{"id":171,"date":"2025-10-03T07:32:36","date_gmt":"2025-10-03T00:32:36","guid":{"rendered":"http:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=171"},"modified":"2025-12-08T11:58:56","modified_gmt":"2025-12-08T04:58:56","slug":"haruskah-wudhu-setelah-berbekam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=171","title":{"rendered":"Haruskah Wudu Setelah Berbekam?"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p>\ud83e\udeb4Oleh: Wahyu Griza Septi Nuraini<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"736\" height=\"485\" src=\"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-212\" srcset=\"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg 736w, https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705-300x198.jpeg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 736px) 100vw, 736px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Bekam merupakan sunnah yang Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam pernah melakukannya. Manfaat bekam sangat baik untuk kesehatan salah satunya dapat menghilangkan racun dalam tubuh, meredakan sakit kepala, dan menjaga stamina tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada empat jenis bekam yaiu: Pertama, bekam kering menggunakan cangkir di titik akupuntur dan tidak mengeluarkan darah. Kedua, bekam basah biasanya menggunakan cangkir dan jarum khusus untuk menusuk kulit, bekam jenis ini yang dianggap menghilangkan racun. Ketiga, bekam udara dengan pompa isap genggam untuk mengeluarkan udara dari cangkir. Keempat, bekam geser dengan teknik cangkir geser untuk mengobati nyeri dan kejang pada otot dengan mengoleskan minyak pada kulit sebelum ditempelkan cangkir bekam diatasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, apakah setelah berwudhu kemudian kita melakukan bekam harus mengulang wudhu? Simak penjelasan selanjutnya!<\/p>\n\n\n\n<p>Penjelasan Makna Hadis<\/p>\n\n\n\n<p>Diantara dalil yang menjelaskan mengenai hukum berwudhu setelah berbekam adalah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu \u2018anhu, ia berkata:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0623\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u064a\u064e\u0651 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 \u0627\u062d\u0652\u062a\u064e\u062c\u064e\u0645\u064e \u0648\u064e\u0635\u064e\u0644\u0651\u0649\u060c \u0648\u064e\u0644\u0645\u0652 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u064e\u0651\u0623\u0652. \u0623\u064e\u062e\u0652\u0631\u064e\u062c\u0647\u064f \u0627\u0644\u062f\u064e\u0651\u0627\u0631\u064e\u0642\u064f\u0637\u0652\u0646\u0650\u064a\u064f\u0651\u060c \u0648\u064e\u0644\u064e\u064a\u064e\u0651\u0646\u064e\u0647\u064f.<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya: \u201cBahwasannya Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam berbekam dan beliau shalat, kemudian beliau tidak mengulangi wudhu.\u201d (HR. Ad-Daruquthni dan menganggap perawinya layyin). (HR. Ad-Daruquthni, 1:151, Al-Baihaqi dalam sunannya, 1:141 dan Al-Khilafiyaat, 2:318.)<\/p>\n\n\n\n<p>Hadis tersebut menjelaskan bahwa bekam tidak membatalkan wudu, bahkan diperbolehkan untuk melakukan shalat setelahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun hadis tersebut memiliki kelemahan dari sisi sanadnya, tetapi dari sisi makna hadis tersebut dapat diamalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPara ulama telah memperdebatkan keluarnya najis dari selain dua jalan seperti luka, bekam, mimisan dan muntah. Menurut pendapat Imam Malik dan Imam Syafi&#8217;i: bekam tidak membatalkan wudhu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan menurut pendapat Abu Hanifa dan Ahmad: bekam dapat membatalkan wudhu, tetapi Imam Ahmad berkata: Jika darahnya itu banyak, Kemudian beliau berkata: dan yang paling jelas dalam semua jenis ini: itu tidak membatalkan wudhu, tetapi sunnah untuk berwudhu setelah bekam. Jadi, siapa yang shalat dan tidak berwudhu setelah bekam maka shalatnya tetap sah, dan siapa yang berwudhu setelah bekam maka hal tersebut lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Perbuatan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/p>\n\n\n\n<p>Bekam merupakan salah satu terapi kesehatan yang sudah ada sejak zaman Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Pengobatan bekam pernah dilakukan oleh Rasulullah selama beliau hidup. Bahkan ketika beliau dalam keadaan ihram, sebagaimana yang terdapat dalam hadis Nabi shalallahu \u2018alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas rahiyallahu \u2018anhuma:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0648\u064e\u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0628\u0652\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0628\u064e\u0651\u0627\u0633\u064d \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0645\u0627\u060c \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u0650\u064a\u064e\u0651 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 \u0627\u062d\u0652\u062a\u064e\u062c\u064e\u0645\u064e \u0648\u064e\u0647\u064f\u0648 \u0645\u064f\u062d\u0652\u0631\u0650\u0645\u064c.