{"id":163,"date":"2025-09-28T23:30:55","date_gmt":"2025-09-28T16:30:55","guid":{"rendered":"http:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=163"},"modified":"2025-12-08T11:59:49","modified_gmt":"2025-12-08T04:59:49","slug":"hadis-munkar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=163","title":{"rendered":"Hadis Mungkar"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br><br>\u270d\ud83c\udffc Penulis: Fadhila Salma Nuzula<br><br>\u27a1\ufe0f Definisi Hadis Munkar<br>\u25cf Secara bahasa hadis munkar adalah isim maf\u2019ul dari al-inkar (pengingkaran) yang merupakan lawan kata dari al-iqrar (persetujuan)<br>\u25cf Secara istilah hadis munkar memiliki dua definisi yang paling populer:<br>Hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang kekeliruannya sangat parah, banyak lupa, dan tampak kefasikannya.<br>Hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang dhaif yang bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh perawi tsiqoh. <br><br>\ud83d\udcccPerbedaan Antara Hadis Munkar dan Hadis Syadz<br>Bahwasanya hadis syadz itu diriwayatkan oleh perawi yang _maqbul_ dan bertentangan dengan perawi yang lebih baik hafalannya.<br>Hadis munkar diriwayatkan oleh perawi yang _dha&#8217;if_ namun bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah. Dapat diketahui dari perihal ini bahwa keduanya sama pada aspek pertentangan. Dan perbedaanya bahwa Hadis Syadz diriwayatkan oleh perawi _maqbul_ dan munkar diriwayatkan oleh perawi yang _dha&#8217;if._<br>Contoh Hadis Munkar<br>Contoh untuk definisi pertama: Hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa&#8217;i dan Ibnu Majah dari riwayat Abu Zukair Yahya bin Muhammad bin Qais, dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah secara marfu&#8217;:<br><br>\u0643\u064f\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0644\u064e\u062d\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u062a\u0651\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0628\u0652\u0646\u064e \u0622\u062f\u064e\u0645\u064e \u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0643\u064e\u0644\u064e\u0647\u064f \u063a\u064e\u0636\u0650\u0628\u064e \u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u064a\u0652\u0637\u064e\u0627\u0646\u064e<br><br>&#8220;Makanlah semangka dengan kurma. Karena sesungguhnya jika anak Adam memakannya, setan akan marah.&#8221;<br><br>An-Nasa&#8217;i berkata: Ini adalah hadis munkar, diriwayatkan secara tafarrud (menyendiri) oleh Abu Zukair. Dia adalah seorang syaikh yang saleh. Muslim meriwayatkan hadisnya dalam mutaba&#8217;at. Hanya saja dia belum mencapai tingkatan orang yang bisa diterima riwayatnya secara tafarrud (sendirian).<br><br>Contoh untuk definisi kedua: Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui jalur Hubayyib bin Habib Az-Zayyat dari Abu Ishaq dari Al-Aizar bin Huraits dari Ibnu Abbas dari Nabi, beliau berkata:<br><br>\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0642\u064e\u0627\u0645\u064e \u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0644\u0627\u064e\u0629\u064e \u0648\u064e\u0622\u062a\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0632\u0651\u064e\u0643\u064e\u0627\u0629 \u0648\u064e\u062d\u064e\u062c\u0651\u064e \u0627\u0644\u0628\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e \u0648\u064e\u0635\u064e\u0627\u0645\u064e \u0648\u064e\u0642\u064e\u0631\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0636\u0651\u064e\u064a\u0652\u0641\u064e \u062f\u064e\u062e\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u062c\u064e\u0646\u0651\u064e\u0629\u064e<br> \u201dBarangsiapa mendirikan salat, menunaikan zakat, haji ke Baitul Haram, puasa Ramadan, dan menjamu tamu; maka dia akan masuk surga.&#8221;<br><br>Abu Hatim mengatakan hadis ini munkar, karena para perawi lain yang tsiqah meriwayatkan hadis ini dari Abu Ishaq secara mauquf. Dan inilah (hadis mauquf, bukan marfu&#8217;) yang dikenal.<br>Tingkatan Hadis Munkar<br>Berdasarkan dari dua definisi mengenai hadis munkar di atas, hadis munkar tergolong ke dalam jenis hadis _dha&#8217;if jiddan_ (sangat lemah), sebab lemah periwayatannya karena terjangkit sifat kekeliruan yang parah, kebanyakan lupa, dan fasik. Sebab kedha&#8217;ifannya juga karena bertentangan dengan riwayat yang lebih tsiqah. Keduanya sama-sama lemah. Hal tersebut telah kita singgung pada pasal pembahasan hadis matruk, di mana ia (hadis munkar) tingkatannya setelah hadis matruk.<br><br>\ud83d\udcda Daftar Pustaka <br>DR. Mahmud Ath-Thahhan Taysir Musthalah Hadis (Riyadh: Maktabah Al Ma\u2019arif Li An Nasyir wa At Tawzi\u2019, 2004)<br>Mana\u2019 Al- Qathan, Mabahits fii Ulumil Hadis (Mesir: Maktabah Wahbah, 2011)<br><br>\u2550\u2550\u2550\u2550 \u2741&nbsp; \u2741 \u2550\u2550\u2550\u2550<br><br>Follow us<br>\u2022Instagram : https:\/\/www.instagram.com\/fahimna.red?igsh=emFlaTN0eDl5dHM4<br>\u2022Telegram : https:\/\/t.me\/fahminachannel<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\u270d\ud83c\udffc Penulis: Fadhila Salma Nuzula \u27a1\ufe0f Definisi Hadis Munkar\u25cf Secara bahasa hadis munkar adalah isim maf\u2019ul dari al-inkar (pengingkaran) yang merupakan lawan kata dari al-iqrar (persetujuan)\u25cf Secara istilah hadis munkar memiliki dua definisi yang paling populer:Hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang kekeliruannya sangat parah, banyak lupa, dan tampak kefasikannya.Hadis yang diriwayatkan oleh perawi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-163","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-musthalah-hadis"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":505,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=505","url_meta":{"origin":163,"position":0},"title":"Mengenal Hadis Sy\u0101dz dan Mahf\u016bz","author":"fahimna","date":"10 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Di tengah maraknya kajian hadis\u2014baik di ruang akademik maupun media digital\u2014tidak sedikit yang mengira bahwa keberadaan sanad sudah cukup untuk memastikan validitas sebuah riwayat. Padahal, tradisi keilmuan Islam menuntut kehati-hatian yang jauh lebih ketat. Para ulama hadis tidak hanya meneliti sanad secara terpisah, tetapi juga membandingkan satu riwayat dengan riwayat\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1640.