{"id":126,"date":"2025-09-28T22:50:29","date_gmt":"2025-09-28T15:50:29","guid":{"rendered":"http:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=126"},"modified":"2025-12-08T12:00:10","modified_gmt":"2025-12-08T05:00:10","slug":"batalkah-wudu-seseorang-yang-menyentuh-kemaluannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=126","title":{"rendered":"Batalkah Wudu Seseorang yang Menyentuh Kemaluannya?"},"content":{"rendered":"<span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u270d\ud83c\udffc Penulis: Ismi Maulida Khusna<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"640\" src=\"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-125\" srcset=\"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat.jpg 640w, https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat-300x300.jpg 300w, https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mycannat-150x150.jpg 150w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernahkah Anda bertanya-tanya, seberapa jauhkah batas kesucian dalam ibadah? Hal hal sederhana seperti memegang kemaluan, apakah bisa membatalkan wudu yang telah kita sempurnakan? Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di benak kita. Ada yang mengatakan, menyentuh kemaluan langsung membatalkan wudu. Namun, ada pula pendapat yang berbeda. Lantas, mana yang benar?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2744\ufe0fPerbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini seringkali menjadi perdebatan hangat. Mari kita simak penjelasan mendalam mengenai hukum menyentuh kemaluan setelah berwudu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2728Penjelasan Makna Hadis<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di antara dalil mengenai hukum permasalahan menyentuh kemaluan setelah berwudu adalah hadis dari Tholq bin \u2018Ali bahwasanya ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam kemudian bertanya,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00ab\u0645\u064e\u0633\u0650\u0633\u0652\u062a\u064f \u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u0650\u064a\u060c \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062c\u064f\u0644\u064f \u064a\u064e\u0645\u064e\u0633\u064f\u0651 \u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u064e\u0647\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0644\u064e\u0627\u0629\u0650\u060c \u0623\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0648\u064f\u0636\u064f\u0648\u0621\u064c\u061f \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u0650\u064a\u064f\u0651 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645: \u0644\u064e\u0627\u060c \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627 \u0647\u064f\u0648\u064e \u0628\u064e\u0636\u0652\u0639\u064e\u0629\u064c \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064e\u00bb<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAku menyentuh kemaluan ku.\u201d Dia berkata, \u201cSeseorang yang menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah dia harus berwudu? Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda, \u201cTidak, kemaluanmu itu adalah bagian dari dirimu.\u201d (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Daruquthni)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hadis ini menjelaskan bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudu karena Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menggambarkannya sebagai bagian dari tubuh manusia, seperti menyentuh telinga atau tangan dan sebagainya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam hadis lain disebutkan dari Busroh binti Shafwan radhiallahu \u2018anha bahwasanya Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00ab\u200c\u0645\u064e\u0646\u0652 \u200c\u0645\u064e\u0633\u0651 \u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u064e\u0647\u064f \u0641\u064e\u0644\u0652\u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u0623\u0652\u00bb<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBarangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudu.\u201d (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hadis ini menjelaskan bahwa menyentuh kemaluan, baik laki-laki maupun perempuan, akan membatalkan wudu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u270d\ud83c\udffcPerbedaan Pendapat Ulama<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua hadis di atas, apabila dilihat secara jelas maka saling bertentangan. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memegang kemaluan setelah berwudu, apakah membatalkan wudu atau tidak. Berikut penjelasan dari perbedaan pendapat para ulama:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25cf Mazhab Hanafi dan sebagian Maliki berpendapat bahwa memegang kemaluan tidak membatalkan wudu karena kemaluan sama halnya dengan anggota tubuh yang lain apabila dipegang tidak membatalkan wudu. Mereka berdalil dengan hadis Tholq bin \u2018Ali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mazhab Syafii, Maliki, dan Ahmad berpendapat bahwa memegang kemaluan membatalkan wudu. Mereka berdalil dengan hadis Busroh bin Shafwan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para ahli ilmu mengambil tiga metode untuk menghilangkan pertentangan antara kedua hadis di atas. Beberapa metode yang diambil yaitu metode naskh, tarjih, dan jama\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1\ufe0f\u20e3Metode Naskh (Penghapusan Dalil)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para ulama seperti Ibn Hibban, at-Tabrani, Ibn Arabi, al-Hazmi, al-Baihaqi, dan Ibn Hazmdi berpendapat bahwa hadis yang membolehkan tidak berwudu setelah menyentuh kemaluan (diriwayatkan oleh Tholq bin Ali) telah dinaskh-kan (digantikan) oleh hadis yang mewajibkan berwudu setelah menyentuh kemaluan (diriwayatkan oleh Basrah). Alasan utama mereka adalah perbedaan waktu dalam penyampaian kedua hadits tersebut. Mereka berpendapat bahwa hadis yang lebih awal (diriwayatkan oleh Tholq bin Ali) tidak lagi berlaku karena adanya hadis yang lebih akhir (diriwayatkan oleh Basrah) yang menggantikannya. Jadi, hukum yang berlaku adalah batalnya berwudu setelah menyentuh kemaluan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibn Hazm memperkuat pendapat ini dengan menafsirkan hadis Rasulullah \ufdfa tentang kemaluan sebagai bagian dari tubuh. Beliau berpendapat bahwa pernyataan ini ditujukan sebelum adanya perintah berwudu, maka kemaluan dianggap biasa saja seperti anggota tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2\ufe0f\u20e3Metode Tarjih (Penguatan Dalil)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><span class=\"span-reading-time rt-reading-time\" style=\"display: block;\"><span class=\"rt-label rt-prefix\">Reading Time: <\/span> <span class=\"rt-time\"> 2<\/span> <span class=\"rt-label rt-postfix\">minutes<\/span><\/span>\u270d\ud83c\udffc Penulis: Ismi Maulida Khusna Pernahkah Anda bertanya-tanya, seberapa jauhkah batas kesucian dalam ibadah? Hal hal sederhana seperti memegang kemaluan, apakah bisa membatalkan wudu yang telah kita sempurnakan? Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di benak kita. Ada yang mengatakan, menyentuh kemaluan langsung membatalkan wudu. Namun, ada pula pendapat yang berbeda. Lantas, mana yang benar? \u2744\ufe0fPerbedaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-126","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-hadis-ahkam"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack-related-posts":[{"id":171,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=171","url_meta":{"origin":126,"position":0},"title":"Haruskah Wudu Setelah Berbekam?","author":"fahimna","date":"3 Oktober 2025","format":false,"excerpt":"\ud83e\udeb4Oleh: Wahyu Griza Septi Nuraini Bekam merupakan sunnah yang Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam pernah melakukannya. Manfaat bekam sangat baik untuk kesehatan salah satunya dapat menghilangkan racun dalam tubuh, meredakan sakit kepala, dan menjaga stamina tubuh. Ada empat jenis bekam yaiu: Pertama, bekam kering menggunakan cangkir di titik akupuntur dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Hadis Ahkam&quot;","block_context":{"text":"Hadis Ahkam","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=17"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/download6672415518801461705.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x"},"classes":[]},{"id":264,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=264","url_meta":{"origin":126,"position":1},"title":"Darah Haid, Nifas, atau Istihadhah. Jangan Salah!","author":"fahimna","date":"3 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Pembahasan mengenai darah yang keluar dari rahim wanita menempati posisi penting dalam fikih Islam karena berkaitan langsung dengan hukum-hukum ibadah seperti salat, puasa, dan hubungan suami istri. Dalam syariat, darah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu haid, nifas, dan istihadhah. Ibnu Rusyd dalam (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid)\u00a0menjelaskan ketiganya\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1207.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":417,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=417","url_meta":{"origin":126,"position":2},"title":"Muthlaq dan Muqayyad","author":"fahimna","date":"20 Desember 2025","format":false,"excerpt":"Definisi Muthlaq Muthlaq adalah lafaz yang menunjukkan satu hal tanpa syarat atau batasan apapun, menyebut sesuatu secara umum, tidak dijelaskan jenisnya, sifatnya, atau kriterianya. \u2022 Muthlaq biasanya berupa kata nakirah. Apa itu nakirah? Nakirah adalah kata yang tidak menunjukkan sesuatu tertentu (tidak spesifik). Ia menunjukkan sesuatu yang umum, belum ditentukan,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Ulumul Quran&quot;","block_context":{"text":"Ulumul Quran","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=29"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/img_1236.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":518,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=518","url_meta":{"origin":126,"position":3},"title":"Bolehkah Mengulang Salat karena Ragu Sah atau Tidak?","author":"fahimna","date":"22 Mei 2026","format":false,"excerpt":"Salat merupakan salah satu rukun Islam yang paling utama. Ibadah ini dilakukan lima kali sehari dan menjadi tolok ukur ketaatan seorang muslim. Sah atau tidaknya salat ditentukan oleh terpenuhinya syarat dan rukun. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang merasa ragu: apakah salat yang telah dilakukan sudah sah atau belum?\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Fikih&quot;","block_context":{"text":"Fikih","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=18"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1645-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1645-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1645-1.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1645-1.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fahimna.stdiis.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/img_1645-1.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":542,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=542","url_meta":{"origin":126,"position":4},"title":"Khabar Ahad 4","author":"fahimna","date":"30 Januari 2022","format":false,"excerpt":"\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645 \u0627\u0644\u062d\u0645\u062f \u0644\u0644\u0647 \u0631\u0628 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645\u064a\u0646\u060c \u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0634\u0631\u0641 \u0627\u0644\u0623\u0646\u0628\u064a\u0627\u0621 \u0648\u0627\u0644\u0645\u0631\u0633\u0644\u064a\u0646\u060c \u0648\u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0648\u0635\u062d\u0628\u0647 \u0623\u062c\u0645\u0639\u064a\u0646\u060c \u0623\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas seputar Kitab-Kitab Populer Seputar Hadis Sahih. Pada kesempatan kali ini insya Allah akan membahas kelanjutan dari pembagian hadits maqbul yaitu Hadis Hasan. Definisi dari\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":546,"url":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?p=546","url_meta":{"origin":126,"position":5},"title":"KHABAR AHAD 10","author":"fahimna","date":"3 Juli 2022","format":false,"excerpt":"\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645 \u0627\u0644\u062d\u0645\u062f \u0644\u0644\u0647 \u0631\u0628 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645\u064a\u0646\u060c \u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0634\u0631\u0641 \u0627\u0644\u0623\u0646\u0628\u064a\u0627\u0621 \u0648\u0627\u0644\u0645\u0631\u0633\u0644\u064a\u0646\u060c \u0648\u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0648\u0635\u062d\u0628\u0647 \u0623\u062c\u0645\u0639\u064a\u0646\u060c \u0623\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang kitab-kitab yang di dalamnya memuat hadis hasan, pada kesempatan kali ini insyaallah akan membahas perbedaan manhaj Abu Daud dan Imam Muslim dalam menyeleksi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Musthalah Hadis&quot;","block_context":{"text":"Musthalah Hadis","link":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/?cat=19"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/126","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=126"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/126\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":214,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/126\/revisions\/214"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=126"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=126"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahimna.stdiis.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=126"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}