[\u0645\u064f\u062a\u064e\u0651\u0641\u064e\u0642\u064c \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650]<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya: \u201cBahwasannya Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam pernah berbekam (melakukan hijamah) dalam keadaan ihram.\u201d (Muttafaq \u2018alaih)<\/p>\n\n\n\n<p>Hadis tersebut merupakan dalil tetntang diperbolehkannya bekam bagi orang yang sedang ihram, baik karena dalam keadaan darurat ataupun tidak. Ini merupakan pendapat dari mayoritas ulama, diantaranya: Abu Hanifah, Syafi\u2019i, Malik, dan Ahmad,. Para ulama mensyaratkan ketika sedang melakukan ihram dan ingin bekam tidak boleh memotong rambut. Jika memotong rambut, wajib membayar fidyah (tebusan). Mengapa harus membayar fidyah? Karena hal ini merupakan pencabutan atau pemotongan rambut untuk menghilangkan bahaya, sehingga wajib membayar fidyah, sebgaimana mencukur rambut untuk menghilangkan kutu.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal-Hal yang Harus Diperhatikan didalam Permasalahan Ini<\/p>\n\n\n\n<p>Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berbekam, diantaranya adalah titik tubuh yang sebaiknya di bekam sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam lakukan ialah berada pada bagian leher (al-akhdaain), punggung bagian atas (kahil), dan bagian atas kepala (hamah).<\/p>\n\n\n\n<p>Waktu yang disunnahkan Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam untuk bekam sebagiamana yang terdapat dalam hadis Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam dari Abu Hurairah:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0642\u0627\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645: &#8220;\u0645\u064e\u0646\u0650 \u0627\u062d\u0652\u062a\u064e\u062c\u064e\u0645\u064e \u0644\u0650\u0633\u064e\u0628\u0652\u0639\u064e \u0639\u064e\u0634\u0652\u0631\u064e\u0629\u064e \u0648\u064e\u062a\u0650\u0633\u0652\u0639\u064e \u0639\u064e\u0634\u0652\u0631\u064e\u0629\u064e \u0648\u064e\u0625\u0650\u062d\u0652\u062f\u0649 \u0648\u064e\u0639\u0650\u0634\u0652\u0631\u0650\u064a\u0646\u064e \u0643\u0627\u0646\u064e \u0634\u0650\u0641\u0627\u0621\u064b \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064f\u0644\u0650\u0651 \u062f\u0627\u0621\u064d<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya: \u201cRasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa melakukan bekam (hijamah) pada tanggal tujuh belas, sembilan belas, dan dua puluh satu, maka akan menjadi obat penyembuh dari segala penyakit.&#8221; (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubra)<\/p>\n\n\n\n<p>Hadis ini menjelaskan tentang bekam pada tanggal 17, 19, dan 21 memiliki makna khusus. Maknanya adalah bekam pada tanggal-tanggal tersebut menjadi penyembuh dari penyakit yang disebabkan oleh kelebihan darah. Catatan tambahan dari ahli medis dalam kitab &#8220;Al-Qanun&#8221; menyebutkan bahwa waktu terbaik melakukan bekam adalah pada siang hari antara pukul 2 atau 3 siang. Para dokter sepakat bahwa bekam pada pertengahan bulan dan seperempat terakhir waktu bulan lebih bermanfaat dibandingkan pada awal atau akhir bulan.<\/p>\n\n\n\n<p>\ud83d\udce5 Referensi:<\/p>\n\n\n\n<p>Minhatul Alaam Fi Syarhi Bulughul Maram, Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Cet. Dar Ibnu Al-Jauzi, Saudi.<\/p>\n\n\n\n<p>Subulussalam Syarh Bulughul Maram, Muhammad bin Ismail Al-Shan\u2019ani, Cet. Dar Ibnu Al-Jauzi, Saudi.<\/p>\n\n\n\n<p>Syarh Sunan Abu Dawud, Ibnu Ruslan, Cet. Dar Falah, Mesir<\/p>\n\n\n\n<p>Taudih Al-Ahkam Min Bulughul Maram, Abdullah Al-Bassam, Maktabah Al-Asadi, Mekah.<\/p>\n\n\n\n<p>11 Manfaat Bekam untuk Kesehatan, Buang Racun hingga Usir Jerawat, Muhamad Nuramdani, 2022, https:\/\/doktersehat.com\/herbal-a-z\/pengobatan-alternatif\/manfaat-bekam-untuk-kesehatan-buang-racun-hingga-usir-jerawat\/#:~:text=Ada%20<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 3<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\ud83e\udeb4Oleh: Wahyu Griza Septi Nuraini Bekam merupakan sunnah yang Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam pernah melakukannya. Manfaat bekam sangat baik untuk kesehatan salah satunya dapat menghilangkan racun dalam tubuh, meredakan sakit kepala, dan menjaga stamina tubuh. Ada empat jenis bekam yaiu: Pertama, bekam kering menggunakan cangkir di titik akupuntur dan tidak mengeluarkan darah. Kedua, bekam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-171","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-hadis-ahkam"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":97,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=97","url_meta":{"origin":171,"position":0},"title":"Mengenal Lebih Dalam Tentang Donor Organ","author":"fahimna","date":"28 September 2025","format":false,"excerpt":"\ud83d\udcda Penulis Artikel: Malika Syifa Audina. \u270d\ud83c\udffc PENGERTIAN Donasi secara bahasa artinya pemberian secara sukarela tanpa syarat. Menjadi sukarelawan berarti menyumbangkan apa yang dimiliki untuk membantu dengan kata lain melakukan sesuatu yang tidak wajib dilakukan. Organ adalah bagian tubuh yang terdiri dari jaringan dan sel yang berfungsi untuk menjalankan tugas\u2026","rel":"","context":"Postingan serupa","block_context":{"text":"Postingan