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":455,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=455","url_meta":{"origin":163,"position":1},"title":"Mengenal Hadis Mudallas: Bagian Pertama","author":"fahimna","date":"9 Februari 2026","format":false,"excerpt":"Dalam studi ilmu hadis, istilah\u00a0tadlis\u00a0sering disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas sebuah riwayat. Hadis yang mengalami\u00a0tadlis\u00a0disebut hadis\u00a0mudallas. Memahami istilah ini membantu kita mengetahui bagaimana sebuah sanad bisa tampak baik, padahal sebenarnya ada unsur yang disembunyikan. Di era sekarang, hadis menyebar sangat cepat, sering kali tanpa proses pengecekan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/img_1332.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":488,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=488","url_meta":{"origin":163,"position":2},"title":"Memahami As-Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam","author":"fahimna","date":"13 April 2026","format":false,"excerpt":"Syariat dalam agama Islam bukan sekedar kumpulan perintah dan larangan tanpa dasar yang bisa dijalankan sesuka hati. Ia dibangun di atas pedoman yang kokoh, dimana penetapan hukumnya senantiasa bertumpu pada dalil yang sah. Setelah pada artikel sebelumnya dibahas Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum utama, maka Sunnah Nabi \ufdfa menempati posisi yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ushul Fikih&quot;","block_context":{"text":"Ushul Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=30"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/img_1488.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":546,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=546","url_meta":{"origin":163,"position":3},"title":"KHABAR AHAD 10","author":"fahimna","date":"3 Juli 2022","format":false,"excerpt":"\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645 \u0627\u0644\u062d\u0645\u062f \u0644\u0644\u0647 \u0631\u0628 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645\u064a\u0646\u060c \u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0634\u0631\u0641 \u0627\u0644\u0623\u0646\u0628\u064a\u0627\u0621 \u0648\u0627\u0644\u0645\u0631\u0633\u0644\u064a\u0646\u060c \u0648\u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0648\u0635\u062d\u0628\u0647 \u0623\u062c\u0645\u0639\u064a\u0646\u060c \u0623\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang kitab-kitab yang di dalamnya memuat hadis hasan, pada kesempatan kali ini insyaallah akan membahas perbedaan manhaj Abu Daud dan Imam Muslim dalam menyeleksi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":167,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=167","url_meta":{"origin":163,"position":4},"title":"Hadis Masyhur","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83c\udf40 Penulis: Fadhila Salma Nuzula \ud83e\udeb4Definisi Hadis Masyhur: Menurut bahasa: Adalah isim maf\u2019ul dari syahartu al-amr, yang bermakna aku mengumumkan dan aku menampakkan suatu perkara. Dan dinamakan seperti itu karena penampakannya yang jelas. Menurut istilah: Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih dalam setiap tingkatannya, asalkan tidak mencapai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":542,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=542","url_meta":{"origin":163,"position":5},"title":"Khabar Ahad 4","author":"fahimna","date":"30 Januari 2022","format":false,"excerpt":"\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645 \u0627\u0644\u062d\u0645\u062f \u0644\u0644\u0647 \u0631\u0628 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645\u064a\u0646\u060c \u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0634\u0631\u0641 \u0627\u0644\u0623\u0646\u0628\u064a\u0627\u0621 \u0648\u0627\u0644\u0645\u0631\u0633\u0644\u064a\u0646\u060c \u0648\u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0648\u0635\u062d\u0628\u0647 \u0623\u062c\u0645\u0639\u064a\u0646\u060c \u0623\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas seputar Kitab-Kitab Populer Seputar Hadis Sahih. Pada kesempatan kali ini insya Allah akan membahas kelanjutan dari pembagian hadits maqbul yaitu Hadis Hasan. Definisi dari\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/163","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=163"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/163\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":360,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/163\/revisions\/360"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=163"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=163"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=163"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}