat kisah-kisah luar biasa yang menembus batas waktu dan mengguncang hati siapa pun yang membacanya. Namun, di antara kisah para pahlawan itu ada satu nama yang menyala terang ialah Zaid bin Al-Khaththab. Ia bukan hanya seorang mujahid, tapi juga nyala\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":389,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=389","url_meta":{"origin":236,"position":4},"title":"Istigfar Sebab Keberkahan: Mendalami Perintah Istigfar dalam Surat Nuh","author":"fahimna","date":"13 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Sekilas tentang Surah Nuh Surah Nuh merupakan salah satu surat Makkiyah yang berisi kisah perjuangan Nabi Nuh \u2018alaihis salam dalam menyampaikan risalah tauhid kepada kaumnya. Pada sembilan ayat pertama, menggambarkan perjuangan Nabi Nuh \u2018alaihis salam dalam menyampaikan dakwah kepada kaumnya yaitu hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala\u00a0 dan tidak menyekutukan-Nya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Tafsir&quot;","block_context":{"text":"Tafsir","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=20"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251213_194147_2192829338631447341151.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251213_194147_2192829338631447341151.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251213_194147_2192829338631447341151.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251213_194147_2192829338631447341151.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251213_194147_2192829338631447341151.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":377,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=377","url_meta":{"origin":236,"position":5},"title":"Upaya Menghindari Fixed Mindset pada Gen-Z","author":"fahimna","date":"11 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Fixed mindset secara umum yaitu keyakinan bahwa kemampuan, bakat, dan kepintaran manusia bersifat tetap dan tidak bisa diubah. Orang yang memiliki fixed mindset cenderung sulit untuk berkembang, karena mereka berpikir, \u201cterlahir pintar atau tidak pintar\u201d. Akibatnya mereka kurang dalam usaha, mereka meyakini bahwa usaha yang dilakukan tidakakan memberikan dampak apa\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Tematik&quot;","block_context":{"text":"Tematik","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=28"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_20251211_190906_3965000956875133199782.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/236","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=236"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/236\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":402,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/236\/revisions\/402"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=236"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=236"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=236"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}