serupa","link":""},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":502,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=502","url_meta":{"origin":171,"position":1},"title":"Denda&nbsp;atas&nbsp;Gigi dan Jari-Jemari&nbsp;yang dihilangkan.","author":"fahimna","date":"4 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Dalam Islam, hukuman atas kejahatan terhadap jiwa atau anggota tubuh tidak hanya terbatas pada\u00a0qishash, tetapi juga mencakup diat. Menurut KBBI, diat adalah denda berupa harta yang wajib dibayar karena melukai atau membunuh seseorang. \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a \u0628\u064e\u0643\u0652\u0631\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650\u0648 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u062d\u064e\u0632\u0652\u0645\u064d\u060c \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a\u0647\u0650\u060c \u0639\u064e\u0646\u0652 \u062c\u064e\u062f\u0650\u0651\u0647\u0650 \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1566.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":482,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=482","url_meta":{"origin":171,"position":2},"title":"Adab Seorang Penuntut Ilmu Terhadap Dirinya (Bagian 2)","author":"fahimna","date":"8 April 2026","format":false,"excerpt":"\u00a0 Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu dalam membina dan memperbaiki dirinya. Adab-adab tersebut merupakan landasan awal agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dan diamalkan dengan baik. Pada bagian ini, akan dilanjutkan pembahasan adab-adab lain yang berkaitan erat dengan penjagaan diri, baik\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Akhlak&quot;","block_context":{"text":"Akhlak","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=23"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1468.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1468.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1468.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1468.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1468.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":126,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=126","url_meta":{"origin":171,"position":3},"title":"Batalkah Wudu Seseorang yang Menyentuh Kemaluannya?","author":"fahimna","date":"28 September 2025","format":false,"excerpt":"\u270d\ud83c\udffc Penulis: Ismi Maulida Khusna Pernahkah Anda bertanya-tanya, seberapa jauhkah batas kesucian dalam ibadah? Hal hal sederhana seperti memegang kemaluan, apakah bisa membatalkan wudu yang telah kita sempurnakan? Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di benak kita. Ada yang mengatakan, menyentuh kemaluan langsung membatalkan wudu. Namun, ada pula pendapat yang berbeda.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x"},"classes":[]},{"id":459,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=459","url_meta":{"origin":171,"position":4},"title":"Mush\u2019ab bin&nbsp;\u2018Umair: Sang Rupawan yang Menukar Sutra dengan Debu","author":"fahimna","date":"13 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Perjalanan dari kemewahan menuju kemuliaan iman Senja itu, kala langit Mekah\u00a0mulai meredup teriknya, seorang pemuda rupawan memantapkan langkahnya menuju majelis Nabi\u00a0\ufdfa\u00a0di\u00a0Dar Al-Arqam, sikapnya anggun, pakaiannya indah, dan parasnya begitu menawan. Ia menapaki bukit Safa seorang diri, menyapa penghujung hari dengan hati yang penuh akan rasa harap dan penasaran. Di umurnya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Biografi&quot;","block_context":{"text":"Biografi","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=22"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1357.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":479,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=479","url_meta":{"origin":171,"position":5},"title":"Pembinaan Ruhani Da\u2018i dalam Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 1\u201310","author":"fahimna","date":"1 April 2026","format":false,"excerpt":"Dalam realitas dakwah, tantangan tidak hanya hadir dalam bentuk penolakan terbuka, tetapi juga berupa kelelahan batin, tekanan psikologis, serta ujian keikhlasan yang kerap tidak tampak di permukaan. Seorang da\u2018i tidak hanya dituntut untuk menyampaikan kebenaran dengan lisan, tetapi juga menjaga keteguhan hati dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Oleh karena\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Tafsir&quot;","block_context":{"text":"Tafsir","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=20"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1466.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1466.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1466.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1466.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1466.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=171"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/171\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":359,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/171\/revisions\/359"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}